
"Ya Allah… pantesan Ridah sangat marah sampai-sampai mengeluarkan tinjunya untuk menghajar Erga," tukasnya Rasmi.
Hahahaha…
Suara gelak tawa dari Ersam membuat Rasmi terkejut sekaligus keheranan melihat reaksi dan sikap suaminya itu. Rasmi segera merebut hp itu dari dalam genggaman tangannya Ersam.
Matanya melotot saking kagetnya melihat apa yang terjadi antara Erga dan Ridah. Rasmi menutup matanya ketika Erga dengan gagah beraninya men cii uum bibirnya Ridah yang masih belum tersentuh oleh siapapun itu.
Ersam Arsenio Dewantara segera menyalakan stok kontak mobilnya menuju salah satu rumah sakit ternama di ibu kota Jakarta khusus ibu hamil.
Ersam sesekali melirik ke arah istrinya yang bersandar di pundaknya itu," sayang gimana kalau kita jodohkan saja mereka berdua, gimana menurut kamu?"
Rasmi mengarahkan pandangannya ke arah Ersam suaminya," itu ide yang bagus banget Abang menurut aku, karena Ridah juga sudah cukup umur untuk menikah sedangkan Pak Erga juga seumuran dengan Ridah jadi kalau menurut aku menjodohkan keduanya adalah jalan yang cukup bagus dan menurut aku brilian banget," timpalnya Rasmi Wulandari Nasution.
"Tapi,kalau seperti ini agak susah untuk mendekatkan mereka kembali, karena kejadian itu pasti sangat membuat Ridah kecewa dan tentunya sangat marah," tukasnya Ersam.
Mobil mereka perlahan dengan laju mobilnya yang sedang saja, karena sore itu cukup padat oleh pengendara mobil yang berlalu lalang di jalan raya yang dilalui oleh mobilnya yang dikendarai Ersam.
Hpnya Rasmi berdering hingga membuat percakapan keduanya harus terhenti. Ersam melirik sekilas ke arah layar hpnya Rasmi.
"Angkat dong sayang, siapa tahu telponnya penting," pintanya Ersam.
"Enggak tahu juga nih Abang siapa yang nelpon soalnya nomor baru, aku paling malas angkat telpon dari nomor telpon yang tidak aku kenal," pungkas Rasmi.
__ADS_1
"Angkat saja kalaupun penelpon gak jelas, kamu tinggal blok saja, gampang kan,"
Rasmi segera mengangkat telponnya itu dengan meminta ijin pada suaminya terlebih dahulu, Ersam menganggukkan kepalanya itu.
"Assalamualaikum,"
Ersam memberikan kode agar Rasmi mengeraskan volume suara hpnya hingga mengaktifkan loud speaker aktif. Rasmi tanpa banyak pikir segera melakukan perintah dari suaminya itu.
"Waalaikum salam, Rasmi ini Mbak Renata, aku enggak gangguin pekerjaanmu kan?" Tanyanya Renata dari balik telpon.
Rasmi kembali menatap kearah suaminya Ersam," sama sekali tidak kok Mbak, kebetulan saya lagi ggak kerja juga sih, kenapa emang Mbak?"
"Apa kamu bisa datang gak di rumahku entar malam, soalnya aku sudah belajar masak makanan yang pernah kamu ajarkan, rencananya aku pengen kamu dan Mas Erick yang menjadi orang yang pertama mencicipi masakan buatan aku sendiri," pinta Renata.
"Gimana Abang,apa saya bisa ke sana memenuhi undangannya Mbak Renata?" Tanyanya Rasmi dengan penuh harap.
Ersam tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari istrinya itu.
"Yes!" Gumamnya Rasmi.
"Halo, Ras kau masih dengar aku enggak?"
"Iya Mbak, insya Allah… ba'da shalat magrib kami eehh maksudnya saya akan otewe berangkat ke rumahnya Mbak, jadi jangan khawatir aku pasti akan datang," imbuh Rasmi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau gitu aku matiin telponnya, makasih banyak Rasmi kamu memang adik ipar ku yang paling ngerti dengan kondisiku dalam keadaan apapun itu," ujarnya Renata.
"Ya Allah… santai saja lah Mbak kalau masalah hal ringan seperti itu insya Allah dengan senang hati akan aku lakukan yang paling penting Mbak bahagia dan calon ponakan aku baik-baik saja, Itu lebih dari cukup kok,"
Ersam menggenggam tangannya Rasmi dan sesekali mengecupnya, walaupun tangan kanannya masih setia di atas kemudi mobilnya itu.
"Kalau gitu aku tutup dulu, assalamualaikum see you next time cantik, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, see you too Mbak."
Mereka segera mengakhiri sambungan telepon yang berhasil mengambil keputusan untuk bertemu hingga mereka makan malam bareng di kediamannya Erick Aryanta Dewantara.
"Kakak ipar baik yah Abang, Alhamdulillah dia sudah hamil padahal hampir enam tahun penantian panjang keduanya itu dan Mbak Rasmi sudah hamil jalan lima bulan," jelasnya Rasmi.
"Apa yang kamu katakan sangat betul sekali, Mbak Renata memang istri dan sekaligus teman yang baik, tidak munafik dan sombong seperti anak orang kaya lainnya." Ungkapnya Ersam.
"Aku setuju dengan apa yang Abang katakan, tapi ngomong-ngomong apa buah tangan yang akan harus kita berikan, karena enggak mungkin aku juga pergi bertamu ke rumahnya ipar dan saudaranya suamiku dengan tangan kosong belaka," ungkap Rasmi.
"Masya Allah… mulia banget hatinya istriku ini,kalau seperti ini aku sangat bahagia mendengar perkataan dari kamu sayang, dan aku tidak salah menikahimu dan menjadikan kamu sebagai pendamping hidup dan calon dari ibu anak-anakku."
"Tapi, Abang apa benar Abang mencintai saya dengan tulus karena kenapa banyak orang yang merasa Abang hanya kasihan padaku, sehingga rela menikahiku dalam keadaan seorang janda dengan berbagai macam spekulasi apapun itu," terang Rasmi dengan penuh kelembutan.
Ersam hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulutnya Rasmi," seiring dengan beriringnya waktu, insya Allah… cintaku pada kamu akan ketahuan dan apa aku ini hanya sekedar kasihan saja dan sebagai bukti pertanggungjawaban aku karena, aku sejak dulu sudah menyayangimu sejak kita masih duduk di bangku sekolah menengah atas," jelas Ersam dengan tatapan matanya yang penuh keseriusan.
__ADS_1