Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 44


__ADS_3

Pagi menjelang siang hari itu, mereka menyantap makanan mereka masing-masing sambil sesekali bercanda bareng.


" Renata kamu harus makan yang banyak, kau itu sedang hamil jadi butuh banyak nutrisi dan vitamin juga," ucapnya Rasmi sambil menuangkan beberapa makanan ke atas piringnya Renata sahabat sekaligus kakak iparnya yang tidak terduga itu.


"Makasih, tapi tanpa kamu ngomong seperti itu, aku pasti akan mengambil lagi makanan soalnya masakan kalian berdua sungguh memanjakan lidahku," timpalnya Renata yang mulutnya penuh dengan makanan.


"Renata siapa, apa hubungannya dengan Rasmi?"


"Insya Allah… kalau ada waktu aku pasti akan ajari, tapi hanya masakan kampung dan rumahan saja yang bisa aku masak apa kamu enggak merasa rugi apa?"


"Haha gak lah, kenapa meski rugi malahan Mas Erick lebih suka masakan khas rumahan saja dari pada masakan restoran,"


"Maaf, Kamu orang mana? Karena aku perhatikan dimana ada kakak ipar kamu selalu juga ada?!"


"Kakak ipar!?" Beonya Ridah.


Sedangkan Erga hanya menikmati makanannya dengan penuh hikmah tanpa banyak bicara, tapi tatapan matanya terus tertuju pada sosok gadis yang duduk bersila di depannya.


"Kenapa semakin aku perhatikan wajahnya Ridah semakin mirip dengan gadis sma waktu itu yang memberanikan diri menolongku, dan menantang derasnya arus sungai kala itu,"


Ridah yang tanpa sengaja melihat ke arahnya Erga tanpa sengaja tatapan mata mereka saling bertemu satu dengan yang lainnya. Hingga keduanya sama-sama berseri-seri dan salah tingkah serta grogi. Ridah yang berpamitan karena ingin ke toilet di manfaatkan oleh Erga Prayoga Yudistira dengan baik.


"Rasmi, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanyanya Erga yang tidak berani bertanya langsung kepada gadis yang sempat membuatnya terpesona itu.


Rasmi mengalihkan perhatiannya ke arah Erga adik ipar angkatnya itu dengan seulas senyumannya," bertanya, kalau boleh tahu kamu mau bertanya apa?"

__ADS_1


Erga segera memberanikan dirinya untuk bertanya,dia sesekali membuang nafasnya dengan cukup kasar.


"Kamu temannya perempuan tadi kan, ngomong-ngomong apa kalian satu kampung Maksud aku apa kamu teman satu kampungnya?" Tanya Erga dengan cukup tergesa-gesa tanpa ingin menunda lama lagi.


"Ohh Ridah kah yang kau Maksu" tanya balik ke arah Erga.


"Pasti gadis yang satunya,masa Erga bertanya tentang saya yang jelas-jelas kami saling kenal," celetuknya Renata.


Renata dan Rasmi tertawa terbahak-bahak membuat Erga jadi minder kembali.


"Benar sekali, kami itu temen satu kampung dan kebetulan Ridah temen sekolah aku sewaktu di kampung, emangnya ada apa sih, tumben kamu tanya-tanya tentang seorang gadis!?"


"Nama kampung kamu Xx dan di saat ada pesta yang diselenggarakan di kampungmu sekitar sepuluh tahun yang lalu, hari itu kalian menemukan pria yang hampir saja tidak selamat dari kuatnya arus sungai," terangnya Erga yang mulai serius.


"Benar sekali, kalau engga salah ingat waktu itu ada pria yang tenggelam di sungai ada yang bilang karena korban yang berusaha bunuh diri ada juga yang mengatakan kecebur karena, jalan yang dilaluinya itu cukup licin sehingga terjatuh ke dalam sungai," jelasnya Rasmi yang berusaha mengingat kejadian itu.


Rasmi yang menyadari kedatangannya Ridah segera mengalihkan perhatiannya ke arah Ridah yang baru saja datang dari arah dalam rumahnya.


"Itu orang yang telah berani menantang maut yang berusaha waktu itu menolong pria yang hampir saja meninggal dunia jika, ia tidak bergerak cepat menolong orang itu," Renata dan Erga mengalihkan perhatiannya ke arah kedatangan Ridah.


Erga cukup terkejut mendengar penuturan dari Rasmi, tapi ia juga sudah ada feeling dan curiga dengan Ridah.


"Apa yang terjadi pada kalian dan ada apa kenapa kalian menatapku dengan tatapan aneh seperti itu! Seolah aku telah berbuat salah!" Ketusnya Ridah dengan gaya bahasa cueknya itu.


"Tidak apa-apa kok, cuma Erga yang banyak bertanya yang pengen tahu kejadian beberapa tahun lalu di kampung saat kampung kita mengadakan pesta rakyat karena waktu itu melakukan panen raya yang cukup besar dan hasilnya sangat melimpah sehingga kepala desa meminta untuk mengadakan pesta," terang Rasmi.

__ADS_1


Ridah mengalihkan perhatiannya ke arah Erga," maaf kenapa emang Pak Erga?" Ridah mengerutkan keningnya itu kearahnya Erga.


Erga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dengan tiba-tiba," ehh itu a-nu i-tu tidak apa-apa kok cuma sekedar bertanya saja kok," kilahnya Erga yang tidak punya keberanian untuk melanjutkan pencariannya.


Bagi Erga yang paling penting sudah terjawab dengan baik apa yang selama beberapa tahun belakangan ini dia cari informasi itu yang jawabnya sangat susah. Erga tersenyum penuh arti melihat Ridah sedangkan Ridah mengerutkan kedua alisnya dengan tidak mengerti dari arti tatapannya Erga yang penuh dengan tanda tanya besar itu.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Erga kembali mengabadikan momen langka tersebut dengan kameranya. Beberapa hasil gambar jepretannya dan juga rekaman video yang sengaja ia ambil, kemudian dia diam-diam mengirimkan rekaman tersebut ke nomor hpnya Ersam Arsenio Dewantara.


Erga setelah mendengar perkataan dari Rasmi segera berpamitan dan buru-buru untuk pergi dari sana.


Rasmi cukup terkejut melihat reaksinya Erga," apa yang terjadi padanya?!"


Renata dan Ridah pun segera berpamitan kepada pemilik rumah. Mereka cipika cipiki sebelum meninggalkan rumahnya Rasmi.


"Mbak harus hati-hati Ingat kandungannya Mbak masih terbilang cukup muda baru jalan empat bulan juga, insya Allah minggu depan saya yang akan datang langsung ke rumahnya Mbak yang paling y siapkan semua bahan masakan yang Mbak pengen makan," ujarnya Risma.


"Makasih banyak Rasmi, semoga permasalahan dalam rumah tangga kamu segera teratasi dengan baik, tapi sedikit saran Mbak mohon berdamailah dengan masa lalu kalian berdua, kasihan dengan Ersam pergi entah kenapa sampai sekarang belum ada kabarnya dikitpun," Renata kemudian menaiki mobilnya.


Rasmi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari kakak iparnya itu. Rasmi menutup pintu pagar besi rumahnya yang bercat biru itu. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya itu.


Rasmi buru-buru menyeka air matanya itu dengan cepat," maaf untuk sementara waktu aku belum bisa melupakan kesalahan yang telah diperbuat oleh Abang Ersam walaupun, saya sangat mencintainya."


Renata ikut sedih melihat nasib malang rumah tangganya Rasmi adik ipar sekaligus teman baiknya itu.


"Kenapa Nenek Leny sudah tua juga masih memegang teguh yang namanya bibit bebet bobot seseorang, kalau menurut aku sih itu tergantung dari apa keduanya bahagia atau tidak itu sudah cukup bagiku," omelnya Renata.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Renata membuat supir pribadinya itu tersenyum simpul menanggapi perkataan dari mulut Nyonya mudanya.


__ADS_2