
Hatinya Rasmi sangat bahagia dan bersyukur karena ia diterima bekerja di perusahaan terbesar yang semakin maju di setiap tahunnya.
Rasmi juga mendudukkan bokongnya ke atas kursi khusus para pegawai," kamu balik ke kampung dengan tujuan apa, apa bibi dan paman baik-baik saja?"
"Syukur Alhamdulillah mereka dalam keadaan yang baik dan sehat walafiat kok, saya balik karena adikku nikah sehingga mau tidak mau aku pulkam," ungkapnya Ridah.
"Oh gitu," hanya itu yang mampu diucapkan oleh Rasmi dengan mulutnya membentuk huruf O besar itu.
"Aku sepertinya harus mengabarkan kabar gembira ini kepada Abang Ersam, kalau aku keterima di sini sebagai sekretaris," gumamnya Rasmi sebelum meninggalkan perusahaan tersebut dengan sepeda motornya.
Rasmi pulang ke rumahnya dengan perasaan yang tidak terkira gembira karena setelah tiga tahun lebih lamanya akhirnya ia bisa menikmati pekerjaan yang sejak dulu ia dambakan dan cita-citakan. Sejak menikah dengan Eko Prasetyo dia seolah dikekang dan dilarang untuk bekerja dan beraktifitas sendirian di luar, tapi ketika dia menikah dengan Ersam seakan-akan semua rasa itu hilang dan musnah terbang bersama angin lalu.
"Sepertinya enak kali merayakan kelulusan aku dengan memasak makanan kesukaan Abang, seingatku Abang menyukai ikan bakar dengan ayam goreng rica-rica, aku akan coba untuk masak makanan itu semoga Abang menyukainya berarti aku harus singgah ke supermarket terlebih dahulu kalau seperti ini lagian ada beberapa bumbu masakan yang stoknya habis," cicitnya Rasmi.
Berselang beberapa menit kemudian, Rasmi sudah berburu berbagai macam jenis masakan di swalayan yang barusan dia kunjungi. Sesampainya di rumah, hanya mengganti pakaiannya saja lalu langsung bertempur dengan berbagai macam jenis perabot masak di dapur minimalis miliknya itu.
Rasmi jika hanya seorang diri dia tidak akan memakai jilbabnya, hari itu ia hanya mencepol dengan asal rambutnya yang penting tidak menggangu kegiatan memasaknya.
"Sekarang sudah jam setengah enam, Abang Ersam pasti tidak lama lagi akan pulang," lirih Rasmi ketika melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya itu.
Rasmi kembali membuka lemari esnya tapi, tidak menemukan cabai dan tomat. Rasmi menepuk jidatnya sendiri karena baru tersadar dengan sesuatu hal yang sangat penting.
"Ya Allah… tomat dan cabai merah aku lupa belinya, tapi gimana kalau aku kebun mini dulu sempat sudah ada yang berbuah hitung-hitungan mengurangi pengeluaran dan juga terbebas dari pestisida."
Rasmi berjalan ke arah depan rumahnya sambil menggendong keranjang buahnya karena,ia akan memetik beberapa sayuran yang sempat ia tanam beberapa hari lalu sejak ia menginjakkan kakinya di dalam rumah itu.
Rasmi terpana dan takjub melihat tanaman buah dan sayurannya yang sudah berbuah itu.
__ADS_1
"Kalau seperti ini terus tiap minggunya hitung-hitungan hemat dan pasti pengeluaran bumbu masakan berkurang biayanya apalagi sekarang itu harga di pasaran semakin melambung dan melonjak naik tinggi harganya," cicitnya Rasmi yang mulai membungkuk sedikit tubuhnya agar lebih mudah menjangkau untuk memetik buah tersebut.
Berselang beberapa menit kemudian, Rasmi sudah kembali berkutat di depan meja dapur hingga menjelang adzan shalat magrib tiba.
"Sepertinya Abang Ersam belum pulang juga karena, aku belum dengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah," Rasmi kembali menikmati acara masak-memasaknya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam malam lewat sedikit. Rasmi segera merampungkan masakannya karena,dia akan melaksanakan shalat magrib tapi,ia akan mandi terlebih dahulu.
Tapi, Ersam belum pulang juga bahkan biasanya pria itu yang pulang lebih awal selama beberapa hari mereka menikah kali ini belum menunjukkan batang hidungnya.
"Saya shalat duluan saja deh, karena kalo nungguin Abang bisa-bisa waktu shalatnya habis lagi,"
Rasmi dengan khusyu dan penuh keyakinan menjalankan shalat lima waktunya dan kewajibannya sebagai umat muslim. Dalam keadaan apapun Rasmi selalu menyempatkan waktunya untuk melaksanakan shalat salah satu rukun Islam itu.
Setelah melaksanakan kewajibannya, Rasmi bergegas menuju kembali ke dapur. Ia kemudian menata masakannya ke dalam piring agar jika Ersam pulang nanti akan langsung menikmati makanannya tanpa harus menggangu kenyamanan istirahatnya.
Rasmi berjalan ke arah depan rumahnya dan menyibak tirai gorden jendela rumahnya. Ia sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan roda empat dan dua itu, tapi sedikitpun belum ada tanda-tanda Ersam Arsenio Dewantara akan pulang ke rumahnya.
Waktu terus berlalu, hingga pagi menjelang subuh Ersam belum pulang juga. Rasmi yang belum menyadari hal tersebut segera bangun dari tidurnya lalu bergegas ke kamar mandi karena ingin mengambil air wudhu terlebih dahulu.
Senandung sholawat badar dan juga beberapa ayat suci Alquran sudah didendangkannya di pagi buta itu. Gerakannya terhenti ketika mendengar suara adzan berkumandang dari beberapa toa masjid menggema memenuhi seluruh sudut kompleks perumahannya.
Rasmi menciumi kitab suci Al-Quran itu dengan penuh takjub lalu kemudian berdiri dari posisi duduknya untuk segera melakukan berbagai gerakan dalam shalatnya. Seperti itulah setiap hari rutinitas pagi hari yang dilakukan oleh Rasmi dalam keadaan apapun selama masih bernafas.
"Mungkin Abang Ersam pulangnya larut malam sehingga tidak membangunkan aku untuk melayaninya ketika makan,"
Kebiasaan Ersam jika berada di rumah, dia akan meminta kepada Rasmi Wulandari Nasution untuk menemaninya makan walaupun, Rasmi hanya sekedar duduk-duduk santai di dekatnya yang sedang menikmati makanannya.
__ADS_1
Rasmi membuka tudung saji itu dan terperangah melihat makanan yang sama sekali tidak berubah sedikitpun porsi jumlahnya di dalam piring ceper yang dipakainya. Raut wajahnya seketika Rasmi berubah drastis dari bahagia sekarang menjadi kecewa.
"Mungkin Abang sudah makan di kantornya jadi tidak sempat lagi untuk makan masakan buatanku ini, apa aku bangunin saja karena sudah pagi juga," lirih Rasmi yang bangkit dari duduknya yang berjalan ke arah depan tepatnya di bagian sudut kamarnya Ersam pria yang sudah mengikat ikrar janji suci pernikahan dengannya.
Tapi apa yang dia dapatkan, ketika memutar kenop pintu karena sudah berulang kali dan bahkan banyak kali mengetuk pintu tapi, tetap tidak ada jawaban dari pemilik kamar.
"Sebaiknya aku coba buka saja, kita lihat apa terkunci atau enggak,"l karena Abang juga kemanapun pasti bawa kunci rumah dan juga kamarnya,"
Rasmi memutar handel pintu, tapi ternyata sama sekali tidak terkunci. Raut wajahnya Rasmi keheranan karena tumbenan tidak terkunci padahal kamarnya Ersam selalu tertutup rapat dari dunia luar.
Rasmi segera membukanya dan keadaan kamar tidur yang hanya lampu tidur saja yang menyala, suasana dalam kamar itu remang-remang sehingga menyulitkan Rasmi untuk melihat kondisi keseluruhan dalam kamar itu.
"Ya Allah Abang ternyata sudah pulang tapi, mungkin sudah makan atau tidak sempat masuk ke dapur jadi enggak lihat masakanku," Rasmi berjalan ke arah ranjangnya Ersam karena melihat Ersam yang tertidur pulas.
Rasmi menggelengkan kepalanya melihat sepatu dan pakaian kerjanya Ersam masih seperti sedia kala ketika meninggalkan rumahnya tadi pagi, hanya saja dasinya sudah tidak terpasang rapi.
"Sudah tua juga tapi,gaya tidurnya masih seperti bocah belasan tahun saja," ketusnya Rasmi yang membantu Ersam melepas sepatu kerjanya.
Rasmi menyelimuti seluruh tubuhnya Ersam,lalu ia bekerja untuk keluar tapi, Rasmi dibuat terkejut ketika Ersam dengan sekuat tenaga menariknya hingga tubuhnya oleng dan terhuyung ke arah depan.
"Aaahhh!"teriaknya Rasmi yang sudah berada di dalam pelukannya Ersam Arsenio yang keadaan matanya terpejam.
"Kumohon jangan pergi tinggalkan aku Ras, aku mohon maafkanlah aku," gumamnya Ersam dalam tidurnya.
Kondisi Rasmi yang baring di atas tubuhnya Ersam membuatnya kelimpungan. Wajah mereka sangat dekat hingga hanya terkikis beberapa jarak centi meter saja. Deru nafasnya Ersam menghantam hidung mancungnya itu.
Rasmi refleks menyentuh hidung Ersam yang mancungnya seperti orang Eropa saja. Sentuhan lembut itu pindah dari hidung keatas yaitu tepatnya matanya yang memiliki bulu mata yang lentik seperti keturunan Arab.
__ADS_1
"Ya Allah… kenapa wajah ini kembali hadir memenuhi rongga pikiranku setiap sendi nadiku apa aku mulai kembali jatuh cinta kedalam pesona pria yang dulu sempat terukir namanya dengan indah di relung hatiku yang terdalam,"
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...