Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 59


__ADS_3

"Mbak Lena dan Mbak Sari tolong Mbak ke depan mobilnya Tuan Muda Ersam ada beberapa kotak kue yang berada di jok kursi belakang, tolong dibawa langsung ke sini yah jangan sampai hancur atau isinya berantakan," pintanya Rasmi.


Kedua asisten rumah tangganya Erick Aryanta Dewantara dengan Renata Annisa Kusnanto segera mengambil beberapa kotak paper bag kue yang tadi dibelinya sebelum semut mencium wanginya dari makanan itu.


Art tersebut berjalan dengan tergesa-gesa ke arah mobil. Mereka mengambil ada sekitar tujuh bungkusan yang masing-masing berisi kue kesukaannya Erick dan Renata.


"Ya ampun Rasmi, kenapa juga harus repot-repot untuk belinya, padahal tanpa kalian beli juga aku bahagia jika kalian datang dan kedatangan Ersam Arsenio Dewantara dari Seoul Korea Selatan sangat membuat kami bahagia," tukasnya Renata.


"Ya Allah… Mbak Ita cuma makanan yang murah karena hanya itu yang mampu kami berikan gak tau soalnya kue kesukaan kakak Erick dengan istrinya,* imbuhnya Rasmi.


"Thanks kalau seperti itu, saya sangat bahagia mendengar perkataan dari kalian, sejujurnya dari kemarin sih ada kue yang ingin aku makan, tapi enggak tahu apa nama kue itu dan kalau engga salah kue itu pernah aku lihat dan cicipi hanya sekali dirumahmu waktu aku sama Erga dan Ridah berkunjung tapi, sayangnya waktu itu yang tersisa hanya sepotong saja," jelasnya Renata yang berusaha untuk mengingat apa nama kue tersebut.


"Ohh itu yah Mbak, Alhamdulillah kebetulan kue itu ada di salah satu paper bag yang Mbak Sari Dewi dengan Mbak Lena Magdalena," ujarnya Rasmi.


"Serius! Aku berterima kasih padamu kalau gitu padahal kemarin ingin aku hubungi kamu tapi, selalu lupa untuk bertanya dan juga malu-malu entar dikira gimana gitu,"

__ADS_1


Acara makan malam kedua pasangan suami istri itu sudah selesai dengan kebahagiaan. Keduanya pun berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam dan juga Ersam tidak ingin Rasmi terlalu capek karena banyak beraktifitas di luar.


"Kami pamit dulu yah Mbak, assalamualaikum," Rasmi memeluk tubuh dari kakak iparnya dan juga berpamitan kepada Erick kakaknya Ersam Arsenio Dewantara suaminya dari Renata Annisa.


"Waalaikum salam, hati-hati yah, Ers ngemudi mobilnya tidak perlu dengan kecepatan tinggi tidak apa-apa pelan asalkan selamat sampai tujuan,"


"Insya Allah Mbak… Amin sekali lagi makasih banyak,"


"Sama-sama,"


Ersam segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup pelan, karena jalan yang mereka lalui cukup terbilang padat bahkan macet padahal sudah jam sembilan malam lewat.


"Abang itu hal wajarlah terjadi, apa Abang lupa kalau ada sebagian daerah yang terkena banjir sehingga mungkin mereka mencari jalan alternatif terbaik yang tidak ada genangan airnya." Timpalnya Rasmi Wulandari Nasution yang sebenarnya sudah kelelahan, tapi mau diapain jalan juga sudah seperti itu setiap harinya dan semakin diperparah dengan kondisi hujan yang turun setiap harinya dengan intensitas tinggi juga,"


"Benar sekali apa yang kamu katakan sayang, beda banget di Seoul, saya jarang sekali rasakan kemacetan, kapan Jakarta juga terlepas dari macet," Ersam mendengus kesal.

__ADS_1


Banyak juga pengendara mobil dan motor yang semrawut memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan sehingga ini juga semakin memperparah kondisi.


Hampir jam sebelas malam, mereka barulah sampai di rumahnya. Rasmi segera turun dari mobilnya tanpa menunggu Ersam terlebih dahulu, karena sudah tidak tahan ingini kek kamar kecil, tapi, langkahnya terhenti ketika melihat ada tulisan di atas gagang pintu rumahnya. Rasmi segera mengambil kertas itu dengan penuh penasaran.


"Kamu dan suamimu tidak akan pernah bahagia, karena aku akan menjadi orang yang akan mengacaukan kehidupan kalian!"


Rasmi segera berjalan ke arah sekeliling rumahnya," ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, mereka kira dengan ancaman seperti ini aku akan ketakutan dan lari kedalam dekapan hangat pelukannya Abang Ersam sambil meraung menangis tersedu-sedu, itu bukan ciri khasnya Rasmi kalau berani jangan main seperti ini," umpatnya Rasmi yang mengedarkan pandangannya itu


Ersam segera menutup pintunya dengan cepat, karena melihat istrinya marah-marah. Ersam segera memeluk tubuh Rasmi dengan erat.


"Sayang, Ingat kamu itu sedang hamil jangan emosi seperti ini, emangnya ada apa sih, apa yang membuat istriku marah-marah seperti ini,"


Rasmi segera memberikan kertas itu ke dalam genggaman tangannya Ersam," baca saja supaya Abang tahu apa yang terjadi," kesalnya Rasmi yang masih berada dalam pelukan suaminya itu.


Ersam segera membaca tulisan tersebut dia segera merogoh hpnya lalu menghubungi nomor hpnya Erga Prayoga Yudistira anak buah kepercayaannya sekaligus adik angkatnya itu.

__ADS_1


Setelah sambungan telepon terhubung," Erga tolong secepatnya retas cctv yang ada di rumahku, cepat jangan pakai lama aku tunggu malam ini juga hasilnya da dan Ingat saya tidak ingin mendengar kata gagal," tegasnya Ersam yang sangat marah karena lagi-lagi ada orang yang kurang kerjaan yang hatinya sempit ingin menganggu kebahagiaan dan ketenangan rumah tangganya.


Ersam meremas kertas itu hingga tak terbentuk seperti semula. Dari raut wajahnya sudah terpancar kebencian dan amarah yang membuncah.


__ADS_2