
"Ya Allah… ini anak kenapa gak ganti pakaian dulu baru tidur, tidurnya juga sudah magrib belum bangun," cicit Ersam dan akhirnya melihat betisnya Rasmi diperban.
Ersam sangat mencemaskan keadaan dari Rasmi dan segera menghubungi dokter pribadinya yang kebetulan adalah teman ibunya dulu. Raut wajahnya sangat terlihat jelas khawatir, panik,cemas dan ketakutan dalam waktu yang bersamaan.
"Kenapa kakinya bisa terluka, aku juga tidak lihat motornya," lirihnya Ersam.
Ersam segera bergegas berjalan ke arah lemarinya yang terdapat kotak p3knya.
"Kenapa itu anak sudah tua tapi, masih saja teledor dan ceroboh," gumamnya Ersam.
Rasmi masih dalam kondisi yang tertidur pulas, karena sebelum tertidur dia meminum obat dari dokter. Ersam segera berjongkok di hadapan Rasmi lalu membersihkan luka Istrinya kemudian mengoleskan cream obat tersebut.
"Apa kamu kira kamu terluka seperti ini aku tidak bakalan khawatir, emang dasar sikapmu masih tak berubah," ketusnya Ersam yang segera memperban lukanya Rasmi.
Berselang beberapa menit kemudian, Ersam telah berganti pakaian sehari-hari dan berjalan kembali ke arah kamar istrinya itu. Ia ingin memeriksa kondisi terakhir dari Rasmi.
"Sudah jam 10 malam tapi, masih saja molor dengan cantiknya, Ras kapan kamu bisa membuka hatimu untukku apa di dalam hatimu sama sekali sudah tidak ada namaku di sana, aku sangat mencintaimu tapi aku tidak mungkin memaksakan kehendakku padamu," batinnya Ersam seraya mencium keningnya Rasmi.
Ersam menurunkan dan mengurangi sedikit suhu ac dalam ruangan kamarnya Rasmi. Kemudian mengambil selimut baru untuk menutupi sebagian tubuhnya Rasmi.
Ersam sebelumnya mengganti pakaiannya Rasmi dan juga membasuh tubuh istrinya dengan air hangat. Apa yang dilakukan oleh Ersam sama sekali tidak membuat dan mengusik ketenangan istirahatnya dan tidurnya Rasmi Wulandari.
"Semoga saja besok aku pagi dia tidak terkejut melihat bajunya yang sudah terganti," cicitnya Ersam Arsenio Dewantara lalu berjalan ke arah keluar kamarnya Rasmi.
Walaupun mereka sudah resmi menjadi suami istri tapi, mereka belum juga berada dalam satu kamar. Apalagi untuk berhubungan suami istri yang lebih intim itu sudah jauh dari bayangan keduanya.
"Saya yakin suatu hari nanti kamu akan datang sendiri dalam pelukanku dan mengatakan aku cinta padamu Mas Ersam," Ersam membatin.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, ayam jantan berkokok lantang pertanda pagi sudah datang. Sinar matahari pagi hari itu sangat cerah. Ersam sudah terjaga dari tidurnya sebelum waktu shalat subuh. Dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk menggantikan pekerjaan Rasmi karena kondisi Rasmi yang sedang sakit.
Ersam memang terlahir dari keluarga mampu dan berada tetapi, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu Rasmi meringankan bebannya.
"Pekerjaan seperti ini saja aku sudah sering melakukannya, aku juga pernah hidup mandiri sewaktu kuliah di Inggris," gumam Ersam lalu segera mempercepat pekerjaannya karena masih ingin memasak makanan khusus untuk Rasmi pagi itu juga.
Ersam dengan telaten dan cekatan menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya. Mulai dari membersihkan beras hingga berasnya sudah berada di dalam rice cooker dan sekarang memulai untuk memotong ayam dan juga beberapa sayuran pelengkap.
"Sepertinya bubur ayam enak juga aku akan masakin Rasmi bubur ayam spesial buatanku yang penuh rasa cinta dan kasih sayang yang tulus dari dalam lubuk hatiku yang terdalam," cicit Ersam yang sudah memakai apron yang terpasang sangat pas dan cocok di tubuh atletisnya itu.
Siapapun yang melihatnya keterampilan yang dipertunjukkan oleh Ersam pasti akan mengetahui dengan jelas jika pris yang berusia 30 tahun itu sudah sering keluar masuk dapur dan memegang spatula dan pisau serta perlengkapan dapur lainnya.
Ersam mulai meracik bumbunya dan juga memotong daun bawang serta bawang merah dan putih. Peluh keringat bercucuran membasahi pipinya itu yang semakin bersinar terang terpantul terkena sinar cahaya lampu pagi buta itu.
Sedangkan Rasmi masih saja tertidur nyenyak, saking asyiknya tertidur bahkan ia menarik selimutnya yang sempat melorok hingga ke atas pahanya tanpa disadarinya itu.
Hanya butuh waktu yang singkat bubur ayam dengan toping bawang daun dan irisan bawang merah goreng dan tak lupa kerupuk udang dalam toples dan juga sambal terasi kesukaan Rasmi semakin menambah kelezatan dan kesempurnaan penampilan bubur hasil ciptaannya sendiri.
Ersam segera mengantar makanan itu ke dalam kamarnya Rasmi lengkap dengan semua pelengkapnya dan juga tak lupa secangkir teh hangat yang masih mengepul asapnya itu.
"Semoga saja kamu menyukai apa yang aku masak ini,"
Ersam bergegas untuk bersiap mandi karena ia akan berangkat kerja hari itu. Ersam juga menikmati semangkuk bubur hasil kreasinya sendiri.
Ersam segera menghubungi Erga untuk meminta segera menjemputnya karena mobil yang dia minta perlu diservis dengan baik terlebih dahulu. Ersam berjalan ke arah luar tepat depan rumahnya karena sudah ada Erga yang menunggu kedatangannya.
"Sepertinya hari ini suasana hati bos sedang baik,ada apa gerangan kah?"
__ADS_1
Erga segera menyalakan mesin mobilnya untuk segera berangkat ke arah perusahaan Papanya Ersam.
Ersam tersenyum penuh arti," aku mendapatkan bonus besar dan rezeki yang nomplok sehingga aku sangat bahagia, tapi entah kenapa aku perhatikan kamu semakin pintar dan mahir menebak perasaan dan hati seseorang nih rupanya," guraunya Ersam yang sudah membuka laptopnya.
"Hahaha, Bos bisa saja," balasnya Erga.
Erga menyetir mobilnya dengan cukup serius dan penuh hati-hati ia memikirkan tentang Rasmi kakak iparnya yang kemarin ia lihat sedang terluka dan sedang mendaftar untuk mencari pekerjaan di kantornya.
"Sebaiknya aku katakan nanti saja biarkan ia sendiri yang mengetahuinya langsung aku perlu berpura-pura tidak tahu saja," batinnya Erga adik angkatnya Ersam sekaligus anak buah kepercayaannya itu.
"Bagaimana dengan perkembangan semua pelamar pekerjaan di perusahaan Erga?" Tanyanya Ersam tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya yang sudah dia pangku.
"Alhamdulillah banyak sekali pendaftar dan mereka sangat antusias dengan apa yang kita lakukan itu," jawabnya Erga sambil melirik sekilas ke arah bosnya melalui kaca spion mobilnya itu.
"Baguslah kalau seperti itu, Ingat Carikan aku juga sekretaris yang handal dan pastinya cantik tapi saya tidak mau yang berpakaian seksi harus rapi dan elegan tidak boleh mempertontonkan auratnya," pintanya Ersam Arsenio Dewantara.
Erga tersenyum penuh maksud," kalau masalah itu aku sudah punya beberapa calon khusunya semoga mereka bisa memenuhi kriteria dari kamu saja,"
Ersam menghentikan kegiatannya sementara waktu lalu melihat ke arah layar hpnya itu.
"Mungkin istriku sudah bangun semoga saja makanan dan minumannya tidak keburu dingin," bathin Ersam.
Ersam kembali terbayang-bayang ketika mengganti pakaiannya Rasmi. Ia dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan begitu indah kemolekan tubuhnya Rasmi padahal sudah dua kali hamil. Bentuk tubuhnya Rasmi masih seperti anak remaja yang baru berusia dua puluh tahun dibandingkan usianya yang sudah dua puluh sembilan tahun.
"Aku hampir saja lepas kendali dan menerkamnya untung saja Erga segera menelponku tadi pagi jika tidak aku sudah meminta hakku pada Rasmi," batinnya yang langsung menggelengkan kepalanya saking malunya dengan apa yang sudah hampir ia perbuat waktu itu.
Erga tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh Ersam," maaf Abang, apa Abang baik-baik saja?" Tanyanya Erga yang mulai penasaran dengan apa yang terjadi kepada Ersam.
__ADS_1
Ersam tersentak terkejut mendengar perkataan dari mulutnya Erga," eehh a-ku ba-ik sa-ja kok," elaknya Ersam yang tergagap ketika berbicara.
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...