Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 67


__ADS_3

Kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya Marco Reus berubah setelah berusaha mencari keberadaan Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang sudah ia recoki dengan minuman yang sudah ia campurkan dengan obat peee raang sann sama sekali tidak ditemukan keberadaannya.


"Aahh!! Jangan!!" Teriaknya Ridah.


Tapi itu percuma saja karena otak dan pikirannya tidak selaras dan sejalan. Ridah lambat laun malah meminta lebih pada,apa yang dilakukan oleh Erga di atas tubuhnya itu. Keduanya sama-sama lupa daratan akibat dari pengaruh obat pee raang saan yang mereka minum.


"Sial! Dimana perempuan itu, tadi aku lihat ia berjalan ke arah sini tapi, kenapa bisa hilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun!" Geramnya Marco seraya menendang benda yang kebetulan berada di depannya.


Marco hendak ke ruang cctv untuk memeriksa,tapi upayanya terhenti ketika melihat Edi Prayogo berada di dalam ruangan itu.


"Breeeen gsekkkk! Kenapa dia tidak tertidur? Apae obat tidur yang aku berikan padanya dosisnya kurang?" Umpatnya Marco dibalik tembok yang berdiri mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Edi.


Edi sebenarnya tadi sempat tertidur,tapi karena beberapa rekan kerjanya yang lain segera memercikkan air ke matanya sehingga matanya melek dan terjaga sehingga obat tidur yang ia minum pengaruhnya hanya sebentar saja.


"Kalau gini usahaku gagal total, apa yang terjadi sebenarnya, padahal katanya Metty dia sudah mengatur semuanya dengan baik," kesalnya Marco Reus yang menggenggam kepalan tangannya dengan kuat hingga mampu meninju tembok untuk melampiaskan amarahnya dan kekesalannya.


Keesokan harinya, Erwin baru tersadar dari apa yang dilakukannya semalam. Ia membuka kelopak matanya itu dan mengerjapkannya berulang kali, hingga matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. Dia saking terkejutnya melihat seorang perempuan memeluknya dengan erat dalam keadaan tidak memakai buuu saaa naaa sedikitpun. Tidak ada kain benang yang menutupi seluruh tubuhnya itu.


Erwin mengerang keras ketika kepalanya berdenyut-denyut sakit," ya Allah… apa yang terjadi padaku, kenapa aku seperti ini!" Gumamnya.


Erwin segera membalikkan tubuhnya perempuan itu, kembali keheranan melihat sekujur tubuh dan tubuhnya perempuan itu dengan banyaknya tanda bercak merah keabu-abuan yang menempel ditubuh keduanya.


Erwin segera memeriksa bagian daerah sensitifnya itu dan kembali terkejut melihat si jago dengan beberapa bekas tanda yang pasti ia ketahui telah terjadi sesuatu padanya.

__ADS_1


"Semalam terakhir kalinya yang aku ingat, lampunya tiba-tiba padam lalu ada perempuan yang melompat ke atas pangkuanku, kepalaku juga pusing dan tubuhku terasa aneh hingga kami…," Erwin Aksa Mahmud tidak sanggup melanjutkan ucapannya itu.


Erwin seperti seorang perempuan yang sedang dianiaya tubuhnya. Erwin segera meraih pakaiannya yang berserakan itu dan menggendong tubuhnya Methy ke dalam ruangannya.


"Perempuan ini harus diamankan secepatnya sebelum terlambat dan ada karyawan lain yang melihat kami, reputasiku bisa hancur dan Mbak Ridah bisa murka padaku," cicitnya Erwin Aksa Mahmud yang ngos-ngosan menggendong tubuhnya Methy yang ia pakaikan pakaiannya dengan asal.


Erwin menidurkan tubuhnya Metty di dalam kantornya khusus asisten menejer keuangan. Erwin bekerja di perusahaan tersebut dengan status dan jabatan sebagai asistennya Ridah karena, kemampuannya sendiri.


"Kamu lanjut tidur di sini dulu," cicitnya.


Erwin hendak berdiri dari atas ranjang, tapi tangannya ditarik oleh Methy.


"Pak Erga mau kemana kenapa harus pergi, ayo kita lanjutkan lagi sayang yang seperti semalam," racaunya Metty Putri Meutia Hatta.


"Hey! Sadar woi sadar guwe bukan Pak Erga Prayoga Yudistira bangun dan buka matamu lebar-lebar!" Teriaknya Erwin Aksa Mahmud yang berusaha untuk membangunkan Methy.


Dengan usaha yang maksimal Erwin berhasil menyadarkan Methy dari pengaruh obatnya sendiri. Umpan yang dia berikan termakan oleh dirinya sendiri. Ini namanya senjata makan tuan yang salah sasaran.


Erwin memercikkan air diwajahnya Mety hingga tersadar dari pengaruh obat lucknut itu. Methy mengerang kesal karena, kesukaannya terganggu. Ia juga perlahan membuka matanya dan terbelalak melihat siapa pria yang berada tepat di atas tubuhnya.


"Aahh!! Apa yang kamu lakukan padaku!?" Pekiknya Methy yang meringsut mundur ke arah kepala ranjang yang seraya menutupi bagian daerah sensitifnya dengan kedua tangannya.


Erwin tersenyum penuh kelicikan,"saya yang seharusnya bertanya kepadamu, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang kamu campurkan ke dalam kopi yang kamu buatkan semalam haa!? Karena setelah meminum kopi buatanmu aku merasakan tubuhku kepanasan dan membutuhkan pelampiasan!" Tanyanya Erwin dengan tatapan matanya yang menghujam ke arah dalam bola matanya Metty wanita yang diam-diam ia sukai itu.

__ADS_1


Raut wajahnya Mety berubah panik, ketakutan dan keheranan bercampur menjadi satu bagian di dalam benak dan hatinya itu.


"Sa-ya ti-dak tahu apa-apa," jawabnya Methy yang berkilah untuk menutupi kenyataan yang ada.


Methy tidak menyangka jika rencananya gagal dan salah sasaran, untungnya saja tadi Erwin Aksa Mahmud yang melihat di atas lantai ada bercak darah segar di segera melapnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Jangan berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi, jangan sok polos dan sok jadi perempuan yang teraniaya karena disini akulah yang menjadi korbannya kamu telah merenggut per jaaa kaa ku!" Ketusnya Erwin.


Mety mengerutkan keningnya itu kearahnya Erwin," apa! Kamu bilang apa?! Memang aku sering berpakaian seksi dan terbuka kemanapun tapi, aku pastikan diriku masih pee raaa waan sebelum kamu merenggutnya dariku karena kesalahanku sendiri yang terlalu bodoh jadi jangan sok jadi korbanku, disini kita sama-sama rugi!" Kesalnya Mety yang sudah nampak kacau.


Mereka kemudian sama-sama merenungi kejadian yang sudah telanjur terjadi pada mereka.


Mety menatap nanar ke arah Erwin, "Aku mengaku salah, aku sebenarnya memasukkan obat kedalam minumannya Pak Erga tapi, entah kenapa kamu dan aku yang meminumnya sehingga ini terjadi pada kita berdua, jadi karena kita sama-sama rugi jadi tolong jangan diperpanjang masalah ini,kita impas dan aku mohon padamu tolong ke ruang cctv untuk menghapus jejak apa yang telah aku perbuat aku takut dipecat dari sini sedangkan bapakku butuh biaya pengobatan dan adikku masih kecil-kecil," pintanya Mety yang membujuk Erwin.


Inilah salah satu alasan mengapa Mety bertindak nekat untuk merencanakan semuanya,ia ingin mendapatkan suami yang mampu mengatasi masalah keuangannya.


Sedangkan di tempat lain masihdi dalam area perusahaan milik Ersam Arsenio Dewantara itu. Seorang perempuan menangis histeris meraung sejadi-jadinya setelah mendapati dirinya dalam keadaan tidak memakai pakaian apapun di tubuhnya.


"Aahhh tidak mungkin!! Ini tidak mungkin terjadi!?" Teriaknya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang melihat sekujur tubuhnya yang sudah seperti macan tutul.


Dia perempuan dewasa sudah pasti sangat mengetahui apa yang terjadi padanya dengan seorang pria yang tertidur tengkurap dengan bedcover menutupi sebagian tubuhnya itu.


Air matanya menetes membasahi pipinya itu saking sedihnya meratapi nasibnya malangnya yang sudah seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2