
"Apa yang kamu inginkan!?" Teriaknya Mety yang berusaha untuk membuka pintu mobilnya Erwin Aksa Mahmud.
Sedangkan sejak Nety keluar dari dalam klinik dan berpisah dengan Rasmi,ia terus diikuti dan dibuntuti oleh Erwin. Pria yang sama sekali tidak ingin bertanggung jawab menikahi Mety, tapi telah berjanji dan memutuskan untuk membiayai keseluruhan kebutuhan calon anaknya.
Metty berdiri di trotoar jalan menunggu busway, karena setiap hari ia berangkat kerja memakai jasa angkutan umum sejuta umat itu karena untuk menghemat biay. Mengingat ibu dan kedua adiknya sangat membutuhkan biaya setiap bulannya dan dia menjadi tulang punggung di keluarganya yang dari kampung.
"Aahh! Jangan!" Teriak Mety.
"Diamlah dan kamu cukup patuh menuruti apa yang akan aku lakukan," gertaknya Erwin yang segera mengemudikan mobilnya menuju ke jalan raya.
Metty yang berada di belakang dengan berat hati terpaksa menuruti perkataan dari Erwin karena mengingat kondisi kesehatan calon bayinya yang sedikit lemah gara-gara kebodohannya sendiri.
Erwin mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah mall terbesar yang tidak terlalu jauh dari perumahan miliknya. Metty Putri Meutia Hatta kaget melihat jalanan yang dilaluinya itu.
__ADS_1
"Ini kan arah jalan ke Mall, kenapa ia membawaku ke sini?" Cicitnya Mety yang kebingungan dengan situasi yang terjadi.
Berselang beberapa menit kemudian, merek sudah sampai di basement parkiran mall yang siang itu cukup ramai dikunjungi oleh pengunjung.
"Keluarlah, tapi jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu yang ditekuk dan jelek seperti itu, saya tidak suka kamu pakai makeup dulu agar kamu semakin cantik," pinta Erwin yang tidak secara langsung menguji kecantikannya Mety.
Methy tanpa banyak pikir segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Erwin. Dengan santainya memoles wajahnya dengan make up yang terbilang natural tapi, elegan. Metty memang memiliki kemampuan merias wajahnya terbilang lincah, telaten dan bagus. Hingga membuat jantung seorang pria yang masih anteng duduk dibalik kemudi mobilnya itu tersenyum bahagia.
Erwin memegangi dadanya yang berdebar kencang itu," kenapa dadaku seperti ini, aku tidak boleh semakin jatuh cinta dalam pesona kecantikannya itu, ini tidak boleh terjadi."
Apa yang terjadi pada Erwin membuatnya tidak mengetahui dan merasakan jika, Mety sudah berada di kursi depan mobilnya. Hingga ketika ia menoleh ke kiri betapa terkejutnya melihat wajahnya Mety yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Aah!" Teriaknya Erwin yang tersentak kaget.
__ADS_1
"Kenapa harus kaget seperti melihat hantu saja, emangnya wajahku jelek yeh sudah makai makeup?" Tanyanya Mety yang semakin memajukan wajahnya itu yang berniat untuk menggoda calon ayah biologis anaknya.
Erwin yang menatap intens ke arah bibirnya Mety yang sangat menggodanya itu, hingga ia lepas kontrol lagi. Tanpa aba-aba dan tak terduga Erwin menarik tengkuknya lehernya Mery hingga mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Tanpa ragu sedikitpun, ia mulai mee luuu maat bibir seksi yang sedikit berisi itu dengan rakusnya.
Mety pun mengalungkan tangannya ke lehernya pria yang perlahan sudah ia cintai itu. Ia pun membalas perlakuannya Erwin. Hingga keduanya saling bertukar saliva dan berbagi pasokan udara. Tapi, karena suara klakson sebuah mobil sehingga kegiatan mereka terusik dan terpaksa harus berakhir. Erwin tersenyum penuh kebahagiaan sambil menyeka sudut bibirnya Mety yang terdapat sisa saliva keduanya.
"Maaf aku buat berantakan lagi makeupmu ini," ujarnya Erwin yang jarinya masih berada di atas bibirnya Mety.
Mety mengalungkan tangannya ke lehernya Erwin," tidak apa-apa kok Abang, aku suka dan tidak mempermasalahkannya,"
Mety kemudian berbisik di telinganya Erwin," kita lanjutkan lagi nanti, Abang pilih dimana saja tempatnya karena hari ini Bu Rasmi mengijinkan daku untuk pulang ke rumah kontrakan, tapi kalau dirumahku sepertinya enggak bebas Abang," ucapnya dengan penuh sennn suaaaalll dan bernada manja.
Erwin bahagia mendengar Mety yang langsung berinisiatif sendiri," kalau gitu kita di perumahanku saja tapi,kita beli beberapa bahan kebutuhan dapurku karena stoknya habis kamu bersedia membantuku dan menemaniku belanja kan?" Harapnya Erwin yang kembali mengecup sekilas puncak bibirnya Mety yang tidak seperti sebelumnya.
__ADS_1