Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 49


__ADS_3

"Dok! Apa benar istriku hamil?" Tanyanya Ersam Arsenio Dewantara.


Alisya sangat tidak ingin mengucapkan perkataan seperti itu, tapi karena mengingat dia sebagai seorang dokter harus segera ia lakukan walaupun tidak ingin berniat melakukan hal tersebut.


Ridah pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan dan dialami oleh dokter Annisa," apa! Rasmi istrinya Pak Ersam Arsenio Dewantara pemilik perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini!" Ucapnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang sangat tidak terduga dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut CEO mereka langsung.


"Benar sekali, saya pria yang telah menikahi Rasmi sekitar kurang lebih empat bulan yang lalu, pernikahan kami belum sempat dipublikasikan di depan umum," ungkap Ersam dengan mantap.


"Benar sekali apa yang Tuan Ersam katakan, untuk lebih jelasnya silahkan periksakan dan konsultasi dengan dokter kandungan Pak," imbuhnya Alyssa Milano.


Ersam sangat bahagia karena mendengar kabar baik itu," ya Allah… ternyata cukup sekali melakukan hal itu dengannya cukup manjur juga dan tokcer, pasti Abang dan Papa sangat bahagia jika mengetahui salah satu anak menantunya ada lagi yang hamil," gumam Ersam.


"Selamat Abang kamu akan segera menjadi seorang ayah, semoga kakak ipar dan calon bayi kalian sehat selalu dan selamat hingga lahirannya,"


"Amin ya rabbal alamin," jawab mereka serentak.


"Kalau gitu saya permisi dulu Pak karena masih ada beberapa pasien yang harus saya tangani kesehatannya," pamitnya Alisa.

__ADS_1


"Makasih banyak bantuannya Dok," imbuhnya Erga seraya mengantar kepergian dokter muda itu yang selalu mencuri pandang dengan pria yang memakai jasanya bekerja di klinik perusahaannya.


Ridah duduk dh salah satu sofa yang ada dy dalam ruangan itu.


"Saya tidak menyangka jika Pak Ersam adalah suami keduanya Rasmi," tukasnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya.


Erga menatap ke arah Ridah untuk menghentikan beberapa spekulasi dan pernyataan yang akan memojokkan Ersam. Ridah sama sekali tidak menggubris tatapannya Erga, malah semakin melanjutkan perkataannya saja.


"Apa benar Tuan Ersam Arsenio Dewantara yang menjadi supir ugal-ugalan yang sedang mabuk sambil mengemudikan mobilnya hingga menabrak anak dan suaminya serta calon bayinya Rasmi?" Dengusnya Ridah.


Ridah malah semakin tertantang untuk berbicara hingga suara tawanya yang menggelar dan nyaring itu mampu membuat Rasmi terjaga dari tidurnya. Sedangkan Ersam hanya terdiam, tanpa ada niat untuk menyanggah ataupun melakukan perlawanan dan pembelaan diri terhadap apa yang dikatakan oleh Ridah. Karena semua yang dikatakan oleh Ridah benar adanya, jadi percuma saja melakukan pembelaan atas segala hinaan dan cercaan dari Ridah sahabat terbaiknya Rasmi.


Ersam segera mengeratkan genggaman tangannya itu kedalam genggaman tangannya Rasmi.


"Abang Ersam," cicitnya Rasmi.


"Iya sayang Abang ada disini, apa yang kamu rasakan? Apa kamu haus atau mau makan sesuatu mungkin?" Cercanya Ersam yang sangat mencemaskan keadaan dari istrinya itu.

__ADS_1


Rasmi menatap sendu ke arah suaminya itu, "Abang aku baik-baik saja kok, aku juga tidak ingin apa-apa selain Abang, aku minta jangan sekali-kali pernah meninggalkan aku seorang diri lagi Abang, Aku tidak akan bisa hidup tanpa Abang," rengeknya Rasmi yang membuat semua orang terperangah dan terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Rasmi.


Padahal Ersam sudah bersiap untuk dimaki, dipukul, dihina bahkan apa saja yang dilakukan oleh Rasmi ia akan terima keputusan dari istrinya asal bukan bercerai itu saja sudah cukup baginya.


Abang tidak akan pernah lagi pergi dari sisimu hingga maut memisahkan kita berdua, Abang sangat menderita setiap saat, setiap menit, detik,jam Abang selalu mengingat kamu tanpa henti hingga seolah nafasku sudah berada di ujung pangkal tenggorokanku," ratapnya Ersam.


Ridah memandang ke arah Erga agar keduanya pergi meninggalkan kamar perawatan Rasmi. Dan memberikan waktu untuk keduanya agar bisa saling berbagi dan menyalurkan rasa rindu yang hampir empat bulan mereka terpisah.


Erga berjalan ke arah luar kamar berbarengan dengan Ridah," Abang semoga dengan kehadiran bayi ini, hubungan Abang dengan kakak ipar akan menjadi penyatu cinta kalian berdua hingga kakek nenek dan memiliki banyak anak dan juga cucu yang ganteng seperti saya dan cantik seperti perempuan yang berada di sampingku," batinnya Erga.


"Pak Erga, apa enggak lapar?" Tanyanya Ridah yang duduk di salah satu kursi tunggu seraya mengelus perutnya yang berbunyi keroncongan.


"Lapar sih tapi, takutnya kakak ipar butuh sesuatu," tolaknya Erga.


"Pak Erga yang terhormat, suaminya kakak iparmu itu sedang ada bersamanya jadi, tidak akan butuh sesuatu lagi, apa lagi untuk merepotkanmu pasti Rasmi Wulandari Nasution tidak mungkin tega melakukan hal tersebut pada atasannya kecuali suaminya gak ada kemungkinan besarnya kamu akan jadi kurirnya,"


"Kalau gitu kita let's go ke kafe perusahaan yang terdekat saja, aku sudah lapar sangat soalnya,"

__ADS_1


__ADS_2