
"Kenapa Pak Erga mengingatkan aku pada pria yang mau bunuh diri beberapa tahun lalu yang sempat aku selamatkan itu yah?" Batinnya Ridah yang kembali teringat dengan pria yang diselamatkannya di dalam sungai yang dia menganggap jika pria itu mencoba berusaha untuk mengakhiri hidupnya dengan cara melompat kedalam sungai padahal itu adalah kecelakaan bahkan percobaan pembunuhan pada Ersam tapi,salah sasaran sehingga Erga yang menjadi korban kala itu.
"Maaf Pak Erga, saya tadi sedang memikirkan sahabat saya yang sedang sakit dan ia hanya seorang diri di rumahnya," jelasnya Ridah yang tidak berani menatap langsung ke wajahnya Erga yang sudah menatap balik wajahnya itu.
Erga memperhatikan dengan seksama perempuan yang berdiri di depannya itu, ia kembali teringat dengan perempuan beberapa tahun silam yang rela menolongnya ketika ia tenggelam di laut hanya saja gadis kala itu tidak memakai hijab.
"Kenapa wajah gadis itu terlintas dipelupuk mataku ketika aku menyelami ke dalam mata indah perempuan ini,"
Erga sama-sama terdiam dan menyelami rasa yang tiba-tiba menyeruak dan timbul dalam hatinya," senyumnya itu sangat mirip dengan gadis sma waktu itu, tapi perempuan ini memakai hijab sedangkan gadis penyelamatku rambutnya panjang dan agak tomboi sepertinya aku harus kembali menyelidiki siapa sebenarnya perempuan itu semoga pencarian aku kali ini membuahkan hasil yang maksimal."
"Hemm! Maaf Pak Erga apa ada sesuatu di wajahku mungkin seperti kotoran atau make up aku yang belepotan yah sehingga Bapak melihat aku seperti itu," ketusnya Ridah yang mulai keluar sifat judesnya lagi.
"Kamu jadi perempuan galak amat, siapa juga yang perhatiin wajah kamu yang standar dan pas-pasan itu, jangan terlalu geer jadi perempuan," dengusnya Erga yang langsung berjalan meninggalkan ruangan kerjanya Ridah.
Beberapa teman kerjanya Ridah saling berbisik-bisik dan berpandangan satu sama lainnya.
"Lihat Ridah cukup punya nyali juga yah sehingga dia berani sekali melawan dan beradu mulut dengan pak direktur kita," cibirnya dari beberapa perempuan yang kebetulan suka bergibah dan bergosip itu.
"Hemm! Apa kalian masih mau terima gaji full awal bulan enggak! Kalau masih mau stop bergosipnya mulai sekarang juga!" Sarkasnya Ridah yang kebetulan dia bekerja sebagai menejer pemasaran di perusahaannya Ersam Arsenio Dewantara.
Semua orang yang mendengar perkataan dan ultimatum dari Ridah segera bubar dan kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Awas saja Pak Erga kalau kita bertemu kembali aku akan membuat perhitungan denganmu pria bujang lapuk sok kegantengan," umpatnya Ridah yang dibikin kesal padahal sebelumnya dibuat khawatir dengan kondisinya kesehatannya Rasmi sahabat terbaiknya itu.
Sedangkan jauh dari tempat itu, Rasmi sedang menyantap sarapan paginya dengan penuh penghayatan dan keseriusan yang penuh dengan dramatis.
Rasmi menikmati sarapan paginya dengan penuh sukacita karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya makan masakan dari seorang pria. Almarhum suaminya yang dulu pun sangat menyayangi dan memanjakannya tapi, Eko Prasetyo sama sekali tidak pintar memasak masak mie instan saja tidak tahu. Apalagi harus masak makanan yang memakai bumbu yang banyak seperti bubur ayam yang sedang ia nikmati.
__ADS_1
"Lezatnya, Abang Ersam diam-diam ternyata jago masak juga yah, aku kira dia sama sekali tidak tahu apa-apa apalagi dia kan anak mama gitu," gumamnya Rasmi yang menghabiskan buburnya hingga tandas tak bersisa sedikitpun.
Hingga ia bersendawa saking nikmatnya dan lezatnya suguhan menu sarapan pagi buatan tangan suaminya sendiri.
"Kalau seperti ini terus setiap hari makan makanan yang lezat bisa-bisa bobot badanku naik," gumamnya sambil tertawa cekikikan menertawai dirinya sendiri.
Rasmi berusaha untuk bangkit dari duduknya, tapi usahanya sedikit terganggu dan terhambat karena kondisi kakinya yang masih terasa ngilu.
"Ternyata bukunya pria itu cukup tebal dan berat juga sampai-sampai kakiku dibuat sakit dan bengkak, laki-laki tapi bekerja dengan cukup ceroboh juga," kesalnya Rasmi sambil berdiri lalu berjalan tertatih ke arah dalam kamar mandi.
Tapi, baru beberapa langkah tanpa sengaja sudut ekor matanya melihat ada tongkat yang bersandar di dinding. Ia segera berjalan memutar arah.
"Alhamdulillah untung ada tongkat ini sehingga membantuku untuk berjalan, Abang Ersam emang suami yang siap jaga dan selalu tanggap darurat," cicitnya Rasmi yang kembali tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya sendiri.
Di dalam ruangan yang cukup besar dengan desain ala Eropa itu, duduklah seorang laki-laki dengan tubuh yang cukup ideal tinggi jangkung dan tegap. Punggungnya lebar dan ototnya agak terlihat kentara jelas dari balik kemeja biru dongkernya itu.
Dengan tatapan matanya yang tajam dan serius membaca dan memperhatikan satu persatu tulisan dalam lembaran kertas itu. Hingga bunyi pesan chat yang masuk ke dalam hpnya mampu mengalihkan perhatiannya seketika.
Foto itu tanpa sengaja ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan sang pemilik gambar. Ersam mencium foto itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Istriku kapan kamu datang padaku dan ngomong kalau aku sayang dan mencintaimu suamiku," lirihnya Ersam lali lalu kemudian membuka pesannya.
"Makasih banyak Abang atas sarapannya, saya sangat suka kalau bisa besok pengen dibuatkan sarapan lagi sama Abang," dengan caption gambar emoticon senyuman lebar.
Bipp..
Bunyi hpnya Ersam lagi padahal baru sedetik hp itu dia simpan di atas meja kerjanya. Dengan sigap dan lincah Ersam segera meraih hpnya yang bergetar dan berdering sekali itu.
__ADS_1
Wajahnya kembali sumringah tersenyum bahagia melihat siapa orang yang telah menggangu dan mengusik ketenangannya siang itu.
"Abang makasih yah tongkatnya untung ada ini benda kalau tidak aku tidak tahu gimana caranya aku berjalan," disertai dengan gambar dia berdiri sambil memakai tongkat pemberian dari Ersam suaminya yang baru beberapa hari resmi dan sah menikahinya itu.
Ersam berteriak kegirangan di dalam ruangan kerjanya saking bahagianya mendapatkan ucapan terima kasih dari perempuan yang sejak dulu ia sayangi sekaligus cinta pertamanya itu.
"Rasmi semoga dengan perlakuan kecil ini bisa mampu membuat kamu jatuh cinta padaku."
Untungnya saja ruang pribadinya Ersam kedap suara sehingga apapun yang dilakukannya saat itu juga tidak ada yang menyadari kelakuan absurnya yang seperti anak remaja labil saja padahal usianya sudah tiga puluh satu tahun dua bulan lagi.
Pak Dewantara selaku papanya bersyukur karena beberapa bulan ini, Ersam memperlihatkan perubahan yang cukup bagus dan signifikan sehingga membuatnya tersenyum bahagia.
"semoga kamu seperti ini Nak selalu bahagia dan tersenyum,tapi aku sebaiknya menyuruh seseorang untuk mencari tahu apa sebenarnya yang telah terjadi kepada anak bungsuku," bathin Pak Dewantara.
Erick dan istrinya mengunjungi kantor adiknya itu dengan senyuman penuh bahagia.
Erick berdehem untuk mencairkan suasana sekaligus mengalihkan perhatiannya Ersam, "Hem!"
Ersam tidak menyangka dan menduga jika kakaknya dan juga kakak iparnya sudah duduk dengan manis di atas sofa buludru cokelat yang terletak di sudut ruangan kantornya.
"Abang Erick apa sudah lama? kok bisa masuk padahal aku kunci pintunya," tanyanya Ersam yang berusaha untuk menutup rapat-rapat kebahagiaannya itu sembari segera mematikan layar hpnya yang juga salah tingkah seolah penjahat yang kedapatan melakukan kesalahan saja.
"Gimana enggak kami bisa masuk pintunya gak dikunci kok, emangnya kami ini makhluk halus yang bisa menerobos ke dalam ruangan tanpa melalui pintu apa," guraunya Erick.
Ersam melongok tidak percaya jika ia teledor melupakan mengunci pintunya.
"Ohh," jawabnya Ersam yang kembali ke mode cool dan wajah datarnya itu.
__ADS_1
"Ini anak pintar banget dalam sekejap mata mampu merubah ekspresi raut mimik wajahnya dari gembira dan sekarang datar seperti sedatar tembok saja," Erick membatin.
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...