
"Ridah saya mohon bantulah kami Nak, agar kami bisa bertemu dengan Rasmi keponakan saya," harapnya Bu Herna.
"Maafkan saya Bu, bukannya saya tidak ingin membantu ibu tapi, saya harus meminta ijin pada suaminya terlebih dahulu jangan sampai suaminya keberatan untuk menerima bibi apalagi selama ini suaminya itu tidak pernah bertemu sekalipun dengan saudara dari bapaknya yang sering berkomunikasi dengan Ridah adalah bibi adik dari almarhumah ibunya saja," Ungkap Ridah.
Erga sudah berpesan sebelumnya pada Ridah untuk tidak menjelaskan kepada siapapun tentang statusnya Ersam. Erga mewanti-wanti Ridah jika kelak ada yang bertanya tentang pekerjaan Ersam siapapun orangnya katakan pada mereka jika Abang Ersam kepala menejer di perusahaan bukan pemilik perusahaan.
"Baiklah kalau begitu ibu bisa ikut kami ke Jakarta untuk menemui Rasmi keponakannya ibu, tapi dengan satu catatan Ibu diterima atau tidak itu urusannya Rasmi dengan suaminya, karena saya tidak punya untuk memaksimalkan kehendak pada Mbak Rasmi, apalagi selama ini ibu sikapnya Rasmi bagaimana," ketusnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya.
Betapa bahagianya kedua anakmu Bu Herna dan Ibu Herna sendiri. Mereka sudah lama hidup terlunta-lunta ke sana kemari mencari tempat tinggal,tapi satupun orang tidak ada yang berbaik hati untuk menampung mereka berempat mengingat beberapa waktu lalu, sifat dan sikap mereka yang terbilang tidak pernah baik.
"Semoga setelah saya sampai di Jakarta saya bisa mendapatkan pria yang kaya raya bahkan mengalahkan pekerjaan suaminya Rasmi anak sial itu yang hanya menejer," batinnya Riska.
Risna tersenyum puas," aku ingin melihat bagaimana sih wajahnya dari suaminya Rasmi kalau ganteng akan saya goda dan rebut dari dalam pelukannya Rasmi, hidup ini tak adil jika dia punya keberuntungan yang bagus sedangkan saya mana ada pria yang melirik mengingat kami sudah jatuh miskin dan hidup melarat,"
Keesokan harinya, mereka semua sudah berangkat menuju ke Ibu kota Jakarta. Ridah bersama suaminya sedangkan keluarganya Rasmi menaiki mobil khusus untuk mereka berempat.
Betapa bahagia dan kegirangannya mereka ketika melihat kondisi ibu kota Jakarta yang selama ini belum pernah mereka lihat secara langsung. Mereka memang pernah terbilang kehidupan ekonomi mereka mampu tapi, sekalipun tidak pernah pergi ke Jakarta.
Ersam berjalan ke arah kamarnya karena berencana untuk melihat rumah yang akan mereka beli khusus untuk Erga Prayoga Yudistira dengan Ridah Khaerani Azizah Wijaya. Kado spesial kedua pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
Rasmi mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, "Sayang kita sebenarnya mau ke mana kok jalannya ke sini?" Tanyanya Rasmi Wulandari Nasution yang kebingungan melihat jalan yang dilaluinya itu.
"Kan katanya mau beliin rumah untuk Erga, pasti jalannya ke sini, kecuali kalau mau beli forniture berarti kita ke Mall," ujarnya Ersam.
"Iya juga yah," balasnya Rasmi dengan senyuman lebarnya.
Mereka sudah sampai didepan hunian yang cukup besar dan mewah. Sebuah rumah yang nantinya akan dipersembahkan khusus untuk Erga atas jasa-jasanya selama ini memajukan perusahaannya hingga bisa berdiri kokoh dan bersaing dengan perusahaan lainnya di tanah air.
Ersam seperti biasa jika dia bersama dengan istrinya maka, akan selalu membukakan pintu untuk istrinya, walaupun Rasmi juga selalu mencegah dan menolak suaminya untuk bersikap seperti itu padanya. Tapi, berulang kali juga, Ersam akan mengatakan padanya kalau cuma bukain pintu untuk istriku aku rela melakukannya agar istriku tidak merasa capek dan kelelahan.
Rasmi dan Ersam memilih beberapa macam dan model unit rumah dan akhirnya mereka sepakat untuk membeli rumah yang tidak terlalu terbilang besar tapi, cukup menampung mereka berdua dan beberapa anggota rumah lainnya.
Ersam berencana untuk memperlihatkan rumah yang sudah ia beli sekitar beberapa bulan yang lalu, tetapi kendalanya belum selesai direnovasi sesuai dengan rumah impian Rasmi selama ini yang sering Rasmi impikan dan ceritakan dengan suaminya jika mereka sedang berduaan. Sehingga rencana itu ditunda beberapa minggu lagi.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu sayang, kita langsung ke Mall untuk pilihkan perabotannya atau mungkin makan siang dulue," tuturnya Ersam.
"Kita makan dulu, perutku dan calon baby kita sepertinya sudah kelaparan butuh asupan makanan," Rasmi mengelus perutnya yang sedikit sudah nampak jika Rasmi berpakaian ketat.
"Siap istriku perintahmu adalah kehormatan untukku," ujar Ersam yang segera melajukan mobilnya menuju ke restoran favorit keduanya yang sering mereka datangi dan kunjungi selama mereka sudah menjadi pasangan suami istri.
__ADS_1
Suasana kembali hening, Rasmi menatap ke arah luar jendela mobil tapi isi pikirannya tertuju pada bibi dan sepupunya.
"Ya Allah… kenapa aku merasa tidak suka dengan rencana kedatangan bibi dan anaknya, serasa feelingku bakal akan banyak kejadian yang terjadi jika mereka datang, tapi aku berharap semoga mereka datang ke rumahku untuk merecoki kehidupanku dengan Abang jika hal itu terjadi aku tidak akan segan memberikan peringatan dan pelajaran bagi mereka, mungkin sebaiknya aku segera menghubungi Mbak Ridah untuk langsung membawa mereka ke rumah kos yang telah aku sewakan untuk mereka dan jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya di depanku," batinnya Rasmi.
Satu bulan kemudian…
Kandungan Rasmi Wulandari Nasution sudah masuk bulan ke empat atau tri semester dua. Pergerakan Rasmi masih lincah dan gesit untuk menjadi asisten pribadinya Ersam Arsenio Dewantara dan juga sebagai istrinya.
Ersam sendiri merasakan perbedaan yang sangat bagus selama Rasmi dalam kondisi hamil. Karena hubungan mereka di atas ranjang semakin begitu hot dan penuh dengan kemesraan.
Hari ini Rasmi ke perusahaan seorang diri, karena suaminya buru-buru pergi dengan alasan akan ke Tokyo Jepang untuk mengadakan pertemuan dengan klien bisnisnya di sana untuk beberapa hari ke depan.
Rasmi melihat Metty Putri Meutia Hatta dengan raut wajahnya yang pucat pasi seperti seseorang yang kekurangan tidur dan darah saja. Ia baru saja berniat membuka dan memutar handle pintu, tapi suara benda terjatuh mengagetkannya dan ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu tersebut.
"Apa yang terjadi dengannya, kenapa sepertinya dia sakit, mumg sebaiknya aku menyuruh ia pulang untuk beristirahat saja, daripada bekerja dengan kondisi seperti itu sangat mengkhawatirkan," gumam Rasmi.
Brukkk!!
Suara benda terjatuh begitu besar hingga semua orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi area ruangan pimpinan CEO menjadi heboh melihat Methy sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai keramik.
__ADS_1
Setelah melihat dengan jelas apa yang terjatuh itu sehingga menimbulkan suara yang cukup bising.
"Mety!" Teriaknya Rasmi yang cukup nyaring pagi hari itu.