Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 85


__ADS_3

Setelah acara makan siang bersama mereka selesai, Rasmi Wulandari Nasution sangat bahagia karena idenya untuk merencanakan makan bareng itu terlaksana dengan baik sesuai dengan harapannya.


Rasmi diam-diam memotret dan merekam adegan romantis mereka berdua. Erwin sama sekali tidak menyadari dengan tindakan spontanitas nya itu. Ia hanya bekerja dan bertindak sesuai naluri nya saja. Tanpa memikirkan pandangan mata dari yang lainnya dengan artian yang berbeda-beda. Erwin hanya fokus menyuapi Mety di depan orang lain dengan penuh perasaan dan melupakan keberadaan dua orang yang sudah menjadi obat nyamuk dari keromantisan keduanya.


"Ya Allah... so sweet banget deh," cicit Rasmi.


"Rencana selanjutnya harus bertemu secara empat mata dengan Reka Rahim sekretarisnya Erwin Aksa Mahmud, semoga dia bisa berkompromi dengan keadaan dan diajak kerjasama dengan baik," batinnya Rasmi.


Keempatnya kembali ke perusahaan tempat mereka bekerja mencari nafkah untuk keluarga mereka masing-masing. Mereka kembali tercengang, karena lagi-lagi Erwin terang-terangan menyuruh Mety Putri Meutia Hatta duduk di kursi jok depan mobilnya, sedangkan Rasmi dan Reka berada di bagian belakang.


"Bu Rasmi tidak apa-apa kan jika, ibu duduknya dibelakang bersama sekretarisku?" Tanyanya Erwin sambil membukakan pintu mobil untuk Methy.


"Tidak masalah kok, iya kan Reka kami duduk di depan dan belakang bagiku sama saja sama-sama duduk di kursi," jawabnya Rasmi.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau seperti itu," sahutnya Erwin tanpa peduli dengan keputusannya Reka sama sekali dan tidak peduli dengan Reka saat itu.


Raut wajahnya Reka menyiratkan kekesalan,kecewa dan sedih diperlakukan seperti itu oleh pria yang sudah mengatakan padanya ingin menjalin hubungan yang serius dua minggu yang lalu. Dengan berat hati, Reka harus ikhlas dan sadar diri dengan keadaan yang ada.


"Apa memang benar dugaanku jika mereka ada hubungan yang spesial?" Gumamnya Reka.


Erwin sesekali memperhatikan Mety ketika menyetir mobilnya. Karena Mety lebih banyak diam sambil memainkan gedjetnya itu.


"Mety ingat nanti malam pemuda yang aku inginkan kenalkan kamu katanya pengen ketemu di restauran xx, jangan lupa yah," ujarnya Rasmi sambil membuka layar hpnya itu yang berpura-pura sedang berkirim pesan dengan pria tentangganya itu.


Erwin Aksa Mahmud menatap jengah ke arah Mety," ish kenapa juga ia mengiyakan permintaannya Bu Rasmi kalau seperti bisa-bisa Mety tertarik dengan pria itu sama saja kesempatan besarnya Mety akan pergi dari sisiku," umpatnya Erwin yang mencengkeram kuat kemudi mobilnya itu.


"Kalau seperti itu, aku serahkan nomor hpmu sama itu cowok, ingat kamu harus berpenampilan menarik, cantik elegan dan sopan tapi Mbak tidak mau lihat kamu berpakaian seksi oke," usulnya sekaligus memberikan nasehat yang bertujuan untuk memanasi hati jiwa dan raganya Erwin.

__ADS_1


"Siap Ibu bos perintah Anda adalah titah bagiku," balasnya Mety sambil bercanda sebelum membuka pintu mobilnya.


"Pak Erwin makasih banyak yah atas tumpangannya, kapan-kapan bolehlah kami numpang lagi," guraunya Rasmi.


"Sama-sama Ibu Rasmi," tampiknya Erwin.


"Reka dari sini kau datang ke kantorku ada yang ingin aku bicarakan denganmu masalah pekerjaan,"


"Baik Bu," jawab singkat Reka.


Reka Rahim langsung cabut dan ngacir dari sana tanpa sepatah katapun. Rasmi tersenyum bahagia melihat kejadian itu. Rasmi berjalan tergesa-gesa menuju toilet umum, karena jika menunda lagi ia tidak mungkin bisa melakukannya.


Tapi, karena saking terburu-burunya sampai-sampai menyenggol lengan seseorang. Rasmi tepaksa menghentikan langkahnya sejenak

__ADS_1


"Ya ampun… kenapa hari ini saya harus bertabrakan lagi dengan seorang perempuan, tadi ada perempuan yang menabrakku dia yang salah malah ngomel-ngomel sama saya yang melempar kesalahannya padaku," dengusnya laki-laki yang berseragam keamanan itu.


Dia cukup heran karena, hanya dalam waktu lima menit kejadian yang sama kembali terulang kembali. Di tempat yang sama pula karena Edi belum beranjak dari tempat berdirinya dengan mengumpat berbagai macam jenis kata untuk perempuan keras kepala dan egois yang ditemuinya barusan.


__ADS_2