
Waktu terus berlalu, hubungan pernikahan antara Ersam Arsenio Dewantara dengan istrinya Rasmi Wulandari Nasution, Ridah Khaerani Azizah Wijaya dengan suaminya Erga Prayoga Yudistira,Renata Annisa Kuswanto dengan Erick Aryanta Dewantara, serta pasangan pengantin baru Erwin Aksa Mahmud dengan istrinya Methy Putri Meutia Hatta semakin mesra dan harmonis saja.
Mbak Ani asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Ersam Arsenio Dewantara yang mencari waktu itu art karena merasa kasihan dan tidak tega melihat istrinya harus kecapean, kelelahan atas kehamilannya itu.
"Ini semua salahku dulu tidak mengecek baik dan terlalu mudah untuk percaya dengan orang yang baru kami kenal," sesalnya Ersam sambil meninju sofa tempat duduknya yang sangat sedih melihat istrinya yang terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit.
Rida, Erga, Erwin, Methy, Edi serta Rieka juga sudah mendengar kabar duka tersebut yang menimpa sahabat sekaligus istri dari atasan mereka semua.
"Ya Allah… kenapa ada orang yang tega melakukan semua ini pada Mbak Rasmi padahal Mbak Itu perempuan yang baik," keluh Methy.
"Ya begitulah hidup semakin tinggi pohon semakin kencang pula tiupan anginnya," timpalnya Edi suaminya yang baru dinikahinya sekitar setengah tahun lalu.
Mereka berjalan masuk ke dalam lobi rumah sakit. Pasangan suami istri kedua yang datang adalah Ridah dan Erga suaminya. Keduanya pun mengutuk pelakunya dan geram dengan kejadian itu.
"Sayangnya masih hamil jika tidak saya akan mencari pelakunya hingga ke ujung dunia sekalipun aku akan mencarinya!" Geram Ridah yang membuka seatbelt nya yang terpasang ditubuhnya itu.
"Istriku tenangkan dirimu, ingat kamu Sedang hamil harus jags dan kontrol emosi, jangan biarkan dirimu terjerat api amarah," cegahnya dan nasehatnya Erga di depan istrinya itu.
"Maaf, astagfirullah aladzim" cicitnya Ridah yang terus beristighfar untuk meredam amarahnya dan emosinya yang hampir saja membuatnya memaki maki
"Saya sudah memerintahkan anak buah terbaik kami dan Alhamdulillah sudah ada titik terang siapa pelakunya itt, semoga saja hari ini ketahuan siapa pelakunya jadi novelnya sudah tidak ada konflik lagi kan," jelas Erga lagi.
"Iya juga kasihan sama author harus update banyak setiap hari sedangkan matanya semakin minus saja hiks…,"
Erwin dan Mety pun sudah sampai, mereka sampai lebih duluan di rumah sakit dan sudah bertemu dengan Ersam.
"Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa ibu Rasmi pak," ucapnya Methy sembari menyimpan sebuket bunga mawar merah khusus untuk Rasmi di atas meja nakas.
__ADS_1
"Makasih banyak kalian sudah datang ke sini padahal kamu itu sedang hamil seharusnya banyak istirahat saja, sana duduk di sebelah suamimu," ujarnya Ersam yang masih perhatian kepada anak buahnya itu.
"Istriku ini kuat Pak Ersam, baru juga lima bulan kuda-kudaan saja setiap hari kuat apalagi hanya ke rumah sakit untuk jenguk Mbak Rasmi," candanya Erwin.
"Kamu kalau masalah itu pasti hebat dan kuat yah, istri hamil tapi setiap hari digenjot kasihan tuh calon ponakan ku sama bundanya," sahutnya Ridah yang baru masuk dalam ruangan itu dan langsung bergabung berbincang-bincang untuk mencairkan suasana agar Ersam tidak terlalu terbebani dengan masalah anak dan istrinya itu.
Hahaha gelak tawa terdengar nyaring di dalam sana. Mereka berusaha untuk menenangkan hatinya Ersam walau hanya bercanda saja.
"Dedek bayinya dimana bos kok belum kelihatan, mereka berdua baik-baik saja kan?" Tanyanya Erga sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
"Mereka masih di dalam inkubator, karena mereka lahir belum waktunya dan juga kondisinya ketika lahir yang memungkinkan harus menjalani perawatan lebih intensif," jelasnya Ersam.
Berselang beberapa menit kemudian, Rasmi sudah terbangun dari tidurnya panjangnya setelah berjuang menjalani operasi akhirnya bisa tersadar juga setelah beberapa jam pingsan akibat obat anestesi ketika di operasi cesar.
Erga dan Ersam tidak ada dy dalam ruangan ketika Rasmi siuman. Rasmi memperhatikan sekitarnya dan tidak menemukan keberadaan suaminya itu. Rasmi kemudian mengelus perutnya yang sudah datar itu.
Ridah, Methy dan Erwin segera berdiri dari duduknya setelah mendengar teriakannya Rasmi. Mereka bersamaan berjalan cepat karena tidak ingin Rasmi kenapa-kenapa.
"Tenang Mbak, kedua putra Mbak baik-baik saja kok, mereka sedang tertidur di kamar sebelah," balasnya Nety.
Rasmi baru bisa bernafas lega setelah mendengar perkataan dari mulut sahabatnya itu. Padahal ia sudah berfikiran yang tidak-tidak karena mengingat kembali ketika terjatuh.
"Kamu jangan bangun dulu, kau itu baru selesai dioperasi untuk menyelamatkan anak dan dirimu, nanti bekas jahitannya kebuka lagi," cegahnya Ridah teman terbaiknya itu.
Rasmi kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya itu dengan membuang perlahan nafasnya karena sudah lega telah mendengar kondisi dari putranya itu.
"Apa kamu pengen makan atau mungkin minum?" Tawarnya Ridah.
__ADS_1
"Enggak makasih banyak, suamiku mana Ridah?" Tanya Rasmi.
"Mas Erga dengan Tuan Muda Ersam ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang kamu alami karena kemungkinannya mereka sudah mendapatkan siapa pelaku dalang dan otak sehingga kamu seperti ini," ungkapnya Ridah dengan yakin.
"Aku lihat dengan jelas tadi Mbak Ani menerima telpon terlebih dahulu, tapi setelah itu aku tidak melihatnya lagi karena sudah mengkhawatirkan keadaan Mbak Renata sehingga aku tidak mengetahui kedatangan Mbak Ani yang langsung mendorongku," ucap Rasmi yang berusaha mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Besar kemungkinannya jika Mbak Ani ada yang menyuruhnya melakukan kejahatan ini, tapi dia tetap harus menerima ganjaran hukuman yang telah diperbuatnya itu, siapapun dibalik musibah ini dia tetap dihukum walau pun hanya diperintahkan saja," tuturnya Erwin yang ikut menimpali.
"Ini pelajaran untuk kita semua berhati-hati lah dalam mencari art, tapi aku bersyukur karena neneknya Tuan Muda Ersam menjaga cicitnya dengan baik tadi kami sempat melihatnya tapi, ibu mertuamu enggak aku lihat batang hidungnya itu," jelasnya Ridah.
"Saya saja selama menikah dengannya itu baru sekali selama kami menikah," ujar Rasmi.
"Kenapa emang Mbak?" Tanyanya Mety yang langsung celetuk.
"Heran saja hanya dia yang tidak datang ke sini padahal kakak iparmu juga kan melahirkan tapi aku dengar dia pergi ke luar negeri baru beberapa menit kepergiannya, kok menurut aku aneh yah," tebaknya Ridah.
Pembicara mereka berempat terganggu karena pintunya terbuka dan masuklah beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan perawatannya. Ada beberapa orang yang memakai seragam polisi sekitar tiga orang, Ersam dan Erga. Mereka saling melempar pandangan dengan menautkan kedua alisnya mereka keheranan dengan kebingungan.
"Abang Ersam," cicitnya Rasmi.
"Sayang Alhamdulillah kita sudah mengetahui siapa pelakunya dibalik kejadian yang menimpamu," tutur Ersam yang sudah berdiri di samping istrinya itu sembari menggenggam tangannya Rasmi.
"Benar sekali Nyonya kami sudah menangkap kedua pelaku itu,hanya tersisa satu lagi tapi dia sudah dalam pengejaran agar tidak berhasil lolos ke luar negeri," timpalnya Pak polisi.
Rasmi menatap ke arah suaminya yang tidak paham dengan situasi yang terjadi. Ersam hanya membalas dengan tersenyum tipis.
pak polisi seolah mengerti dengan tatapannya Rasmi, "Pelakunya adalah Ani Ahera, Dokter Aulia Ramadhani dan juga Bu Riska istri kedua dari papa mertua Anda sendiri yang masih dalam DPO buronan pencarian orang, insha Allah paling lambat malam kami akan menemukannya,"
__ADS_1