
"Hati-hati, berkabarlah jika kamu sudah sampai di sana, titip salam untuk keluarga yah," ucap Rasmi yang melepas kepergian sahabat sekaligus seperti saudaranya sendiri.
Waktu terus berlalu, Rasmi sudah memakai pakaian tidur,tapi ia melihat ke arah ranjangnya suaminya Ersam belum selesai bekerja.
*Saya buatkan Abang mungkin kopi, tapi kalau kopi bisa saja begadang, kalau teh kan pasti ngantuk juga kalau sudah kelelahan bekerja, ini juga waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pernikahannya Erga," gumamnya Rasmi yang berjalan ke arah dapur.
Waktu terus berlalu, Rasmi sudah memakai pakaian tidur,tapi ia melihat ke arah ranjangnya suaminya Ersam belum selesai bekerja.
"Saya buatkan Abang mungkin kopi, tapi kalau kopi bisa saja begadang, kalau teh kan pasti ngantuk juga kalau sudah kelelahan bekerja, ini juga waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pernikahannya Erga," gumamnya Rasmi yang berjalan ke arah dapur.
Rasmi memotong kue yang dibelinya tadi sore ketika melewati tempat bakery cake andalannya itu. Rasmi membawa sebuah nampan yang berisi sepoci teh hangat dan juga sepiring kue yang barusan dia potong.
Ersam Arsenio Dewantara sama sekali tidak menoleh ke arah kedatangan Rasmi istrinya. Ia fokus memeriksa lembaran demi lembaran kertas yang cukup menumpuk itu bergantian dengan laptopnya.
Kacamata bacanya sudah menghiasi mata tajamnya yang bertengger di hidung mancungnya itu. Ersam memakai kecamatan bukan karena, penglihatannya yang terganggu tapi, karena ia tidak ingin matanya terpapar langsung dengan cahaya dari laptop yang jika terus-menerus menatap layar komputernya akan terpapar sinar radiasi yang tidak baik untuk indera penglihatannya.
Rasmi menaruh nampang itu di atas meja sofa buludru berwarna putih gading itu. Rasmi setelah menyimpan nampan tersebut, ia segera berjalan ke arah suaminya itu.
"Sayang istirahat sejenak dulu, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja hingga melupakan waktu istirahat," ujarnya Rasmi seraya mengalungkan tangannya ke lehernya Ersam dari arah belakang punggungnya Ersam Arsenio Dewantara.
Ersam tersenyum penuh bahagia karena, untuk pertama kalinya Rasmi yang berinisiatif duluan untuk melakukan keromantisan itu. Ersam segera membalik kursinya agar mereka saling berhadapan langsung.
Ersam memangku Rasmi ke atas pangkuannya itu, Ersam memperhatikan dengan seksama penampilan istrinya dari atas ujung rambut hingga ujung kaki.
__ADS_1
Ersam menyentuh bibirnya Rasmi yang merah merona itu dengan penuh kelembutan, "Kamu sangat cantik jika seperti ini terus, Abang semakin mengangumi keindahan dari perempuan yang paling aku sayangi di dunia ini setelah mendiang mamaku, sayang kamu tahu enggak kalau biasanya Abang itu kesepian setiap hari hanya berteman dengan guling tapi, setelah aku menikahimu, aku sudah tidak kedinginan setiap malamnya karena ada kamu yang menemaniku dan menghangatkan tubuhku ini," imbuhnya Ersam.
Rasmi yang diperlakukan seperti itu cukup bahagia karena suaminya bahagia dengan keputusannya untuk berpenampilan seperti itu. Rasmi berada di atas pangkuan suaminya sedangkan tangannya masih melingkar di lehernya Ersam dengan penuh kemesraan.
"Sayang ngomong-ngomong gimana dengan rencana pernikahannya Erga dengan Mbak Ridah, apa sudah beres?" Tanyanya Rasmi yang sekedar berbasa-basi saja.
"Semua Abang serahkan pada Erga sendiri biarkan dia sendiri yang mengatur segala keperluan dan kebutuhannya sesuai dengan keinginannya," jawabnya Ersam.
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membahas tentang hadiah yang aku janjikan untuk Ridah," batinnya Rasmi.
"Emangnya kenapa, apa kamu tidak percaya dengan kemampuan Erga?" Ersam bergantian memainkan hidungnya Rasmi dengan rambutnya itu.
Rasmi segera memutar-mutar kedua telapak tangannya di depan Ersam," bukan itu maksudku Abang, tapi hanya saja cuma bertanya doang kok sempat butuh sesuatu mungkin yang gak bisa dipenuhi oleh Erga sendirian gitu," kilahnya Rasmi.
"Insya Allah… semuanya sudah aman kok dan hanya menunggu hari H nya saja, tapi Abang pengen ke kampung halamannya kamu, tapi Abang tidak tahu masalah bisa atau tidak karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk apalagi jika Erga ambil cuti pasti Abang akan semakin sibuk,"
"Kalau masalah kadonya belum sempat karena sejujurnya Abang masih kebingungan apa pilih mobil mewah atau rumah saja, kalau menurut kamu apa yang paling bagus?"
"Kalau menurut saya sih rumah saja Abang lengkap dengan isinya, bagaimana menurut Abang?"
"Itu ide yang bagus juga, baiklah kalau begitu besok kita bareng cariin rumah untuk kedua calon mempelai pengantin dan juga Abang pengen perlihatkan padamu sesuatu,"
"Sesuatu!" Beonya Rasmi.
__ADS_1
"Besok kamu akan lihat kok, tapi sekarang yuk kita ke sofa sepertinya minuman yang dibuat oleh istriku sudah dingin," ujarnya Ersam lalu segera berbalik sambil memutar kursinya.
Ersam segera menyimpan beberapa file pentingnya dan juga menutup berkas-berkasnya itu. Ersam kemudian menggendong tubuh istrinya ke atas sofa.
"Bang aku berat loh, turunin saja aku masih sanggup untuk berjalan," cegahnya Rasmi karena tidak ingin merepotkan suaminya itu.
Ersam segera menyentuhkan jari telunjuknya di atas bibirnya Rasmi,"diamlah Abang akan selalu memberikan yang terbaik untuk kalian berdua calon bayi kita dan juga Istriku tersayang tidak ada duanya ini,"
Rasmi pun menurut apa yang dikatakan oleh Ersam, hingga mereka sudah duduk di atas sofa buludru tersebut. Rasmi segera menuang teh hangat itu ke dalam cangkir untuk suaminya.
Satu minggu kemudian…
Pernikahan antara Ridah Khaerani Azizah Wijaya dengan Erga Prayoga Yudistira berjalan dengan lancar. Pesta pernikahan tersebut sangatlah ramai walaupun hanya diadakan di gedung hotel di kabupatennya Ridah yang terbilang pas-pasan ukuran dan fasilitasnya.
Erga mengucapkan ijab kabul dengan lancar tanpa kendala apapun yang berarti. Keduanya sudah resmi menjadi suami istri yang sah dimata negara dan agama.
Silih berganti para tamu undangan memenuhi gedung serbaguna tersebut. Hingga menjelang shalat ashar barulah acaranya selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh pihak wedding organizer yang telah mengatur semuanya.
Malam harinya, di dalam ruangan tengah rumahnya Ridah cukup ramai karena, kedatangan dari bibi dan ketiga sepupunya Rasmi yaitu Bu Herna dan anaknya Riska, Nazir dan Risna. Mereka memohon untuk dibantu agar kalau Ridah balik ke Jakarta, mereka berempat ingin ikut menemui Rasmi.
Setelah mendengar berbagai rumor dan berbagai cerita dari mulut ke mulut tentang Rasmi yang menikahi pria kaya membuat mereka berniat untuk ke Jakarta agar mendapatkan bantuan dari Rasmi.
"Maafkan saya Bu, bukannya saya tidak ingin membantu ibu tapi, saya harus meminta ijin pada suaminya terlebih dahulu jangan sampai suaminya keberatan untuk menerima bibi apalagi selama ini suaminya itu tidak pernah bertemu sekalipun dengan saudara dari bapaknya yang sering berkomunikasi dengan Ridah adalah bibi adik dari almarhumah ibunya saja," Ungkap Ridah.
__ADS_1
Erga sudah berpesan sebelumnya pada Ridah untuk tidak menjelaskan kepada siapapun tentang statusnya Ersam. Erga mewanti-wanti Ridah jika kelak ada yang bertanya tentang pekerjaan Ersam siapapun orangnya katakan pada mereka jika Abang Ersam kepala menejer di perusahaan bukan pemilik perusahaan.
"Kenapa aku perhatikan kedua anak perempuannya bibi ini dari raut wajahnya seperti memiliki suatu maksud yang tidak baik," batinnya Erga yang sangat selektif dan hati-hati dalam bergaul apalagi untuk berbicara dengan orang aisng.