
Akhirnya Methy memasukkan lagi ketiga cangkir itu beberapa tetesan obat.
"Ini kopi khusus untuk tuan-tuan agar semakin semangat kerjanya," imbuhnya Netty.
"Makasih banyak cantik," tuturnya Erwin Dwi Budiawan yang tersenyum tipis ke arah Methy.
Erga Prayoga Yudistira merasa ada yang aneh pada tubuhnya, tiba-tiba kepalanya pusing. Penglihatannya kabur seperti menatap seseorang dua orang yang kembar.
"Erwin, aku ke belakang dulu yah," pintanya Erga yang berusaha sekuat tenaga untuk melawan apa yang terjadi padanya.
"Iya Pak, tapi jangan lama yah,"
"Oke, kamu kerjakan dengan baik karena sisa finishing sudah selesai," ujar Erga kemudian berjalan meninggalkan Erwin adik sepupunya Ridah Khaerani Azizah Wijaya.
Erga berjalan ke arah toilet umum, tapi pintunya ternyata terkunci.
"Kok bisa terkunci, ada apa sih ini!" Ketusnya Erga karena kepalanya semakin berat hingga tubuhnya sekarang merasa pusing.
Erga berjalan ke arah lift untuk naik ke lantai lima belas tempat ruangannya berada.
"Ya Allah… kenapa aku merasa tubuhku semakin aneh, apa jangan-jangan ada yang aneh di dalam kopi buatannya Methy karena sebelumnya kondisiku masihd stabil kok," gumamnya Erga.
Apa yang dirasakan oleh Erwin, Ridah dan Metty pun sama mereka sama-sama gelisah.
Metty berusaha untuk menahan apa yang terjadi padanya,ia terus berjalan ke arah ruangan yang tadi dia tempati bekerja dengan Erwin dan Erga. Ia tersenyum melihat Erwin yang duduk dengan gelisah.
"Kamu sudah masuk perangkapku pak Erga," cicitnya Methy.
__ADS_1
Methy kemudian membuka beberapa kancing bajunya yang dipakainya satu persatu lalu mematikan lampu. Erwin terkejut melihat suasana yang tiba-tiba gelap gulita.
"Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku kepanasan," cicitnya.
Hingga tanpa terduga seseorang langsung naik ke pangkuannya hingga mereka terjatuh ke atas lantai.
"Hey! Kamu siapa, apa yang kamu inginkan?!" Tanyanya Erwin Aksa Mahmud yang keseheranan dengan sikap orang itu yang sudah bisa dipastikan seorang perempuan dari bentuk tubuhnya dan wangi parfum yang dipakainya itu.
Erwin tak mampu menghindar lagi, karena perempuan itu langsung mengecup bibirnya Erwin. Karena perasaan yang aneh tiba-tiba menyeruak kepermukaan dari dalam tubuhnya. Erwin membalas perlakuan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya karena, suasana yang tanpa penerangan sedikit pun.
Mereka melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan, hingga suara teriakkan dan rintihan dari mulutnya Mety membuat seseorang yang barusan berjalan melewati tempat itu tersenyum.
"Sepertinya Methy Putri Meutia Hatta sudah beraksi, kini giliran aku yang secepatnya ke ruangannya Bu Ridah," cicitnya Marco Reus.
Ia terus berjalan dengan tergesa-gesa sedangkan Erga tanpa sengaja melihat Ridah yang berjalan sempoyongan segera berjalan ke arah Ridah dan menarik tangannya Ridah sekuat tenaganya itu.
Erga menarik tangannya Ridah kedalam suatu ruangan tempat pribadinya Erga. Kantor yang setiap hari ia pakai untuk bekerja. Erga mengunci rapat pintu itu dan langsung menggendong tubuhnya Ridah.
Ridah sudah berusaha untuk melawan tapi, usahanya sia-sia saja, karena kemampuan dan kekuatannya langsung lumpuh gara-gara obat yang dimasukin oleh Marco Reus ke dalam kopinya dosisnya cukup banyak.
"Aahh!! Jangan!!" Teriaknya Ridah.
Tapi itu percuma saja karena otak dan pikirannya tidak selaras dan sejalan. Ridah lambat laun malah meminta lebih pada,apa yang dilakukan oleh Erga di atas tubuhnya itu. Keduanya sama-sama lupa daratan akibat dari pengaruh obat pee raang saan yang mereka minum.
"Aku masih pee raaa waaan tapi demi menikahi pria kaya dan ganteng seperti Erga Prayoga Yudistira saya berani mengorbankan segalanya untuk pak Erga," batinnya Metty Putri Meutia Hatta.
Mety tidak memakai hijabnya,ia hanya mengikat rambutnya dengan gaya seperti biasanya yang semakin membuatnya kelihatan manis dan cantik. Seorang gadis kampung mengadu nasib di ibu kota.
__ADS_1
"Pakaiannya pasti mahal, kainnya sangat lembut dan semoga kekasihnya tidak marah jika aku ketahuan memakainya."
Apa yang dilakukan oleh Methy dilihat langsung oleh Erwin Aksa Mahmud yang membuat senyuman tersungging di sudut bibirnya itu.
"Oke kita sepakat untuk bekerjasama dan ini yang harus kamu berikan di dalam minumannya, usahakan jangan sampai ketahuan dari orang lain karena, malam ini adalah malam yang paling bagus dan tepat untuk kita beraksi, semoga rencana kita berdua berhasil dan Ingat ruangan yang rencananya kita pakai itu harus kamu jaga dan tidak boleh ada orang yang masuk ke sana," ujarnya Methy dengan melirik sekilas ke sekelilingnya ketika memberikan sebotol obat ke dalam tangannya Marco.
"Oke, siap dan ingat chat aku sebelum beraksi agar kita barengan bekerja,"
Methy kembali ke perusahaan karena jam istirahat sudah usai. Ia tersenyum melihat Marco Reus yang baru saja datang ke loby perusahaan berpapasan dengannya.
"Pak Erga bersiaplah malam ini aku yakin kamu akan puas mee niiik mas tii tubuhmu yang sispack penuh dengan dada kotak-kotak itu,"
Keyakinan Metty begitu besar dan percaya diri sekali jika malam ini akan berhasil dengan lancar karena, dukungan dari Marco Reus pihak keamanan yang akan berjaga di malam hari.
Erga berjalan ke arah ruangannya Ridah Khaerani Azizah Wijaya, ia masuk kedalam ruangan itu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!" Pinta dari Ridah yang sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya itu.
"Kamu malam ini lembur temani saya, karena file penting yang diminta oleh pak Ersam harus segera diberikan padanya sebelum ia datang ke kantor besoknya?" Perintahnya Erga yang to the points tanpa basa-basi sedikitpun.
Erga kemudian meninggalkan kantornya Ridah setelah menyampaikan hal itu. Sedangkan Ridah hanya memandangi punggung pria yang diam-diam ia sukai itu pria yang ditolongnya beberapa waktu lalu ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas tiga.
Sejak keberanian Erga beberapa hari lalu, hubungan mereka menjadi renggang dan tidak pernah berkomunikasi seperti biasanya kecuali jika ada masalah pekerjaan yang harus mereka tangani dan kerjakan bersama.
"Kamu menjauh dariku berarti aku tidak pernah ada di dalam hatimu Pak Erga, padahal aku mulai merasakan rindu dan cemburu jika kau berdekatan dengan perempuan lain, aku tak suka melihatmu tertawa lepas dengan karyawati lainnya," cicitnya Ridah.
Kedua pasangan yang sama-sama mabuk kepayang itu sudah tidak sadar dengan konsekuensi dari kelakuan mereka berempat. Yang paling penting apa yang seharusnya terjadi maka terjadilah. Pikiran, tubuh mereka sudah dikontrol oleh obat lucknut itu yang sedari tadi mengendalikan akal dan nuraninya.
__ADS_1