Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 94


__ADS_3

Ersam Arsenio Dewantara yang sedang sibuk menghubungi nomor hp abangnya Erick Aryanta Dewantara karena, Renata istrinya sudah akan melahirkan dalam keadaan cesar.


Tapi, tiba-tiba suara teriakan seseorang dari belakang punggungnya membuatnya menolehkan kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang perempuan yang sedang hamil terduduk di atas lantai keramik dengan keadaan bersimbah darah. Tidak lain adalah istrinya sendiri.


"Rasmi!!" Teriaknya Ersam yang melempar hpnya begitu saja dan bergerak cepat menggendong tubuh istrinya itu untuk segera mendapatkan pertolongan.


Asisten rumah tangganya yang baru saja sekitar tiga minggu lalu bekerja dengannya pergi entah kemana.


"Abang sa-kit," ratapnya Rasmi yang mengeluh kesakitan seraya meremas kain gamisnya bagian perutnya itu.


"Bertahanlah sayang, kita akan segera ke dokter untuk memberikan kamu pertolongan," ujarnya Ersam yang raut wajahnya pucat pasi.


Rasa takut, kecemasan dan khehawatiran serta kepanikan bercampur menjadi satu bagian di dalam hati dan pikirannya itu. Karena letak tempat terjatuhnya Rasmi berada di tempat yang cukup sepi sehingga hanya beberapa orang yang melihat kejadian itu.


Untungnya letak posisi ruang unit gawat darurat itu tidak terlalu jauh dari tempat kejadian sehingga Ersam sedikit terbantu.


"Dokter! Suster tolong istriku!" Teriak Ersam.

__ADS_1


Erick Aryanta Dewantara yang sedang berdiri mondar mandir menunggu istrinya selesai dioperasi, kaget melihat teriakan dengan suara yang cukup melengking tinggi, lantang itu. Matanya terbelalak ketika melihat pria yang berteriak itu adalah adik kandungnya yang sedang menggendong Rasmi yang sudah tidak sadarkan diri lagi dengan banyaknya darah segar yang mengalir di pahanya itu.


Erick pun berlari meninggalkan ruang operasi tempat Renata Annisa Kuswanto berada tanpa berucap sepatah katapun. Kebetulan kedua orang tua dan beberapa saudaranya berada di sana menjaga Renata yang sedang melahirkan dengan bantuan operasi itu. Mereka melihat tujuan Erick sehingga mereka memaklumi kondisi dan keputusan dari Erick saat itu juga.


"Tolong naikkan tubuh pasien ke bangkar pak, karena kami akan segera memeriksa kondisi tubuhnya," pinta seorang dokter yang kira-kira seumuran dengan Rasmi.


Dokter dan perawat segera melakukan tindakan untuk segera menangani Rasmi.


"Sus! Siapkan segera kamar ruang operasi,cepat! Bayi dan ibunya harus segera diselamatkan!" Perintah dokter tersebut.


Sedangkan Ersam kondisinya cukup berantakan, pakaiannya hampir semuanya dipenuhi oleh noda darah yang sudah berbau amis itu.


Ersam segera memeluk tubuh kakaknya itu," Abang, Rasmi istriku terjatuh dan sekarang entah apa yang terjadi dengan calon anak kami dan istriku," keluhnya Ersam yang tubuhnya sudah bergetar hebat menangis tersedu-sedu meratapi nasib malang yang menimpa istri dan calon anaknya itu.


Erick membalas memeluk tubuh adik semata wayangnya itu tanpa risih dan khawatir pakaiannya ternoda darah Rasmi yang melengket ditubuhnya Ersam.


"Kamu harus sabar dan jangan berfikiran yang tidak-tidak, ingat baik-baik selalu lah meminta tolong kepada Allah SWT atas musibah yang menimpa keluarga kecilmu ini semoga mereka semua selamat," imbuhnya Erick.

__ADS_1


"Abang aku tidak ingin hidup lagi jika, terjadi sesuatu pada istriku dan kedua anak kembar kami, saya lebih…," ucapannya Ersam terpotong ketika pintu UGD terbuka lebar dan melihat istrinya berada di atas bangkar rumah sakit dengan didorong secara tergesa-gesa.


Ersam segera melerai pelukannya dari kakaknya itu," Sus, apa yang terjadi pada istriku,mau dibawa kemana lagi?" Tanyanya Ersam yang sudah ikutan berlari di sampingnya beberapa perawat itu.


"Istri Bapak harus segera dioperasi karena kondisi ketiganya dalam kritis," ujarnya salah satu perawat itu.


"Dokter aku mohon berikan yang terbaik untuk istri dan calon anak kembar kami, berapapun biayanya saya akan bayar," tuturnya Ersam yang semakin meneteskan air matanya itu karena panik, takut cemas entah perasaan apa lagi yang ia rasakan.


Ersam mondar-mandir ke sana kemari tanpa ada hentinya itu seperti setrikaan yang kadang berdiri kadang terduduk kembali, terkadang juga bersandar di dinding tembok rumah sakit.


"Ersam apa kalian ke sini hanya berdua saja?" Tanyanya Erick Aryanta yang sekedar berbasa-basi agar pikiran Ersam tidak semakin kacau saja.


Ersam menghentikan langkahnya itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Erick," aku ke sini bersama Mbak Ani," jawab Ersam.


"Terus dia ada di mana? Karena sedari tadi kamu hanya berdua saja, saya tidak melihat keberadaannya," pungkasnya Erick.


Ersam mengedarkan pandangannya itu, ia segera merogoh sakunya untuk mencari keberadaan hpnya.

__ADS_1


"Ya Allah… hpku ada di mana kok enggak ada?" Gumamnya yang kebingungan.


"Tunggu aku telpon dulu nomor hp kamu," usulnya Erick.


__ADS_2