
Ersam memutuskan untuk pergi dari Jakarta menuju Seoul Korea Selatan. Sebelum berangkat, Ersam menyempatkan diri untuk melihat Rasmi Wulandari istrinya melalui cctv yang ada di dalam kantor pribadinya.
Ersam tersenyum seolah menertawai dirinya sendiri," kakak iparmu tidak ingin melihat Abang lagi daripada dia pergi lebih baik aku yang mengalah karena, aku yang pergi kamu masih bisa membantuku menjaganya disini sedangkan jika aku yang tetap di sini kemungkinan besarnya aku tidak bakalan bisa melihat senyumannya lagi," ungkapnya Ersam yang kembali membuka beberapa kaleng minuman.
"Tapi, menghindar dari kenyataan juga tidak baik adanya, hadapi semuanya dengan kepala dingin dan hati yang lapang barulah hidup lebih bermakna," tuturnya Erga.
"Sayang maafkan atas kesalahanku yang sudah tidak berterus terang atas semua yang telah terjadi, aku tidak sengaja berniat untuk melukai ataupun membohongimu, makasih banyak atas segalanya dan maafkanlah aku yang tidak mampu membahagiakanmu," gumamnya Ersam Arsenio Dewantara.
Ersam segera pergi dari dalam ruangannya dan pergi dari sana melalui jalan khusus untuknya. Akses jalan yang dirahasiakan dari umum.
Rasmi kembali bekerja seperti biasa, hatinya sakit bukan karena tamparan dan penghinaan dari neneknya Ersam Nyonya Leni tapi, ketidak jujuran suaminya tentang dia lah orang yang telah menyebabkan dia menjadi janda.
Waktu terus berlalu, aktifitas Rasmi masih seperti biasanya bekerja dan terus bekerja. Hanya sesekali keluar hangout bareng Renata ataupun Ridah sahabatnya. Hendy pria yang selama ini mendekatinya semakin gencar untuk mendekati Rasmi. Tetapi Rasmi sama sekali tidak memberikan harapan palsu yang nantinya akan berujung dengan penyesalan.
Sudah satu minggu sejak masalah besar itu terjadi. Regina dan suaminya Eka Satya sudah memutuskan untuk pergi dari ibu kota Jakarta. Dia meminta maaf kepada semua orang yang gara-gara pernikahannya banyak orang-orang yang tersakiti dan kecewa.
Tapi, satu hal dia tidak mungkin berpisah dari suaminya pria yang sangat ia cintai itu. Baru beberapa pekerjaan yang Rasmi selesaikan hpnya berdering sekaligus bergetar hebat di atas meja kerjanya.
"Siapa yang nelpon sore-sore gini?"
__ADS_1
Raut wajahnya berseri-seri bahagia melihat Renata yang menelponnya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam adek ipar," ujarnya Renata.
Rasmi spontan terdiam menghayati perkataannya Renata yang barusan ia katakan. Renata Kusmanto Dewantara tersenyum-senyum sendiri di seberang telepon.
"Kok kamu terdiam, apa kamu tidak suka dengan apa yang aku katakan?" Tanyanya Renata dari seberang telepon.
"Ehh, enggak kok Mbak hanya saja agak gimana gitu,aku baru nyadar ternyata kita adik kakak ipar," tukasnya Rasmi yang tersenyum simpul.
"Mbak gimana dengan kehamilannya, apa dede bayinya baik-baik saja,ibunya juga gimana?"
"Alhamdulillah kami berdua dalam keadaan yang baik-baik saja, cuma agak kesepian dan juga bosan di dalam rumah mulu, Mas Erick ngak ngijinin kemana-mana, jadi untuk beberapa minggu kedepannya akan jadi anak rumahan dulu," ujarnya Renata.
"Ooh jadi karena kesepian nih ceritanya jadi, baru ingat aku untuk ditelpon," candanya Rasmi berpura-pura merajuk.
"Hahaha, kamu bisa saja aku sudah sangat yakin jika aku galau, badmood,gabut kayaknya paling asyik telponan sama kamu saja, karena menurut aku itu adalah pilihan yang paling tepat," tampiknya Renata.
__ADS_1
Rasmi ikuti tersenyum, Erga yang baru datang berjalan segera merekam gambar Rasmi yang tersenyum bahagia.
"Abang semoga fotonya kakak ipar yang saya kirim bisa membuat Abang lebih semangat dan berjanji harus hidup dengan baik di negerinya orang," gumamnya Erga Prayoga Yudistira.
"Rasmi kamu bisa enggak hari minggu nanti datang ke rumahku, kamu enggak kerja kan hari minggu nanti?" Tanyanya Renata Kusmanto Aryanta yang bertelponan sambil rebahan.
"Hari minggu ini yah? Tunggu aku cek dulu jadwal aku entar aku sudah setuju dan iyakan tapi ternyata aku ada kegiatan," jelasnya Rasmi sembari membuka buku agendanya.
"Oke ditunggu info selanjutnya,"
Rasmi melihat hari minggu itu adalah tiga bulan pernikahannya. Ia tidak menyangka jika, sudah tiga bulan ia menikah dan sudah hampir setahun anak dan suami pertamanya meninggal dunia.
"Maaf Mbak kayaknya gak bisa, aku ada jawdal ziarah ke makam anakku, insya Allah… lain kali saja aku datang ke rumahnya Mbak, ga apa-apa kan?"
Rasmi masih melanjutkan ketikannya seraya menerima telpon dari Renata dan hal itu sama sekali tidak menggangu aktivitasnya.
Rasmi membohongi dirinya jikalau, dia tidak merindukan suaminya itu. dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia mencari kebiasaannya bersama dengan Ersam suaminya terutama perhatiannya dikala dia sakit.
"Abang, aku sangat merindukan Abang sudah lebih satu minggu Abang tidak pulang ke rumah, tapi ini semua salahku aku sendiri yang meminta Abang untuk pergi jauh dari hidupku," lirihnya Rasmi.
__ADS_1