Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 86


__ADS_3

Dia cukup heran karena, hanya dalam waktu lima menit kejadian yang sama kembali terulang kembali. Di tempat yang sama pula karena Edi belum beranjak dari tempat berdirinya dengan mengumpat berbagai macam jenis kata untuk perempuan keras kepala dan egois yang ditemuinya barusan


"Maaf Pak saya tidak sengaja," ucapnya Rasmi yang meminta maaf sambil menundukkan sedikit kepalanya ke bawah.


"Tidak apa-apa kok Bu,saya yang seharusnya meminta maaf karena gara-gara keteledoranku berjalan sehingga ibu hamil seperti Anda hampir saja terjatuh," pungkas pria itu.


Rasmi tersenyum sumringah melihat sosok pria yang meminta maaf didepannya itu yang berpakaian security.


"Edi Firmansyah kan?" Tebaknya Rasmi.


Bagaikan gayung bersambut, Rasmi sudah menemukan sosok pria yang bisa diajak ya kerjasama itu.


"Benar sekali, Mbak kan mantan kakak iparnya perempuan lucknut dan matre itu kan," terkanya Edi Firmansyah mantan kekasih dari adik iparnya adik kandungnya Eko Prasetyo almarhum suami pertamanya dulu.


"Hehehe benar sekali," jawabnya Rasmi yang tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari Edi yang spontan itu.


Rasmi sudah melupakan jika hendak ke kamar kecil, karena saking bahagianya tidak perlu mencari orang lain lagi.


"Mbak sudah hamil begini, lain kali kalo jalan tuh kudu hati-hati entar nyungsep kan kasihan dengan dede bayinya," tuturnya Edi yang bernada bercanda itu.


"Edi, kamu keruanganku yah di lantai lima belas saya tunggu kamu ada hal yang sangat penting dan mendesak ingin aku bicarakan denganmu, ingat harus secepatnya datang jika tidak gajimu akan saya sunat hingga tak tersisa!" Ancamnya Rasmi yang sangat ingin tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari raut wajahnya Edi yang langsung pucat pasi mendengar gajinya akan dipotong itu.


"Baik Bu Rasmi,saya akan segera ke sana asalkan jangan gajiku dan bonusku dipotong!" Rengeknya Edi yang memohon kepada Rasmi sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya itu.

__ADS_1


"Oke, tapi harus datang tepat waktu ok," ujar Rasmi lalu segera berjalan tergesa ke arah toilet umum.


Berselang beberapa menit kemudian…


Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang, Rasmi segera menekan tombol hijau diremot kontrol pintunya itu.


Edi tersenyum tipis ke arah Rasmi," maaf Bu saya terlambat karena ada yang saya kerjakan sebelum kesini dan itu penting dan emergency banget lah," kilahnya Edi yang menjelaskan alasan keterlambatannya.


"Silahkan duduk! Tidak apa-apa kok yang paling penting kamu bisa aku ajak kerjasama denganku itu sudah cukup,"


"Bekerjasama, maksudnya Bu? Saya kurang paham apa yang ibu maksudkan," sanggahnya Edi yang sama sekali tidak mengerti


Rasmi pun menjelaskan secara detail apa yang harus ia lakukan itu dengan rinci. Edi hanya manggut-manggut dan manut saja dengan apa yang dikatakan oleh Rasmi.


"Kamu tidak perlu khawatir dan merisaukan tugas ini yang terpenting adalah kamu bisa bekerja sesuai petunjuk dan arahan ku, jangan buat saya kecewa dan misi yang kamu emban harus berhasil jika, sukses bonus besar menunggumu, tapi kamu tidak punya pacar kan? Karena saya enggak mau gara-gara kekasihmu itu rencana kita gatot gagal total," tegasnya Rasmi menjelaskan panjang lebar di depan Edi Firmansyah.


"Nanti malam setelah shalat magrib kamu tunggu Mety Putri Meutia Hatta sekretaris suamiku CEO perusahaan READ Tbk. di cafe xx jalan xxx dan ini nomor hpnya, hemm ini nomor hpnya Mety tapi ingat kalian hanya berpura-pura jangan dianggap serius jika tidak bonus dan gajimu semuanya akan zonk kamu terima gimana,apa kamu sudah pahami dengan baik perkataan dan penjelasan ku ini?" Tanyanya Rasmi yang menatap intens ke arah Edi.


"Siap,"


Mereka kembali berbincang-bincang santai hingga pintu ruangannya kembali diketuk dan terbuka lebar untuk kedua kalinya saat itu. Tampannya Edi cukup ganteng walaupun pekerjaannya sebagai kepala keamanan di perusahaannya,tapi dari segi penampilan oke tidak mengecewakan dibandingkan dengan Erwin Aksa Mahmud.


Masuklah Reka Rahim yang membuat Edi terlonjak dari duduknya saking terkejutnya melihat perempuan yang beberapa jam lalu sempat bertengkar dan ribut dengannya

__ADS_1


"Kamu lagi! Kenapa meski aku ketemu perawan tua seperti kamu lagi, benar-benar dunia ini selebar daun kelor!" Sarkasnya Edi yang sudah berdiri berhadapan dengan Reka.


Reka yang tidak mau dijatuhkan dan dihina seperti itu malah, terprovokasi oleh kelakuannya Edi,ia kemudian balik menantang Edi. Rasmi menjadi penonton live streaming kedua orang itu. Ia segera mengabadikan momen penting itu ke dalam hpnya sebagai kenangan-kenangan.


"Panggil aku selamanya perawan tua jika aku tidak berhasil security seperti kamu tunduk dan jatuh cinta padaku, ingat itu baik-baik!" Gertak Reka.


Edi terkejut mendengar perkataan dari Reka sendiri, sedangkan Reka baru tersadar dengan perkataannya itu ketika Edi sudah berlalu dari hadapannya.


Dia langsung menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar dan mengingat perkataan apa yang sudah ia lontarkan khusus untuk Edi.


"Ya elah… kenapa juga aku bisa berucap seperti itu, gimana kalau kejadian dan kesampaian perkataan dan sumpahku itu menjadi kenyataan," cicitnya Reka sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan pelan.


Sedangkan Edi hanya memberikan kode kepada Rasmi untuk undur undur diri terlebih dahulu.


Jam empat sore, Mety diijinkan untuk pulang lebih duluan dari karyawan yang lainnya. Diluar dugaan,Edi Firmansyah Rafli yang diajak kerjasama dengan Rasmi menunggu Mety di depan lobi.Kebetulan Edi juga lepas jaga hari ini, sehingga ia menjalankan tugasnya secepatnya.


Edi ingin memperlihatkan kinerjanya di depan istri dari pemilik perusahaan tersebut tempat Ia mengadu nasib beberapa tahun terakhir ini.


"Saya akan menunjukkan dan memperlihatkan kepada Bu Rasmi, jika saya pantas untuk bekerja dengannya dan saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk dapat bonus besar jika misi ini berhasil," batinnya Edi kepala security itu.


Metty terkejut melihat seorang pria yang sedari tadi duduk di dalam mobilnya yang berwarna putih itu. Dengan pakaian santainya terus menatap ke arahnya.


"Pria itu siapa, kenapa sejak tadi seperti melihatku terus, apa jangan-jangan dia adalah laki-laki yang dijodohkan oleh Mbak Rasmi Wulandari Nasution," Metyi membatin dengan tetap melangkah kakinya menuju ke arah mobil tersebut.

__ADS_1


Edie segera menelpon nomor hpnya Mety bertujuan agar Mety mengetahui jika dia adalah pria yang berjanji padanya akan diner bareng di salah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Metty yang merasakan getaran dari dalam tasnya segera mengambil hpnya itu lalu melihat ke arah Edi yang menaikkan hpnya itu.


Metty tersenyum ramah ke arahnya Edi," sebaiknya aku berbicara jujur saja dengan Edi dan mengajak kerjasama untuk membuat Abang Erwin Aksa Mahmud cemburu padaku dan segera menikahiku, sepertinya itu ide yang cukup brilian dan cemerlang," Mety membatin,


__ADS_2