Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 91


__ADS_3

"Reka Rahim,apa kamu mabuk seperti ini karena ditolak cintanya sama Rhoma Irama," guraunya Edi Firmansyah yang terkekeh mendengar guyonan nya sendiri.


"Tuan nikahi saya secepatnya, saya tidak ingin dicap sebagai perawan tua, tolong yah pak," rengeknya Reka rahim dalam pelukannya Edi yang langsung pingsan tak sadarkan diri akibat pengaruh minuman beralkohol yang hanya dua gelas kecil sudah membuatnya seperti orang linglung saja.


"Iya saya akan menikahimu tanpa kamu harus mabuk dulu, saya bersedia kok tapi bangun yuk," bujuknya Edi Firmansyah yang terus menepuk pipi nya Reka Rahim yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


Edi segera mengantar ke rumahnya Reka, kebetulan Edi beberapa hari yang lalu sudah mencari tahu tentang identitas Reka Rahim lengkap dengan kedua orang tuanya itu. Edi terlebih dahulu mengetuk pintu rumah yang cukup sederhana itu, tapi terlihat asri dan rapi serta bersih.


"Sudah benar kayaknya, kalau ini rumahnya Reka Rahim," tebaknya Edi seraya berusaha untuk melihat ke arah dalam rumah bercat hijau itu melalui jendela yang tertutup tirai gorden senada dengan warna cat temboknya.


Tol… tok…


"Assalamualaikum, spada sepatu apa ada orang!" Teriaknya Edi.


Seseorang berjalan tergesa-gesa dari arah dalam rumahnya itu sambil memperbaiki hijab yang dipakainya itu.


"Waalaikum salam," jawabnya.


Pintu itu terbuka dan terlihatlah seorang perempuan paruh baya yang tersenyum ramah ke arahnya Edi.


"Maaf Pak cari siapa yah?" Tanyanya ibu-ibu itu yang tidak lain adalah ibunya Reka Rahim.

__ADS_1


"Saya teman kerjanya Reka nama saya Edi Firmansyah Bu," ujarnya Edi.


"Tapi, maaf Nak Reka tidak ada di rumah," ujarnya Ibu Santi.


"Gini Bu maksud kedatanganku kesini untuk mengantar pulang Reka, karena dia sedang sakit Bu jadi saya sebagai temannya berkewajiban mengantarkannya pulang kesini," jelasnya Edi.


"Kalau gitu, Reka ada diman" tanyanya Bu Santi sambil celingak celinguk mencari keberadaan putri keduanya itu.


Edi segera berjalan ke mobilnya itu," kita ke mobilku saja Bu, Rekanya ada di dalam sana sedang tiduran Bu," balasnya Edi sembari menunjuk ke arah mobilnya yang sedari tadi terparkir dengan rapi di pinggir jalan yang cukup becek pengaruh dari kubangan air hujan.


Edi tanpa ragu secepatnya Reka sudah berada di dalam rumahnya dan segera membaringkan tubuhnya Reka ke atas ranjangnya yang cukup sempit itu karena Reka berbagi tempat tidur dengan kedua adiknya.


Edi segera berpamitan kepada Bu Santi, karena sudah cukup larut malam, lagian Reka juga belum sadarkan diri karena pengaruh minuman beralkohol itu.


"Sama-sama Bu insya Allah… Kalau ada waktu," pungkas Edi.


Bu Santi masih memperhatikan kepergian Edi dari depan rumahnya itu. Hingga punggungnya Edi tidak terlihat lagi.


"Pria yang baik dan bertanggung jawab, coba dia adalah kekasihnya putriku, mungkin saya tidak perlu mengkhawatirkan masa depannya Rieka lagi," gumamnya Bu Santi yang memikirkan masa depan anak-anaknya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mety Putri Meutia Hatta segera menemui Edi Firmansyah,ia ingin menyampaikan hal yang terjadi padanya semalam dengan Erwin Aksa Mahmud.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapanya Mety.


"Waalaikum salam, hey Mbak cantik, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya Edi yang segera berjalan menemui Mety ketika melihatnya berjalan ke arahnya.


"Bisa kita bicara sebentar Pak?" Pintanya Mety.


"Boleh banget kok Mbak, kita berbicara di sana saja," imbuhnya Edi sembari menunjuk ke arah kursi panjang yang ada di taman.


Keduanya berjalan ke arah taman itu, mereka bersamaan mendudukkan bokongnya ke atas kursi kayu itu. Keduanya duduk bersebelahan dengan jarak pemisah mereka sangat jauh, hal itu bertujuan agar tidak menimbulkan fitnah dari apa yang mereka.


"Pak Edi sebaiknya semua hubungan pura-pura kita akhiri cukup disini saja dan kebetulan karena, saya akan segera menikah dengan Mas Erwin Aksa Mahmud dan rencananya sore ini kami akan pergi ke kampung halamanku untuk melamarku," ungkap Metty.


"Jadi gimana dengan bonusnya dong?" Cicitnya Edi yang khawatir dengan bonus yang sudah Mety janjikan itu.


Mety tersenyum penuh ketulusan," ini bonus yang aku janjikan, maaf kalau sedikit, maklumlah ibu-ibu hamil butuh banyak kebutuhan dan tabungan cadangan," terangnya Mety yang tersenyum tipis.


"Berarti mulai detik ini hubungan boongan kita sudah berakhir hari ini, cukup sampai di sini saja, tapi apa aku boleh jadi temanmu?"


"Boleh kenapa enggak, mungkin suatu saat kamu butuh teman curhat silahkan telpon saya saja tapi kalau nggak kebalas berarti aku sibuk,"


"Siap besti," mereka kemudian tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Tapi, seseorang yang berencana mengantarkan bekal kotak makanan untuk Edi, terpaksa ia hanya simpan di atas meja kerjanya Edi, lalu ia berbalik badan dengan raut wajahnya yang ditekuk dan bibirnya dimonyongin hingga beberapa orang-orang memperhatikan apa yang Reka lakukan.


__ADS_2