Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 35


__ADS_3

Rasmi bukannya tidur malah telponan dengan Renata. Mereka berdua sama-sama kesepian karena suami keduanya belum ada yang pulang.


"Aku kira kamu sudah tidur, tapi pas lihat nomor kamu masih online sehingga aku telpon kamu saja mumpung belum ngantuk juga," ujarnya Renata.


"Entah kenapa malam ini mataku sulit terpejam, padahal aku enggak banyak pikiran kok," keluhnya Rasmi Wulandari.


"Pilih yang ini saja, aku sudah lelah untuk memilihnya lagi," cicit Rasmi.


Sudah pukul sebelas malam, tapi Ersam belum pulang juga sedangkan Ersam belum pulang juga. Rasmi menyempatkan waktunya untuk membalas beberapa pesan chat dari sahabatnya terutama dari Renata, perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Tetapi, hubungan mereka sudah akrab tidak seperti orang yang baru saling kenal tapi, seakan sudah lama bertahun-tahun lamanya.


"Mungkin kamu merindukan suamimu," ucapnya Renata.


Rasmi terbatuk-batuk mendengar perkataan dari mulutnya Renata," apa mungkin benar jika aku merindukan Abang Ersam karena sudah dua hari tidak saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya," batinnya Rasmi Wulandari.


"Kok kamu diam, apa kamu lagi minum?" Tanyanya Renata sambil sedikit berteriak dibalik telponnya.


"Ehh enggak apa-apa kok,"


Percakapan mereka berdua berlangsung hingga larut malam. Sedangkan Ersam sudah menghabiskan beberapa botol minuman hingga ia sudah mabuk, tapi belum mau berhenti.


"Rasmi, kenapa kamu pergi dengan pria lain, apa sama sekali aku tidak pernah ada di dalam hatimu, istriku," racaunya Ersam sambil menenggak minuman alkoholnya lagi hingga membasahinya pakaiannya.


Ninda yang melihat Ersam sudah mabuk segera bertindak dan tersenyum licik. Dia mengambil bungkusan kecil dari dalam pakaian dalamnya secara diam-diam.


"Saya yakin dengan obat ini kamu akan masuk ke dalam perangkapku," cicitnya Ninda.


Tapi, apa yang dilakukannya dilihat langsung oleh anak buahnya Ersam. Dengan secepat kilat, Anak buahnya menarik tangannya Ninda.


"Jangan coba-coba untuk berbuat dan bertindak diluar batas kesabaran kami jika tidak kamu akan hancur!" Ancamnya Anak buahnya Ersam yang ditugaskan khusus oleh Erga yang berjumlah empat orang itu.


"Cepat amankan dia kalau perlu terserah kalian mau apakan wanita baaa yaaa raan ini!" Geramnya Eka Satya Nadella anak buah kepercayaannya Erga.

__ADS_1


"Seret dia jauh-jauh dari sini hingga tidak ada yang mampu menemukannya," dengusnya Ethan.


"Tolong!! Lepaskan saya aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini!" Ratapnya Ninda.


"Ini pantas kamu dapatkan, makanya kalau mau berbuat yang tidak baik lihat orangnya dulu," sarkasnya Eka lagi.


"Masukkan dia ke dalam ruangan itu dan minumkan obat ini, sebelum pria cabul datang ke dalam ruangan tersebut, tapi apa kamu memanggil banyak pria kan?" Edi pada anak buahnya.


"Mereka sudah berada di jalan Bos,semua orang yang datang sesuai dengan apa yang Bos inginkan,"


"Kerja yang bagus, Ingat awasi mereka kami akan pergi menjaga Tuan Muda Ersam,"


Edi,Ethan dan Eka segera pergi dari kamar tersebut dengan senyuman penuh kemenangan. Anak buah mereka memakai perempuan itu sebelum pria mata keranjang datang. Ninda bahkan berteriak-teriak meminta tolong hingga tidak berdaya.


Ersam berjalan tertatih ke arah luar, tapi baru saja tangannya meraih handle pintu mobilnya ia sudah terjatuh ke atas aspal. Untung saja Eka segera bergerak untuk menolong anak majikannya itu, sehingga Ersam terbebas dari tamparan keras dari aspal malam itu.


"Cepat masukan ke dalam mobil,Eka kamu saja yang nyetir mobilnya Tuan Muda sedangkan kami akan mengikuti kamu dari belakang,"


"Sepertinya Tuan Muda sedang pusing karena akan bertunangan dengan wanita lain padahal Tuan Muda sudah menikah dengan perempuan yang suaminya ditabranya," tebaknya Emil.


"Ternyata jadi orang kaya menjadikan kita tidak bebas untuk bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan," tampiknya Ethan.


"Hidup kadang tidak adil bestie, apapun itu kita nikmati dunia ini dengan sebaik-baiknya jangan sampai nyesel deh dikemudian hari,"


Mobil mereka sudah berhenti di depan pintu rumahnya Rasmi. Dengan terburu-buru mereka membunyikan bel pintu. Rasmi yang baru saja berniat untuk menarik selimutnya terganggu dengan suara bel itu.


"Apa itu Abang Ersam, apa dia keluar melupakan kunci rumah?"


Rasmi memakai hijab instannya sebelum berjalan ke arah depan. Rasmi membuka pintu itu dengan tergesa-gesa, tapi betapa terkejutnya melihat pria yang sedang dipegang oleh beberapa pria yang bertubuh tinggi, jangkung dan besar itu.


"Maaf apa Anda ibu Rasmi?" Tanyanya Eka Satya yang berpura-pura tidak mengenal Rasmi dan Ersam.

__ADS_1


"Benar sekali," balasnya Rasmi.


"Kami adalah pegawai club tempat Pak Ersam minum dan melihatnya mabuk sehingga kami berniat membantu Pak Ersam,"


"Sudah jelaskannya bawa dulu masuk Abang Ersam, saya sudah mengerti dengan apa yang terjadi," sanggahnya Rasmi.


"Tolong suaminya dijaga dengan baik Bu sebelum ibu digantikan dengan pelakor yang merajalela di luar sana yang beterbangan ke sana kemari mencari mangsa,"tuturnya Ethan.


Rasmi terdiam mendengar perkataan dari salah satu dari pria yang membantu Ersam.


Beberapa pria itu pergi dari sana dan meninggalkan Rasmi di depan pintu dengan terdiam sesaat memikirkan dan mencerna perkataan dari banyaknya orang. Ada benda jatuh yang berbunyi sehingga Rasmi bergegas mengunci rapat pintu rumahnya.


"Apa Abang seperti ini sedari dulu, tapi seingat aku Abang Ersam paling anti alkohol, tapi semua itu bisa berubah tergantung dari gantungannya,"


Rasmi tersentak terkejut melihat Ersam yang sudah berbaring di atas lantai dalam kondisi yang masih mabuk . Rasmi segera membantu Ersam untuk naik ke atas ranjangnya. Tapi, bukannya menolong Ersam malah tubuhnya Rasmi yang ditindih oleh Ersam.


Hingga kedua pasang mata mereka saling bertemu satu sama lainnya. Ersam menyentuh bibirnya Rasmi yang merah merona, hidung hingga kembali ke bibirnya lagi.


"Kamu semakin cantik istriku," lirih Ersam.


Rasmi tak mampu bergerak karena tubuhnya terkungkung, tangannya menjadi kaku seketika itu juga. Deru nafas keduanya saling bertabrakan hingga jantung mereka yang berdetak kencang hingga detak jantungnya keduanya kedengaran dengan jelas.


Ersam perlahan menurunkan bibirnya hingga bibir mereka saling bertemu. Ersam perlahan mere luuuu maaatt bibir itu dengan perlahan. Rasmi seolah tersihir hingga tak mampu bergerak menolak ataupun menghindar.


Ersam tersenyum karena Rasmi sama sekali tidak menolak apa yang sudah ia perbuat. Lambat laun perbuatannya Ersam semakin berani dan tanpa mereka sadari, pakaian mereka sudah terbang hingga tak tahu arah.


"Rasmi aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu,"


Malam itu menjadi malam pertama bagi kedua pasangan suami istri itu yang terbilang baru beberapa minggu mereka menikah. Rasa sakit dan teriakan kecil dari mulutnya Rasmi menghiasi dan mewarnai kediaman keduanya di tengah malam itu.


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...

__ADS_1


__ADS_2