Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 76


__ADS_3

Untuk menghilangkan rasa bosannya, Rasmi Wulandari Nasution membaca beberapa majalah male yang berada di atas meja. Ia keheranan melihat Methy Putri Meutia Hatta yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.


Semua tertawa bahagia dengan berita suka cita dari dua pasangan suami istri itu. Jadi empat perempuan bumil yang siap-siap menanti kelahiran bayi mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda.


Istri dari Erick Aryanta Dewantara bernama Renata Annisa Kuswanto, Rasmi Wulandari Nasution dengan Ersam Arsenio Dewantara, Ridah Khaerani Azizah Wijaya dengan suaminya Erga Prayoga Yudistira dan yang terakhir Methy yang masih penuh dengan misteri dan teka-teki apakah Erwin bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya itu.


Air matanya Methy menetes membasahi pipinya itu, sejak kepergian Erwin dia sudah bangun tapi, kembali berpura-pura tertidur dan semua perkataan orang-orang dengan jelas ia dengar dengan baik.


"Ya Allah… apa sebenarnya yang terjadi padanya, entah kenapa perasaanku sangat takut dengan kondisi dari Methy," batinnya Rasmi.


Berselang beberapa menit kemudian, hpnya yang berada di dalam tasnya berdering pertanda ada orang yang menghubungi nomornya itu.


"Siapa yang menelpon ku siang-siang begini,apa Abang Ersam," cicitnya.


Betapa bahagianya Rasmi karena dugaannya benar adanya, jika orang yang menelponnya adalah suaminya sendiri yang sekarang berada di negri ginseng Korea Selatan Seoul. Rasmi segera mengalihkan telponnya ke video call.


"Assalamualaikum suamiku," sapanya Rasmi.


"Waalaikum salam istriku yang tidak ada duanya di dunia dan tidak akan terganti cintaku seutuhnya hanya untuk Rasmi Wulandari Nasution calon ibu dari anakku," gombalnya Ersam Arsenio Dewantara yang beberapa hari ini ia selalu suka memberikan kata-kata romantis untuk istrinya itu yang berakhir dengan Rasmi mengatakan kalau itu hanyalah gombalan semata ditujukan untuknya, tapi ia bahagia mendengarkan.


"Aahh Abang Ersam mulai lagi deh," ujarnya Rasmi.

__ADS_1


"Abang setiap hari akan meluangkan waktu untuk melakukan hal ini agar istriku tercinta semakin sayang dan cinta padaku," ujarnya Ersam yang tersenyum menawan di depannya Rasmi.


"Abang kalau seperti itu terus bisa-bisa saya semakin merindukan Abang loh, jadi gombalnya sudah aah aku bisa-bisa suruh suamiku untuk segera balik dari Korsel," pungkasnya Rasmi.


"Hahaha," suara tawa dari Ersam menggema memenuhi seluruh sudut ruangan tersebut.


Hingga relasi bisnisnya yang kebetulan baru datang ke tempat itu mengerutkan keningnya karena tidak biasanya melihat Ersam seperti itu.


"Abang udah aah lihat di belakangnya Abang, orang-orang pada lihatin Abang loh ya jadi aneh seperti itu, karena tamunya Abang sudah datang aku tutup telponnya yah, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," jawabnya Ersam yang telah berhasil menggoda istrinya itu.


Metty yang mendengar kebahagiaan atasannya itu lagi-lagi kembali meneteskan air matanya dengan diam-diam hingga suara sesegukan terdengar dari bibirnya itu.


Rasmi menajamkan pendengarannya itu dan berjalan ke arah ranjang bangkar yang ditempati oleh Metty yang sedari tadi berbaring di atasnya yang awalnya tidak sadarkan diri itu.


"Mety, kenapa dek kamu menangis apa yang terjadi padamu? Katakan pada Mbak insya Allah… kalau bisa saya bantu kamu untuk atasi kesedihanmu ini," ujarnya Rasmi.


Mety langsung bangun dari posisi rebahannya lalu langsung berhamburan ke dalam pelukannya Rasmi.


"Mbak a-ku mo-hon jangan bertanya padaku siapa pria yang telah melakukannya karena, semua itu percuma saja pria itu tidak ingin bertanggung jawab padaku ini," ucapnya sendu Mety.

__ADS_1


"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya ini, tapi kalau itu sudah menjadi keputusanmu Mbak tidak akan bertanya lagi, satu hal yang Mbak minta jangan sekali-kali kamu mencoba untuk membunuh calon bayimu,ia sama sekali tidak bersalah Met, tapi perbuatan kalian berdua lah yang telah keliru sehingga lahirlah calon bayimu, untungnya obat yang kamu minum itu tidak membuat kamu kehilangannya, jadi please jangan seperti itu lagi hiduplah dengan baik bersama dengan calon bayimu walaupun pria itu tidak ingin mengakui apa yang dilakukannya padamu," jelasnya Rasmi panjang lebar.


Mety menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Rasmi.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Mbak Rasmi masih banyak orang-orang yang baik disekelilingku dan aku berjanji akan melahirkannya dengan selamat dan membesarkannya tanpa pertanggungjawaban dari Mas Erwin Aksa Mahmud, insya Allah aku pasti bisa," lirihnya Mety.


"Kamu pulanglah dulu beristirahat, jika kondisimu sudah membaik barulah kamu datang bekerja,ada Mbak yang bisa menghendle pekerjaanmu," pintanya Rasmi yang mengusulkan agar Mety bisa pulang ke rumahnya untuk beristirahat.


"Makasih banyak Mbak,kalau gitu aku pamit pulang dulu, assalamualaikum," ucap Mety sambil mengemasi seluruh barang-barangnya yang sempat ia bawa tadi ke dalam ruangan klinik.


"Waalaikum salam, hati-hati dijalan ingat kalau kamu butuh apapun itu, kamu tidak perlu segan untuk memintanya sama mbak dengan senang hati akan aku bantu kamu kok,"


"Thanks Mbak," balasnya Mety lalu meninggalkan tempat klinik tersebut.


Sedangkan sejak Nety keluar dari dalam klinik dan berpisah dengan Rasmi,ia terus diikuti dan dibuntuti oleh Erwin. Pria yang sama sekali tidak ingin bertanggung jawab menikahi Mety, tapi telah berjanji dan memutuskan untuk membiayai keseluruhan kebutuhan calon anaknya.


Metty berdiri di trotoar jalan menunggu busway, karena setiap hari ia berangkat kerja memakai jasa angkutan umum sejuta umat itu karena untuk menghemat biay. Mengingat ibu dan kedua adiknya sangat membutuhkan biaya setiap bulannya dan dia menjadi tulang punggung di keluarganya yang dari kampung.


"Aahh! Jangan!" Teriak Mety.


Tapi, ketika keadaan sepi, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya lalu memasukkan ke dalam mobil tersebut. Metty tidak menyangka jika pria itu adalah Erwin.

__ADS_1


__ADS_2