
Mety tersenyum penuh kemenangan melihat reaksinya Erwin Aksa Mahmud Badaruddin sesuai dengan dugaan dan apa yang diinginkannya.
"Pak Edi, kita mulai kesepakatan kita karena kebetulan Erwin datang ke kafe ini," bisiknya Mety.
Edi sedikit melirik sekilas ke arah Erwin Aksa Mahmud bersama seorang perempuan yang membuatnya cukup terkejut dan melongok tak percaya.
"Kenapa pria itu yang bersama dengan Mety apa dia pria yang membuat bunting Mety yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab,di depan umum saja mereka berani bermesraan seperti itu apalagi fi belakang kami," ketusnya Reka Rahim.
"Tetaplah berakting seperti ini terus Edi Firmansyah agar Erwin semakin terbakar api cemburu," bisiknya Mety Putri Meutia Hatta.
Edi melirik sekilas ke arahnya Erwin dan Reka Rahim yang memilih duduk tidak jauh dari meja mereka.
"Mas apa kita akan seperti ini terus, sebenarnya apa sih maksud dan tujuan kita ke sini?" Tanyanya Reka Rahim yang mulai jengkel dengan sikap yang diperlihatkan oleh Erwin Aksa Mahmud di hadapannya itu.
Erwin mengalihkan perhatiannya dari mejanya Mety ke arahnya Reka Rahim," maafkan saya Re, sejujurnya saya mendekatimu hanya untuk mengindari diri dari pesonanya Mety,tapi saya sadari semakin aku menghindar dan berusaha untuk melupakannya semakin aku tidak bisa, jujur orang yang telah merenggut kesuciannya Mety adalah saya, pria brengsek yang tidak tahu diri telah mencicipinya tapi, setelah aku tahu dia hamil aku terlalu takut untuk menikah karena bayang-bayang pernikahan kedua orang tuaku yang bercerai padahal awalnya mereka sangat saling mencintai, karena itulah saya tidak berani untuk berkomitmen dengan seorang perempuan walaupun jelas-jelas saya sangat mencintai Nety," ungkap Erwin Aksa Mahmud.
Apa yang dikatakan oleh Erwin mampu menampar wajahnya saking terkejutnya dengan kenyataan yang ada. Walaupun sebelumnya,Reka sudah mendapatkan beberapa petunjuk tentang hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Makasih atas kejujurannya, semoga hubungan kita kedepannya masih baik seperti dan sebelum ada kejadian ini, maaf saya sudah hadir ditengah-tengah hubungan kalian berdua," ujarnya Reka Rahim yang langsung berdiri dari duduknya lalu pergi dari kafe xx tersebut.
Reka berusaha untuk menahan air matanya itu,ia tidak menyangka jika cinta pertamanya akan berakhir seperti ini. Sungguh tragis kisah percintaannya yang jatuh cinta pada pria yang telah memperalat dan memanfaatkannya demi untuk menunjukkan kepada perempuan itu, jika dia bisa hidup dengan wanita lain.
"Sakitnya tuh disini ya Allah… malang sekali nasibku baru jatuh cinta sudah dihempaskan dengan kenyataan yang ada jika, laki-laki itu sama sekali tidak menyukaiku," gumamnya Reka Rahim dengan menitikkan air matanya itu yang sudah membasahi pipinya.
Edi Firmansyah Gaffar tanpa sengaja melihat Reka ulang berjalan tak tentu arah menyusuri jalan protokol Ibu kota.
"Kenapa dia seorang diri saja? Dimana Erwin?" Cicitnya Edi sambil tangannya masih setia di atas kemudi mobilnya itu yang tanpa sengaja melihat perempuan yang egois dan keras kepala itu berjalan seorang diri.
"Saya akan melakukan apapun agar Mety tidak lari dari dalam pelukanku," gumamnya Erwin yang melihat ke arah Edi Firmansyah Gaffar dan kekasihnya itu, tapi keduanya sudah balik duluan karena meja dan kursi yang mereka pakai sudah kosong melompong.
Edi mengantar pulang ke rumahnya Mety atau rumah yang mereka tempati bersama dengan Erwin.
"Thanks yah atas traktirannya, makasih jugy sudah membantuku hari ini, semoga besok dan kedepannya masih bisa bekerja sama denganku sampai pria egois dan keras kepala itu setuju untuk menikahku," ungkap Mety.
"Siap empat lima besti yang paling penting ingat bonusnya akhir bulan," candanya Edi lalu segera menyalakan mesin mobilnya itu.
__ADS_1
Edi segera mengemudikan mobilnya secepatnya agar ia tidak kehilangan jejaknya Reka perempuan yang entah kenapa membuat seorang kepala security di perusahaan READ Tbk milik Ersam Arsenio Dewantara begitu penasaran dengan sosok perempuan kepo dan judes itu.
"Ya Allah… semoga saja Reka dalam keadaan yang baik-baik saja dan aku tidak terlambat," gumamnya Edi.
Metty membuka pintu rumah itu dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu bagian di dalam benaknya. Bahagia karena berhasil membuat Erwin cemburu dan marah padanya, kedua disisi lain ia juga takut jika, Erwin tiba-tiba mengusirnya dari dalam rumah yang cukup mewah itu walau tidak terlalu besar.
Mety sungguh betapa terkejutnya, ketika melihat siapa sosok orang yang sudah berdiri menunggu kedatangannya di belakangnya itu. Tanpa banyak pikir, Erwin segera mengunci rapat pintunya itu dan langsung menggendong tubuhnya Mety ke arah dalam kamarnya Mety yang berada di lantai dasar.
"Abang! Apa yang terjadi padamu, kenapa kamu menggendongku, tolong turunkan aku please entar aku jatuh, ingat ada calon bayimu di dalam perutku ini," teriaknya Mety yang mulai ketakutan.
"Kamu diamlah agar tidak terjatuh, tidak perlu memberontak karena, saya akan memperlihatkan padamu siapa pria yang berhak menyentuh dan memperlakukanmu dengan romantis penuh kemesraan bukan pria lain," ketusnya Erwin lalu menurunkan tubuhnya Mety dengan perlahan ke atas ranjang king size-nya.
Erwin mulai melucuti seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya Mety. Hingga tak ada selembar kain pun yang tersisa di atas permukaan kulitnya Mety.
Baru kali ini Merty melihat sikapnya Erwin yang tidak seperti biasanya itu. Ia mulai gemetaran ketakutan, air matanya menetes membasahi pipinya itu. Dia mulai sesegukan tersedu-sedu dan membuat Erwin mengerutkan keningnya itu pertanda keheranan melihat reaksinya Mety.
Erwin spontan memeluk tubuhnya Mety dengan penuh kelembutan dan kasih sayang," sayang kenapa kamu menangis? Abang tidak akan menyakitimu kok, Abang hanya ingin berjumpa dengan calon anakku, kan sudah tiga hari aku tidak menengok calon anak kita," imbuhnya Erwin seraya mengecup keningnya Mety.
__ADS_1