
"Tunggu aku telpon teman aku dibagian personalia agar berkas kamu disetor sebelum waktu pendaftarannya ditutup," usulannya Ridah seraya mencari nomor telepon temannya itu.
Hanya berselang beberapa menit saja, berkasnya Rasmi sudah berada di atas meja bagian penerimaan karyawan baru.
"Ayo kita ke uks dulu untuk obati kaki kamu, takutnya kalau dibiarkan begitu saja entar bisa tambah parah dan infeksi," imbuhnya Ridah.
"Tidak apa-apa kok Ri, ini hanya luka ringan dan kecil saja, insya Allah besok sudah sembuh," tolaknya Rasmi karena tidak ingin merepotkan dan memberikan beban pada temannya itu.
"Saya tidak butuh alasan dan persetujuan dari kamu, yang jelasnya lukamu ini harus diobati kamu itu sedari dulu selalu begini kapan berubahnya," ketusnya Ridah yang sudah memapah Rasmi untuk segera ke klinik perusahaan.
Mereka menjadi pusat perhatian dari beberapa pasang mata, termasuk Erga sendiri. Erga diam-diam mengikuti mereka hingga ke depannya klinik. Rasmi segera mendapatkan perawatan dan pertolongan kepada lukanya.
__ADS_1
"Untung Kamu cepat bawa ke sini, kalau tidak bisa infeksi lukanya dan kemungkinannya beberapa hari kedepannya tidak bisa berjalan dulu," jelas Dokter klinik.
"Dia sedari tadi ngeyel dokter, aku mau antar ke sini tapi selalu menolak dengan seribu alasan," sarkas Ridah.
Erga segera menelpon asisten pribadinya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kakak iparnya.
"Apa yang terjadi dengan Mbak Rasmi? Semoga saja enggak parah karena aku lihat dia tadi berjalan terpincang-pincang, tapi kalau Abang Ersam tahu hal ini bisa gawat," gumam Erga Prayoga yang terus menatap kearah kedua perempuan yang berjalan serius ke arah klinik.
"Tuh dengerin apa kata dokter, untungnya tes nya nanti empat hari ke depannya baru dilaksanakan jika tidak kamu bisa kerepotan," imbuhnya Ridah yang cerewetnya mengalahkan emak-emak rempong saja.
Rasmi hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari kedua wanita cantik yang berdiri di depannya itu.
__ADS_1
"Ya Allah… ternyata lumayan sakit juga padahal hanya terkena buku saja bukan batu tapi lumayan ngilu," batinnya Rasmi.
Beberapa menit kemudian, Rasmi sudah bisa pulang karena serangkaian proses pendaftaran hari ini sudah rampung. Hari jumat barulah semua itu orang yang datang mendaftar diharapkan kembali lagi untuk mengikuti beberapa tes wawancara dan tes tertulis.
Rasmi diantar pulang oleh Ridah, karena untuk mengendarai motornya sendiri kemungkinan besarnya sangat lah berbahaya sehingga Rasmi diantar pulang oleh temannya itu. Sedang motornya Rasmi di titipkan di perusahaan untuk sementara waktu karena,Ridah mengantar Rasmi pulang menggunakan mobilnya sendiri.
Diam-diam apa yang kedua perempuan itu diperhatikan oleh dua pasang mata yang berdiri di tempat yang berbeda. Erga memperhatikan dari jauh perempuan yang bersama dengan Rasmi Istri dari abangnya sekaligus pemilik perusahaan tersebut.
"Kok baru lihat perempuan itu bekerja di sini yah dan kenapa aku sepertinya pernah melihat perempuan itu, tapi dimana?" Lirihnya Erga yang terus menatap dengan tajam ke arah mereka yang meninggalkan perusahaan.
Sedangkan di tempat lain seseorang menyesal atas kejadian yang disebabkan oleh ulahnya sendiri, "Ini semua gara-gara aku yang sudah terlalu ceroboh saat berjalan, kasihan kakinya membengkak gara-gara terkena beberapa buku dan berkas yang aku bawa tadi," gumamnya Edo pria yang sempat bertabrakan dengan Rasmi tadi pagi.
__ADS_1