Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 48


__ADS_3

"Ya Allah… apa yang terjadi pada Rasmi, semoga sahabatku itu baik-baik saja," cicitnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang ikut berlari sambil menenteng handbagnya Rasmi yang terjatuh ke atas lantai dan juga beberapa berkas penting.


Beberapa orang segera berjalan terburu-buru untuk membantu Rasmi yang pingsan, untung saja ada seseorang yang dengan gesit dan cekatan serta lincah membantu Rasmi, agar tubuhnya tidak terjerembab ke atas lantai yang dingin itu.


Orang itu segera menggendong tubuhnya Rasmi menuju klinik perusahaan. Ridah mengikuti langkah orang yang menolong Rasmi sedang yang lainnya bubar kembali ke aktifitas dan rutinitas mereka masing-masing.


Orang itu tanpa peduli dengan tatapan banyaknya pasang mata melihat dan memperhatikannya, ia tetap melanjutkan perjalanan sambil menggendong tubuhnya Rasmi yang masih tidak sadarkan diri itu.


"Rasmi, bertahanlah kita sudah hampir sampai di klinik, aku mohon jangan seperti ini," lirihnya orang itu yang dari raut wajahnya nampak kecemasan yang berlebih-lebihan.


"Dokter!!" Teriaknya yang membuka pintu klinik tersebut dengan menendang sekuat-kuatnya.


"Dokter Nisa!" Teriaknya Ridah.


Ridah terkejut dan tidak menyangak setelah melihat dengan jelas dan menyadari siapa orang yang telah menyelematkan Rasmi hingga tidak terjatuh ke atas lantai.


Dokter Nisa segera menuju ke tempat beberapa orang yang memanggil namanya.


"Baringkan ke atas ranjang!" Pintanya Dok. Annisa.


Pria itu segera membaringkan tubuhnya Rasmi ke atas bangkar klinik dengan perlahan.

__ADS_1


"Tolong periksa dia, apa yang terjadi padanya? Sampai-sampai hingga detik ini belum sadar juga dari pingsannya.


Dokter Nisa mengambil peralatan dokternya dengan telaten, hati-hati dan secara seksama memeriksa tubuhnya Rasmi. Setelah beberapa menit kemudian, dokter Nisa telah memeriksa kondisi kesehatannya Rasmi.


"Anda tidak perlu khawatir dan cemas seperti itu Pak Ersam, kondisi dari Mbak Rasmi baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi, untuk memastikan lebih jelas dan detailnya silahkan bawa Mbak Rasmi ke dokter khusus kandungan," jelasnya Dokter Annisa.


"Dokter kandungan!" Beonya serentak Ersam dan Ridah.


Annisa cukup terkejut melihat reaksi kekompakan keduanya. Sedangkan Erga Prayoga Yudistira yang baru tiba setelah mendapatkan informasi dari beberapa security dan karyawati perusahaan ikut menimpali perkataannya dokter Nisa.


"Emangnya ada apa dengan dokter kandungan Dok, kenapa meski harus dibawa ke dokter kandungan untuk berobat?" Tanyanya Erga yang cukup kebingungan.


"Hemm!" Ersam berdehem untuk mengalihkan perhatiannya Erga.


Erga segera berpaling ke arah Ersam membuatnya langsung salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Erga mengira jika, suaminya Rasmi sekaligus atasannya dan pemilik perusahaan tersebut dan juga saudara angkatnya tidak hadir di tempat itu,jadi dia bertindak sebagai adik ipar yang baik dan penuh perhatian.


"Abang Ersam," cicit Erga yang tersenyum cengengesan.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Pak Erga, Dokter kenapa enggak di periksa di sini saja dan mengharuskan kami membawanya ke rumah sakit khusus kandungan?" Tanyanya Ridah yang ikut keheranan melihat pernyataan dari dokter.


Ersam tak melepaskan pegangan tangannya dari genggaman tangan istrinya itu. Dia sangat khawatir melihat raut wajahnya Rasmi yang pucat pasi.

__ADS_1


"Ini semua salahku, kenapa aku harus menuruti semua perkataannya dan perintahnya untuk pergi jauh dari hidupmu," batinnya Ersam seraya mengecup kepalan tangannya Rasmi yang masih betah pingsan.


Rasmi kelihatan sama sekali tidak pingsan,tapi seperti seseorang yang sedang tertidur pulas saja.


Dokter Nisa tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari beberapa orang tersebut yang kemungkinan besarnya tidak mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Rasmi Wulandari Nasution. Dokter Nisa berjalan ke arah meja kerjanya sebelum menjawab pertanyaan dari mereka itu.


Ridah dan Erga mengikuti langkahnya Dok.Nisa sedangkan Ersam masih setia duduk di ujung ranjang yang dipakai oleh Rasmi.


Dokter tersenyum tipis sebelum menjelaskan perihal tentang apa alasan Sebenarnya sehingga Rasmi pingsan.


"Sebenarnya seperti ini Pak, Mbak Rasmi itu sama sekali tidak sakit ataupun tidak perlu terlalu mencemaskan keadaan kesehatannya karena, Mbak Rasmi tidak sakit parah, tapi yang menyebabkan Rasmi tak sadarkan diri sesuai dengan apa yang sudah saya periksa di tubuhnya Mbak Rasmi kemungkinan besarnya positif hamil, tetapi untuk memastikan hal tersebut segera bawa Mbak Rasmi ke dokter kandungan saja," terangnya Dokter Nisa panjang lebar.


Ersam segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah ketiga orang tersebut, "Apa!? Istriku hamil Dok?"


Dokter Annisa yang sejak awal bekerja di sana sudah menaruh perhatian pada Ersam saking kagetnya hingga raut wajahnya langsung berubah drastis.


Ridah pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan dan dialami oleh dokter Annisa," apa! Rasmi istrinya Pak Ersam Arsenio Dewantara pemilik perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini!" Ucapnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang sangat tidak terduga dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut CEO mereka langsung.


"Benar sekali, saya pria yang telah menikahi Rasmi sekitar kurang lebih empat bulan yang lalu, pernikahan kami belum sempat dipublikasikan di depan umum," ungkap Ersam dengan mantap.


"Woooo amazing Rasmi menikahi seorang pria Sultan," balasnya Ridah yang sangat heboh dan membuat ketiganya kembali tercengang karena menurut mereka reaksinya Ridah tidak seperti yang mereka bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2