
Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara Methy Putri Meutia Hatta dengan Erwin Aksa Mahmud terjalin dengan komitmen tidak ada diantara mereka yang akan menuntut dan meminta untuk menikah, apalagi melibatkan perasaan hati dan cinta di dalam hubungan simbiosis mutualisme keduanya itu.
Hingga tubuhnya Erwin terjatuh, lemas, terkulai di sampingnya Mety yang nafasnya memburu dan ngos-ngosan. Suara deru nafas mereka disore itu memenuhi setiap sudut penjuru kamarnya. Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh mereka.
"Saya sangat bahagia, thanks," lirihnya Erwin lalu mengecup sekilas keningnya Mety sebelum memejamkan matanya itu.
Hubungan seperti itu berlangsung hingga beberapa minggu kedepannya. Setiap hari keduanya berangkat bersama ke perusahaan, tapi separuh jalan Mety akan diturunkan sebelum halte busway. Hal itu sesuai dengan keinginannya Metty sendiri. Hubungan layaknya suami istri terjadi setiap harinya mereka lakukan.
Semua terjadi begitu saja dengan keinginan keduanya tanpa ada paksaan sedikitpun. Mety bersyukur karena, kehidupan ekonomi keluarganya bisa terbantu dan perlahan penyakit ibunya berangsur sembuh dan membaik.
Pintu mobil itu tertutup rapat," ingat susumu kamu harus minum,obat serta vitamin juga jangan seperti anak kecil yang selalu diingatkan," tukasnya Erwin lalu segera menyalakan mesin mobilnya itu.
Mety tersenyum penuh bahagia, karena Erwin sangat perhatian padanya walaupun karena gara-gara dia mengandung anaknya Erwin, tetapi Mety sama sekali tidak peduli selama kehidupannya terjamin dan juga adik serta ibunya itu sudah cukup.
"Jikalaupun hubungan kami berakhir kedepannya tidak masalah yang paling penting dia menafkahi anakku karena diluar sana banyak kok yang bisa membesarkan buah hatinya itu dengan status single parent tanpa pernikahan,"
Tiga bulan kemudian…
Perut Rasmi, Renata Annisa Kuswanto,Mety dan Ridah Khairani Azizah Wijaya sudah nampak kelihatan membesar dan membuncit. Ketiganya sama sekali anteng menjalani status baru mereka sebagai calon ibu muda.
Mety sering mendapatkan perkataan yang bernada cibiran dan hinaan tapi, sebisa mungkin ia tidak terprovokasi dan terhasut oleh semua perkataan yang menjatuhkan itu. Ia hanya membalasnya dengan senyuman karena, ini sudah menjadi pilihannya sendiri. Renata sudah menunggu hari kelahiran anak pertamanya yang sudah diketahui jenis kelaminnya seorang perempuan.
__ADS_1
Sedangkan Ridah sudah jalan empat bulan lebih usia kehamilannya tapi, masih bekerja walaupun Erga Prayoga Yudistira sudah melarangnya, tapi Ridah lebih stres dan bosan jika berada di rumahnya terus-menerus.
Dia memberikan alasan kepada suaminya jika dia melahirkan akan cuti selama sembilan bulan lamanya hingga anaknya berusia sepuluh bulan baru kembali bekerja lagi.
Sedangkan Rasmi sudah masuk jalan tujuh bulan, rencananya Ersam akan mengadakan pengajian tujuh bulanan untuk calon babynya itu. Rasmi menyambut baik rencana dari suaminya itu Ersam Arsenio Dewantara. Rencana Ersam juga akan mengumumkan pernikahannya dan siapa pemilik perusahaan RAAD Tbk kepada khalayak umum..
Rasmi Wulandari Nasution dengan suaminya bergandengan tangan dengan penuh kemesraan. Rasmi meleewati meja sekretaris suaminya itu yaitu Metty.
"Abang jalan duluan saja, ada yang ingin aku sampaikan pada Mety," pintanya Rasmi.
"Oke jangan lama-lama, soalnya Abang ingin keluar meeting bersama Erga jadi kamu handle pekerjaan Abang yang sepertinya sudah numpuk di atas meja kerjaku," imbuhnya Ersam.
Rasmi kemudian berjalan ke arah Mety yang sibuk mengetik pekerjaannya.
"Assalamualaikum Mety," salamnya Rasmi sembari duduk di kursi yang ada di samping kirinya Mety.
Metty menolehkan sepintas kepalanya ke arahnya Rasmi istri dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja yang sudah hampir setahun itu.
"Waalaikum salam Bu," sapanya Mety.
"Jangan terlalu lama duduk, kamu itu sedang hamil, sesekali jalan-jalan lah supaya otot-otot perutmu tidak kaku dan keadaan bayimu juga baik perkembangan dan pertumbuhannya," sarannya Rasmi.
__ADS_1
"Iya Bu makasih banyak atas masukannya, akan saya perhatikan untuk kedepannya." Timpalnya Metty.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, tapi sebaiknya kita bicaranya di tempat lain saja, gimana kalau makan siang nanti saya ajak kamu makan di kafe yang ada di seberang jalan, katanya masakannya mereka enak-enak tapi, harganya terjangkau," tuturnya Rasmi.
Raut wajahnya bimbang walaupun ia punya gaji sendiri, tapi ia tetap menyisihkan setiap bulannya uang untuk calon anaknya nanti hingga dia lahir dan sampai anaknya besar,
"Tapi Bu," ucapnya Mety.
"Tidak ada kata tapi-tapian saya yang akan membayar semua biayanya jadi cukup siap untuk berbincang-bincang denganku saja,"
"Oh begitu, baiklah Bu padahal saya tidak bermaksud menolak ajakan ibu karena uang, tapi karena masih banyak pekerjaannya yang secepatnya saya harus selesaikan tapi saya tidak bakalan bisa menolak ajakan ibu mumpung gratis.," Tukasnya Mety yang tersenyum tipis menanggapi perkataannya sendiri.
"Baiklah, kalau gitu ingatkan saya jika sudah jam istirahat karena kadang saya lupa waktu jika sudah bekerja," imbuh Rasmi lalu berjalan menuju ruangannya CEO dengan perutnya yang semakin membuncit saja dan jika dibandingkan dengan perutnya Renata dan ibu hamil lainnya, Rasmi yang paling besar dari yang lainnya.
"Siap Bu,"
Mety sama sekali tidak curiga dengan maksudnya Rasmi mengajaknya untuk bertemu dan makan siang bareng. Sebenarnya Rasmi sudah beberapa kali melihat dia dan Erwin Aksa Mahmud salah satu menejer di perusahaan suaminya itu sekaligus adik sepupunya Ridah sahabatnya itu.
Seperti tadi, ia melihat Mety keluar dari dalam mobilnya Erwin dan ini bukan yang pertama kalinya, tetapi sudah kerap kali menjadi saksi kejadian tersebut.
"Semoga saja Mety mau jujur dan berterus terang dengan hubungan apa yang tercipta diantara mereka , siapa sebenarnya pria yang menghamilinya hingga saat ini laki-laki itu tidak datang dan bersedia untuk menikahinya padahal perutnya sudah besar dan kasihan juga dengan nasibnya seperti itu," gumamnya Rasmi Wulandari Nasution.
__ADS_1