
Rasmi pulang siang itu dalam keadaan pincang, ia sesekali mengeluh kesakitan karena lukanya itu sudah mulai menunjukkan rasa sakit dan ngilu.
"Ini rumahmu Ras?" Tanyanya Ridah ketika sampai di depan rumahnya Rasmi.
"Maaf rumahku kecil,"
"Mana kecil kalau gini lagian dari segi mananya kamu bilang kecil ini bagus loh, aku perhatiin daerahnya juga aman dan nyaman pasti tinggalnya di sini," pujinya Ridah yang memandang ke sekeliling rumahnya Risma.
Rasmi tersenyum menanggapi perkataan dari sahabatnya itu," kamu mujinya terlalu ketinggian, ayo masuk ke rumah jangan berdiri di luar terus," ajaknya Rasmi yang sudah berjalan sendiri lebih duluan tanpa dibantu dipapah oleh Ridah lagi.
Ridah masuk kedalam rumahnya Rasmi dan kembali terkagum melihat penampakan rumahnya Rasmi.
"Rasmi, kamu dapat barang ini semua dari mana bagus-bagus loh, ini kursinya empuk banget malah kalah punyaku yang ada di rumah,"
Rasmi sedikit terkejut karena barang-barang tersebut bukan seperti yang dibelinya beberapa hari yang lalu. Rasmi juga bingung padahal tadi pagi masih memakai furniture lamanya.
__ADS_1
Rasmi menutup mulutnya saking terkejutnya setelah menyadari akan hal itu, "Apa Abang Ersam yang mengganti semuanya? Kalau bukan dia siapa lagi yang berani memindahkan dan menukar barang-barangku," gumam Rasmi.
Ridha menaikkan kedua alisnya melihat tingkahnya Rasmi yang duduk sambil nampak kesal.
"Rasmi, apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Ridah sambil menggoyang lengannya Rasmi.
Rasmi menggoyang ke-dua tangannya di depan Ridah, "Saya baik-baik saja kok, saya hanya berpikir dan berharap semoga hari kamis nanti saya sudah sembuh," elaknya Rasmi yang menutupi kenyataan yang ada.
"Ohh, kalau gitu aku pamit dulu mau lanjut kerja entar Pak Edi motong gajiku lagi," candanya Ridah yang berpamitan kepada sahabatnya itu.
Ridah yang melihat hal itu segera mencegahnya," kamu tidak perlu repot-repot mengantarku,aku masih tahu jalan pulang kok insya Allah gak kesasar," guraunya Ridah yang kembali berjalan ke arah dalam.
Berselang beberapa menit kemudian, Rasmi sudah berbaring di atas ranjangnya sambil berselancar di dunia maya hingga tanpa terasa kedua matanya terpejam sedangkan layar hpnya masih menyala.
Menjelang magrib, Rasmi masih tetap tertidur pulas dalam buaian mimpinya itu. Sama sekali tidurnya tidak terusik dengan kepulangannya Ersam Arsenio Dewantara dari kantornya.
__ADS_1
Ersam keheranan melihat suasana rumahnya yang begitu gelap malam itu," apa Rasmi belum pulang? Tapi enggak biasanya ia berkeliaran di luar saat magrib," cicitnya Ersam sambil memutar handle pintu rumahnya itu.
Ersam kembali dibuat kebingungan karena pintu rumahnya tidak terkunci rapat," Apa yang terjadi dengan Rasmi sampai-sampai tidak mengunci pintu sebelum pergi," ketusnya Ersam.
Ersam menyalakan lampunya satu persatu hingga ke bagian belakang rumahnya tersebut. Tapi, sudut ekor matanya melihat pintu kamar Istrinya tidak tertutup rapat sehingga ia berinisiatif untuk memeriksa hal tersebut.
Ersam melihat Rasmi tertidur nyenyak tanpa mengganti pakaian kerjanya terlebih dahulu. Ersam hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap Rasmi yang seperti sekarang.
"Ya Allah… ini anak kenapa gak ganti pakaian dulu baru tidur, tidurnya juga sudah magrib belum bangun," cicit Ersam dan akhirnya melihat betisnya Rasmi diperban.
Ersam sangat mencemaskan keadaan dari Rasmi dan segera menghubungi dokter pribadinya yang kebetulan adalah teman ibunya dulu. Raut wajahnya sangat terlihat jelas khawatir, panik,cemas dan ketakutan dalam waktu yang bersamaan.
"Kenapa kakinya bisa terluka, aku juga tidak lihat motornya," lirihnya Ersam.
Ersam nampak khawatir dan mencemaskan keadaan dari istrinya itu. Hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
__ADS_1