
"Ha ha ha ada-ada aja kamu, kita tuh temenan dari kecil makanya terlihat sangat dekat." Jelas ku pada Arga.
"Iya...tapi cara dia memandang kamu tuh beda loh." Ucap Arga.
"Ah biasa aja kok, lagian tuh saat ini dia ada gebetan cuma belom jadian. Efan sendiri ya cerita ke Aku dan Sofie." Jelas ku.
"Hmm...ya udah deh kalo kamu gak percaya, kita lihat aja ntar." Ucap Arga meyakinkan.
"Iya iya ntar kita lihat ya." Aku tertawa geli.
"Kamu mau makan buah gak? kalo mau biar aku potongin." Tanya Arga.
"Hmm...mau mau." Jawabku.
"Oke, bentar ya." Ucap Arga sambil bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju dapur.
"Kamu mau buah apa?" Teriak Arga dari dapur.
"Apa aja boleh." Jawabku sedikit teriak.
"Lemon mau ya." Teriak Arga lagi.
"Yee....itu mah buat minuman." Jawabku sebal membuat Arga tertawa.
Akhirnya aku putuskan untuk menemani Arga yang sedang memotong buah di dapur.
"Ngapain kesini?" Tanya Arga.
"Nemenin kamu." Jawabku sok imut.
"Terima kasih cantik." Ucap Arga tersenyum.
"Aku mau tanya boleh gak?" Tanyaku.
"Boleh dong." Jawab Arga.
"Selama kamu tinggal disini kamu gak pernah keluar sama sekali, emangnya kamu gak bosan ya di apartemen terus?" Tanyaku penasaran.
"Gak" jawab Arga singkat.
"Trus kenapa kamu bisa banyak uang padahal kamu gak ngapa-ngapain?" Aku penasaran.
"Siapa bilang aku gak ngapa-ngapain?" Tanya Arga.
"Ya buktinya kamu disini terus gak pernah keluar." Aku semakin penasaran.
"Aku punya perusahaan." Jawab Arga.
"Apa nama perusahaan nya?" Tanyaku lagi.
"Ada deh." Arga penuh rahasia.
"Oke, kalo kamu punya perusahaan kenapa kamu gak datang untuk mengontrol semuanya?" Aku bertanya lagi.
"Gak perlu lah, kan ada orang kepercayaan di sana." Jawab Arga.
"Emang kamu bisa sepercaya itu dengan orang lain?" Aku terus bertanya.
"Hu ugh." Arga mengangguk.
__ADS_1
"Kamu punya.... hmmm...itu.." ucap ku ragu.
"Itu apa cantik?" Arga tersenyum.
"Gak deh gak jadi." Aku tersenyum.
"Maksud kamu pacar kan?" Tanya Arga.
"He he he iya itu maksud aku." Jawabku malu.
"Pacar gak punya, tapi dulu sempat ada wanita yang hampir dekat denganku." Ucap Arga.
"Kok hampir?" Tanya ku heran.
"Iya karena baru kenal, masih PDKT dan belom jadian." Jawab Arga.
"Terus sekarang?" Tanya ku lagi.
"Gak tau sekarang cewek itu dimana, udah putus komunikasi." Jelas Arga.
"Kok bisa?" Aku terus saja bertanya.
"Yah..bisa aja sih, kenapa gak?" Jawab Arga.
"Hhmm...." aku mengerutkan dahiku.
"Udah ah gak usah dibahas, udah selesai nih buahnya. Yok kita nonton tv." Ajak Arga.
"Oke." Aku setuju.
Kami berjalan menuju sofa untuk makan buah dan nonton tv. Beginilah kegiatan ku dan Arga sehari-hari tanpa ada rasa bosan. Perasaan nyaman berada di dekat Arga sedikit demi sedikit muncul.
"Hoaamm..." aku menguap.
"Kamu sudah ngantuk?" Tanya Arga.
"Iya, aku masuk ke kamar ya." Jawabku.
"Oke, selamat tidur cantik." Ucap Arga.
"Hu ugh" aku mengangguk.
Aku pun berjalan menuju ke kamar dan tidur.
Alarm di handphone ku berbunyi, ku raih handphone ku yang berada di meja samping kasur. Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 05.00 wib. Aku mematikan alarmku dan segera bangkit dari tempat tidur. Aku mandi dan bersiap untuk berkerja. Selesai bersiap aku pun keluar dari kamar dan ku lihat Arga masih sibuk memasak sarapan.
"Pagi cantik." Sapa Arga dengan senyumannya yang menawan.
"Pagi juga tampan hahaha." Aku merasa geli sendiri dengan ucapan ku.
"Kenapa tertawa, aku kan emang tampan." Ucap Arga kepedean.
"Hmm...siapa bilang?" Tanyaku.
"Lah kan kamu barusan yang bilang aku tampan." Jawab Arga.
"Aku bohong." Ucapku.
"Berarti aku gak tampan ya?" Tanya Arga.
__ADS_1
"Iya." Jawabku bohong.
Padahal mau di lihat dari sisi mana pun Arga terlihat sangat mempesona.
"Ya udah deh, yok kita sarapan." Ajak Arga.
"Yok." Aku duduk di meja makan untuk sarapan bersama Arga.
Kami makan dengan hening hingga selesai.
"Aku berangkat kerja ya." Ucapku pada Arga.
"Oke cantik, hati-hati ya." Arga melambaikan tangan.
Aku berjalan meninggalkan Arga yang masih duduk di meja makan. Ku lajukan mobilku dengan santai sambil di iringi musik. Sampainya di kantor aku langsung masuk, ku lihat Sofie dan Efan sudah datang.
"Hai teman-teman." Sapa ku untuk Sofie dan Efan.
"Hai Ra." Jawab Efan dan Sofie tersenyum.
Aku berjalan menuju meja kerjaku, baru beberapa saat aku duduk telepon di meja kerjaku berdering.
"Halo selamat pagi." Jawabku dari telepon.
"Halo Ra, kamu Sofie dan Efan tolong ke ruangan saya sekarang ya." Ucap pak Makmun dari telepon.
"Oh baik pak, kami segera ke ruangan bapak." Jawabku.
"Oke." Pak Makmun menutup teleponnya.
Aku berjalan menuju meja Sofie dan Efan untuk memberitahukan perintah pak Makmun dan kami bertiga pun segera datang ke ruangannya.
"Tok tok tok." Aku mengetuk pintu ruangan Pak Makmun.
"Ya silahkan masuk." Jawab Pak Makmun dari dalam ruangan.
"Pagi Pak." Ucap kami bertiga serentak.
"Iya pagi, silahkan duduk." Suruh Pak Makmun.
"Ada apa pak kita bertiga di panggil?" Tanya Efan.
"Begini...saat ini kan sudah mau masuk season hari raya cina jadi kemaren saya mendapat proposal dari ST.Co. Mereka ingin mengajukan kerja sama dengan kita. Dari saya pribadi sih kurang tertarik, tapi tidak ada salahnya kan kalo saya diskusikan dengan kalian karena kalian team terkait. designer, produksi dan keuangan. Jadi gimana?" Jelas Pak Makmun.
"Apa saja kompensasi yang dapat mereka berikan untuk kita pak?" Tanya Efan.
"ST.Co akan memberikan kompensasi yang cukup menarik." Jawab pak Makmun.
Pak Makmun memberikan copy an proposal dari ST.Co.
"Disitu tertulis mereka akan memberikan bantuan fotografer, biaya iklan, model dan membantu untuk bagian produksi." Jelas pak makmun.
"Untuk fotografer kita sudah ada dua orang pak dan saya rasa itu sudah cukup, apalagi fotografer kita sangat profesional Pak." Jawab Sofie menjelaskan.
"Kalau untuk biaya iklan dan model sepertinya kita tidak terlalu membutuhkan sih pak, karena iklan kita hanya berupa billboard dan untuk iklan di stasiun tv kita menayangkannya di stasiun tv milik perusahaan juga kan. Kemudian untuk model, kita juga sudah ada model regular dan sepertinya itu sudah cukup." Efan menjelaskan panjang lebar.
"Iya bener yang Sofie dan Efan katakan, saya setuju dengan pendapat kalian." Ucap pak Makmun.
"Kalau saya disini sedikit curiga Pak." Ucapku.
__ADS_1