
Sejenak aku memikirkan syarat apa yang akan aku buat.
"Oke..syarat yang pertama jangan sampai ada orang lain yang tau bahwa kamu tinggal disini bersamaku, jika itu terjadi kamu gak boleh lagi tinggal disini."
"Terus?" Tanya Arga
"Syarat yang kedua kamu jangan pernah masuk ke kamarku."
"Oke" Arga mengangguk.
"Syarat yang ketiga kamu harus membantu membersihkan apartemen ini dan memasak makanan untuk kita makan. kamu bisa masak kan?" Tanyaku.
"Iya aku bisa" Jawab Arga.
"Syarat yang ke empat..."
"Sampai berapa syaratnya?" Arga memotong ucapan ku.
"Ini yang terakhir, kamu jangan pakai setelan jas disini, terlalu formal aku risih lihatnya. Emang kamu gak punya baju lain apa?" Tanyaku.
"Oke, syarat dari kamu akan aku penuhi tapi untuk syarat yang ke empat, aku mau ijin masuk ke kamar kamu untuk mengambil pakaianku,boleh?" Tanya Arga.
"Di kamar tidak ada pakaianmu, semuanya pakaian aku. Kemarin aku sendiri yang menyusunnya di setiap tempat." Jawabku tegas.
"Aku hanya sebentar saja, kamu bisa mendampingi aku jika kamu tidak percaya." Arga sedikit memaksa.
Padahal aku sangat yakin tidak ada pakaian orang lain di kamar. Tapi biarlah, akan aku ijinkan Arga masuk ke kamar sebentar saja.
"Baiklah ayo aku temani." Aku terpaksa setuju.
Aku dan arga pun berjalan ke kamar, aku mengikutinya dari belakang. Sepertinya arga tau betul setiap sudut ruangan di apartemen ini. Ku lihat Arga berjalan dengan santai memasuki kamar.
"Lihat kan tidak ada yang lain kecuali barang milikku semua." Ucapku.
Arga hanya diam mendengar ucapan ku dan terus berjalan ke arah rak buku yang ukurannya cukup besar. Arga menyentuh salah satu sisi pada rak buku itu, dan..
"What...!! Apa yang ku lihat ini" Ucapku dalam hati karena terkejut.
Ternyata salah satu sisi dari rak buku itu terbuka seperti pintu, atau itu memang pintu?
"Kamu mari kesini" Arga menyuruhku untuk mendekat.
"Apa ini?" Tanyaku heran.
"Ini ruangan tersembunyi di kamar ini, tapi aku menjadikannya tempat penyimpanan pakaianku sekaligus ruang ganti. Memang gak ada yang tau ruangan ini karena aku sendiri yang membuatnya. Aku juga menyimpan benda-benda berharga milikku disini. Sekarang kamu percaya kan kalau apartemen ini beneran milikku?" Jelas Arga panjang lebar.
"Iya" Jawabku singkat.
"Tolong biarkan semua ini tetap pada tempatnya, aku akan mengambil seperlunya." Pinta Arga.
__ADS_1
"Boleh aku melihat-lihat?" Tanyaku.
"Silahkan" Arga tersenyum manis padaku.
Sebenarnya aku masih penasaran padanya tapi aku malas membahasnya karena pasti aku tidak akan mendapat jawaban. Aku tidak akan diam, aku akan cari tau siapa Arga sebenarnya.
Kenapa dia tidak bisa menghubungi keluarganya?
begitu banyak pertanyaan tentang Arga di otakku, tapi aku sendiri yang akan mencari jawabannya.
"Baiklah ayo kita keluar. Kamu tidak boleh masuk kesini tanpa ijinku ya." Aku memperingatkan Arga.
"Iya aku tau." Jawab Arga sambil berjalan keluar dari ruangan tersembunyi itu dan membawa barang-barang yang dia perlukan.
"Mau kamu letakan dimana pakaian itu?" Tanyaku.
"Aku akan menyimpan ini di lemari yang ada di dapur, kulihat sepertinya lemari itu kosong." Jawab Arga.
"Ya sudah terserah kamu aja." Jawabku seadanya.
"Kamu hari ini jadi berbelanja?" Tanya Arga sambil menyusun pakaiannya.
"Iya jadi, ini aku mau berangkat." Jawabku.
"Oh ya udah, hati-hati di jalan ya." Arga tersenyum manis padaku.
Aku keluar dari apartemen meninggalkan Arga di dalamnya. Aku berjalan menuju basemen, tiba-tiba handphone ku berdering. Kulihat ternyata sofie yang memanggil.
"Halo Sof, ada apa?" Tanyaku dari telepon.
"dimana lu Ra? Gue mau ke tempat lu, nih gue udah di basemen." Jawab Sofie dari telepon.
"Oh ya? gue juga di basemen nih mau keluar belanja. lu mau ikut?" Tanyaku.
"Mau Ra, naik mobil gue aja ya. Wait." Jawab Sofie semangat.
"Oke gue tunggu."
Tidak lama kemudian mobil Sofie pun terlihat dan berhenti di depanku. Aku masuk ke dalam mobil dan Sofie langsung melajukan mobilnya keluar area gedung apartemen.
"Mau belanja dimana lu Ra? belanja bahan masakan ya?" Tanya Sofie membuka pembicaraan.
"Iya Sof gue mau belanja bahan-bahan buat masak dan buat belanja buat kebutuhan sehari-hari. Terserah deh mau belanja dimana, lu atur aja gue ngikut." Jawabku menjelaskan.
"Oke deh kita sekalian jalan-jalan ya sambil cuci mata, hehehe." Ajak Sofie.
"Sip dah, gue mah ikut aja." Aku setuju.
Mobil terus melaju dengan diiringi musik dari sound sistem mobil. Entah kemana Sofie akan membawa ku, aku ikut aja. Lagian seneng juga kan jalan bareng sahabat begini. Sejenak aku melupakan kejadian di apartemen yang membuat kepalaku pusing.
__ADS_1
Kami terus berjalan sambil bernyanyi mengikuti lagu yang diputar. Jalanan tidak begitu macet, mungkin karena ini hari minggu. Harinya orang-orang libur berkerja.
Cukup jauh kami berjalan akhirnya sampailah kami di sebuah supermarket yang cukup lengkap. Kami turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket. Aku mengambil troli dan kami mulai berbelanja.
"Kita belanja buat masak dulu ya." Saran ku.
"Oke." Sofie setuju.
"Aku mau beli sayuran, ikan, daging, bumbu masak, minyak goreng, mie instan juga terus..."
"Iya iya gue udah tau apa aja yang lu mau Ra." Sofie memotong ucapan ku.
"Hehehe." Aku tertawa.
Kami pun melanjutkan belanja kami.
"Untuk masak kayaknya udah cukup nih Sof, sekarang kita cari buah ya. Lu tunggu disini dulu ya." Pintaku.
"Oke" Jawab Sofie singkat.
Aku berjalan untuk mengambil troli lagi karena yang satu sudah penuh dengan belanjaan.
"Oke ayo kita ke stand buah." Aku datang membawa trolI yang kosong.
Kami menuju lorong buah dan memilih beberapa jenis buah yang akan ku beli. Cukup banyak buah yang akan ku beli karena untuk stok seminggu, belum lagi kalau teman-temanku datang.
"Buah apa aja yg mau dibeli Ra?" Tanya Sofie.
"Itu deh...anggur, peer, semangka juga boleh, terus melon. Hmm...apa lagi ya." Jawabku.
"Apel hijau, lemon, jeruk?" Tanya Sofie.
"Ya..boleh boleh." Aku setuju.
"Udah nih buahnya, mau beli apa lagi?" Tanya sofie.
"Oh ya sabun beserta keluarganya belom." Jawabanku membuat sofie terkekeh.
"Hi hi hi dasar Rara somplak, ya udh yok kita cari keluarga sabun yang lu mau." Sofie tertawa.
"Oke" Jawabku sambil mendorong troli menuju lorong detergent.
"Wah banyak juga belanjaan lu Ra, untung ada gue yang nemenin lu belanja." Sofie membanggakan diri.
"Iya iya...lu emang sahabat gue yang paling top deh." Aku mengacungkan jempol ke Sofie.
"Hehehe...lu juga sahabat gue yang paling baik, cantik, pengertian, ramah..."
"Sofie.....STOP" Seketika aku menghentikan ucapan Sofie.
__ADS_1