
Tak lama kemudian Efan dan Sofie pun sampai di rumah sakit dan langsung masuk ke ruangan Rara.
"Hai Ra, gimana kondisi lu hari ini?" Sapa Sofie.
"Udah jauh lebih baik Sof." Jawab Rara.
"Bos ayok kita makan, udah laper kan." Ajak Efan.
"Tadi ada serita seru tau Sof." Ucap Rara.
"Cerita apaan Ra?" Tanya Sofie penasaran.
"Tadi siang keluarga gue datang kesini." Ucap Rara.
"Terus?" Tanya Sofie semakin penasaran.
Rara pun bercerita yang terjadi hari ini secara detail.
"Jadi Pak Ardi sama bokap lu temen sebangku waktu SMP?" Tanya Efan yang juga mendengar cerita Rara.
"Iya." Jawab Rara.
"Wah bisa kebetulan banget gitu ya." Ucap Efan.
"Dunia ini memang sempit." Ucap Sofie.
"Asik dong udah dikasih restu." Ucap Efan.
"Hu ugh" Rara mengangguk.
Meraka berempat pun makan bersama hingga selesai.
"Bos, bisa kita keluar sebentar?" Tanya Efan.
Arga pun mengangguk tanda setuju.
Arga dan Efan keluar dari ruangan menuju ke taman yang ada di rumah sakit itu.
"Ada apa Fan?" Tanya Arga.
"Bos, gue udah cari tau siapa Beni. Ternyata dia seperti ketua geng preman gitu, mafia atau apalah namanya gue juga kurang paham. Tapi dia itu emang sering dibayar untuk mencelakai orang." Jelas Efan.
"Jadi maksud lo dia bukan pelaku utama? Jadi ada yang bayar dia buat mencelakai Rara?" Tanya Arga.
"Gue rasa begitu Bos, karena gak mungkin si Beni itu punya dendam sama Rara." Jawab Efan.
"Jadi bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Arga bingung.
"Kita harus buat Beni mengaku siapa yang membayarnya untuk mencelakai Rara Bos." Jawab Efan.
"Bagaimana caranya?" Tanya Arga.
"Itu dia yang masih gue pikirkan." Jawab Efan.
Mereka berdua sama-sama berfikir bagaimana caranya supaya Beni bisa mengaku siapa yang membayarnya.
"Gue gak tau Fan, gue gak pernah berurusan dengan hal semacam ini." Ucap Arga frustasi.
__ADS_1
"Bos tenang aja, kan ada gue." Ucap Efan cengengesan.
"Terus sekarang bagaimana?" Tanya Arga.
"Sebenarnya ada seseorang yang bisa membuat Beni mengungkapkan semuanya, tapi..."
"Tapi kenapa Fan? Siapa orang itu?" Tanya Arga antusias.
"Tapi butuh waktu berhari-hari untuk menemuinya." Jawab Efan.
"Itu gak masalah Fan, asalkan orang itu bisa membuat Beni buka mulut." Ucap Arga.
"Oke Bos, akan gue coba. Tapi bos harus bersabar sedikit ya, karena gak mudah untuk bertemu dengannya." Pinta Efan.
"Iya Fan." Jawab Arga.
****
Sebulan berlalu dan Rara sudah keluar dari rumah sakit sejak dua minggu yang lalu, namun dia masih belum ke kantor tapi Rara tetap berkerja dari rumah.
Arga dengan setia selalu menemani dan merawat kekasihnya walaupun dia harus ke kantor tiap hari.
Hari ini Arga sedang sibuk di kantor karena banyak pekerjaan.
Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya
"Masuk." Suruh Arga.
"Bos." Sapa Efan yang baru masuk ke ruangan Arga.
"Eh elu Fan, duduk. Ada apa?" Tanya Arga.
"Apa lo udah berhasil menghubungi orang itu?" Tanya Arga seolah-olah paham maksud minta izin Efan.
"Iya bos, dan besok gue langsung ke sana." Jawab Efan.
"Ya udah, lu buat aja surat pengajuan cuti biar gue yang langsung acc." Suruh Arga.
"Oke Bos, hari ini juga gue buat." Jawab Efan.
*Sementara di seberang sana*
"Gimana?" Tanya seorang wanita.
"Maaf nona, tapi perempuan itu tidak pernah keluar dari apartemennya, mungkin dia masih belum sembuh." Jawab Beni.
"Kenapa lo gak langsung datang ke apartemennya?"
"Tapi nona, ada dua pengawal yang selalu berjaga di luar apartemennya, belum lagi seorang pria yang selalu masuk ke dalam apartemennya. Mungkin itu pacarnya." Jawab Beni.
"Kamu pantau terus, begitu ada kesempatan langsung lakukan apa yang aku perintahkan." Ucap wanita itu tegas.
"Baik nona, pasti akan saya lakukan." Jawab Beni.
"Ya sudah pergi kamu sana, Dasar bodoh."
"Awas aja lo Ra, gue akan buat Arga ninggalin lo." Wanita itu geram.
__ADS_1
Beni pun pergi meninggalkan wanita itu.
"Cewek sialan, beraninya dia mengatakan aku bodoh. Untung saja dia membayar ku dengan nilai tinggi, kalau tidak udah habis tuh cewek." Gerutu Beni penuh emosi.
Sedang asik mengutuk wanita siallan itu tiba-tiba handphone Beni berdering.
Beni mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan melihat siapa yang menelepon.
"Mampus gue, kenapa dia nelepon gue?" Ucap Beni yang ragu menerima panggilan telepon itu.
"Angkat gak ya? Ah angkat aja lah mana tau ada yang penting. Tapi mana mungkin beliau nelepon gue kalo gak ada yang penting." Ucap Beni untuk dirinya sendiri.
Tanpa berfikir lagi Beni pun langsung menerima telepon tersebut.
"Ha_halo Tuan." Ucap Beni terbata.
"Halo Beni apa kabar?" Tanya seseorang yang nelepon Beni.
"Kok gue jadi merinding ya dia nanya kabar gue." Batin Beni.
"Saya baik Tuan." Jawab Beni.
"Baguslah kalo begitu, 10 menit lagi anak buah saya akan menjemputmu di depan kafe Z saya minta kamu segera ke sana. Jangan sampai membuat anak buah saya menunggu."
"Baik tuan, saya akan menunggu di depan ka...." Ucap Beni terhenti karena sambungan teleponnya sudah terputus.
Beni pun buru-buru menuju kafe Z karena dia tidak ingin membuat anak buah tuan tadi menunggu.
"Untung aja gue berada gak jauh dari kafe Z." Gerutu Beni.
Akhirnya Beni sampai di kafe Z, dan benar saja tak sampai semenit anak buah si tuan tadi sudah datang dan langsung menyuruh Beni masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana?" Tanya beni.
"Jangan banyak tanya, ikut saja." Jawab salah satu anak buah dengan nada datar.
"Hadeehh...anak buahnya aja seseram ini apalagi bosnya." Batin Beni.
*****
*Sebelumnya dengan Efan...
Setelah perjalanan yang sangat jauh hingga memakan waktu 24 jam akhirnya Efan tiba di tempat tujuan.
Banyak pengawal yang berjaga di tempat tersebut, namun para pengawal membiarkan Efan masuk.
Efan masuk ke dalam rumah megah itu dan terus berjalan menuju salah satu ruangan yang sangat luas.
Pengawal yang berjaga di pintu ruangan tersebut pun segera menelepon tuannya untuk mengatakan bahwa Efan datang untuk menemuinya.
Setelah mendapatkan perintah dari tuannya, pengawal itu pun langsung membukakan pintu untuk Efan dan Efan langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Efan apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Ucap Pria paruh baya kemudian bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan untuk memeluk Efan.
Efan pun langsung membalas pelukan pria tersebut.
"Kabar aku baik." Ucap Efan menjawab pertanyaan pria itu tadi.
__ADS_1
"Ayo kita duduk dulu." Pria itu mengajak Efan untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu.
"Tumben kamu mau datang kemari, apa ada masalah? Atau kamu merindukan ku?" Tanya Pria itu.