
Drrttt drrttt
Ketika hampir tertidur, Efan dikejutkan dengan getar handphone di dalam kantong celananya.
Ada dua pesan masuk, yang satu dari kekasihnya dan yang satu lagi dari nomer telepon yang tidak dikenalnya. Efan membuka pesan yang dikirimkan kekasihnya terlebih dahulu.
"𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘳𝘵𝘦𝘮𝘦𝘯?" 𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘚𝘰𝘧𝘪𝘦 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘸𝘩𝘢𝘵𝘴𝘢𝘱𝘱.
Efan tersenyum membaca pesan yang dikirimkan calon istrinya. Kemudian dia teriangat satu pesan lagi dari nomor yang tidak dikenal dan langsung membuka pesan itu.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘰𝘧𝘪𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩. 𝘚𝘰𝘧𝘪𝘦 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶."
Isi pesan itu membuat Efan geram. "Siapa kau beraninya mengancamku." Gumam Efan setelah membaca pesan. "Jangan meremehkan seorang Efan Al Malik, atau kau akan musnah diri muka bumi ini." Gumamnya lagi sambil tersenyum sinis dan langsung menelepon Papanya.
"𝘏𝘢𝘭𝘰 𝘍𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢?" 𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘙.
"Halo Tuan R, sepertinya ada tikus got yang akan mengambil calon menantu mu dan ingin mengagalkan pernikahan anakmu." Jawab Efan.
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘢, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶? 𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘙.
"Saya akan mengirim nomornya pada mu Tuan R, Saya harap Anda bisa secepatnya mengatasi ini." Jawab Efan kemudian memutuskan sambungan telepon.
Efan meng screenshoot layar handphone nya yang berisi pesan dari nomor yang tak dikenal tadi lalu mengirimkannya pada Tuan R.
"Dasar tikus got." Gumamnya kemudian Efan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan setelah itu dia tidur.
Hari yang di tunggu-tunggu tiba, Tuan R dan Efan masih berada di apartemen sedang bersiap.
"Yok kita berangkat." Ajak Tuan R pada Efan.
"Ayok Pa." Sahut Efan.
"Gak ada yang tinggal kan?" Tanya Tuan R memastikan.
"Udah semua Pa." Jawab Efan.
Efan dan Papanya berjalan menuju ke basemen dan masuk ke dalam mobil. Efan melajukan mobilnya dengan santai hingga sampai di rumah Sofie dan di ikuti dua mobil pengawal tuan R. Ketika mereka sampai di rumah Sofie, kedua orang tuanya sudah berada di depan pintu untuk menyambut kedatangan calon besan.
"Selamat datang Pak..." Ucapan Pak Bagas tehenti.
"Oh saya Ridwan Papanya Efan." Tuan R memperkenalkan diri.
"Oh iya selamat datang Pak Ridwan, saya Bagas Papanya Sofie." Ucap Pak Bagas sambil bersalaman dengan Tuan R. "Ini istri saya Silvia." Pak Bagas memperkenalkan.
__ADS_1
"Selamat Sore Bu Sivia." Ucap Tuan R
"Sore Pak, mari masuk." Ajak Bu Silvia, mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
Dua mobil pengawal Tuan R menunggu di luar pagar.
"Jadi begini Pak Bagas dan Bu Silvia, maksud kedatangan kamu kesini adalah ingin melamar Sofie. Bagaimana menurut Pak Bagas dan Bu Silvia?" Ucap Tuan R 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵.
"Oh iya Pak, kami juga sudah diberi tau sebelumnya sama Sofie, dan kami sebagai orang tua sangat senang mendengar berita ini dan kami juga menerima lamaran dari nak Efan." Jawab Pak Bagas.
"Alhamdulillah saya sangat senang karena Pak Bagas menerima lamaran ini." Ucap Tuan R tersenyum bahagia. "Oh iya mana Sofie nya Pak." Tanya Tuan R.
"Sebentar saya panggilkan ya." Ucap Bu Silvia kemudian beranjak dari duduknya menuju ke kamar Sofie.
Tak lama kemudian Sofie dan Mamanya pun datang dan duduk di sofa.
"Selamat sore Om." Sapa Sofie pada calon mertuanya.
"Iya nak Sofie." Jawab Tuan R tersenyum lebar. "Sebentar ya." Ucap Tuan R bangkit dari duduknya dan ke depan rumah untuk mengkode para pengawalnya dan kembali ke dalam rumah dan duduk di sofa.
Tak lama kemudian para pengawal tuan R datang dengan membawa hantaran yang sudah disiapkan Efan dan Sofie sebelumnya.
"Ini ada oleh-oleh buat nak Sofie." Ucap Tuan R dan menyuruh pengawalnya meletakkan seserahannya di atas meja. "Ini juga ada oleh-oleh buat Pak Bagas dan Bu Silvia." Tuan R memberikan sebuah paper bag pada Pak Bagas.
Setelah meletakkan seserahan di atas meja, para pengawal Tuan R kembali ke luar rumah.
"Loh, itu orang-orang yang tadi kok keluar lagi?" Tanya Bu Silvia heran.
"Iya Bu tidak apa-apa, itu sudah jadi pekerjaan mereka." Jawab Tuan R dan Bu Silvia hanya mengangguk.
"Jadi untuk tanggal penikahannya bagaimana? Apa Pak Ridwan ada tanggal khusus yang diinginkan?" Tanya Pak Bagas pada calon besannya.
"Saya ingin pernikahannya dilangsungkan secepatnya, terserah mau tanggal berapa aja. Dari Pak Bagas sendiri ada usulan?" Tanya Tuan R.
"Kalau dua bulan dari sekarang gimana?" Tanya Pak Bagas mengusulkan.
"Itu terlalu lama, sebulan dari sekarang aja bisa?" Tanya Tuan R.
"Bagaimana Sof, Fan?" Bu Silvia bertanya pada anak dan calon menantunya.
Efan dan Sofie saling berpandangan dan sedikit mengangguk. "Kami setuju." Jawab Efan.
"Ya sudah, kalau begitu pernikahan akan diadakan tanggal 10 bulan depan Ya." Ucap Tuan R
__ADS_1
"Setuju Pak." Jawab Pak Bagas dan Bu Silvia bersamaan.
"Jadi mulai sekarang nak Efan jangan panggil Om dan Tante lagi ke kita ya, panggil Papa dan Mama sama seperti Sofie." Pinta Pak Bagas pada calon menantunya.
"Iya Pa." Jawab Efan.
Waktu makan malam tiba, kedua keluarga pun makan malam bersama yang disiapkan oleh Bu Silvia. Selesai makan malam bersama mereka kembali ngobrol di ruang tamu.
"Ya sudah, kalau begitu saya dan Efan pamit undur diri ya Pak, kebeneran ini juga sudah malam. Terima kasih atas makan malamnya." Ucap Tuan R pada calon besannya.
"Oh iya Pak, sama-sama." Sahut Pak Bagas.
Kemudian mereka saling bersalaman, Pak Bagas, Bu Silvia dan Sofie mengantarkan Efan dan Tuan R sampai ke depan rumah.
"Hati-hati di jalan ya Pak." Pesan Pak Bagas pada Tuan R yang sudah berada di dalam mobil.
"Baik Pak, terima kasih." Ucap Tuan R.
Setelah Tuan R dan Efan pulang, Sofie dan kedua orang tuanya pun kembali masuk ke dalam rumah. Mereka membereskan hantaran yang dibawa Efan tadi, dan kemudian duduk di ruang keluarga sambil nonton tv.
"Ma, buka dong oleh-oleh dari Papa Ridwan tadi, Sofie mau lihat." Pinta Sofie.
"Oh iya, mama hampir lupa." Sahut Bu Silvia.
"Biar Papa yang ambil." Ucap Pak Bagas kemudian mengambil paper bag yang diberikan Tuang R tadi dan menyerahkan pada istrinya.
Bu Silvia mengambil benda yang ada di dalam paper bag yang ternyata isinya sebuah box jam tangan mewah. Bu Silvia membuka box tersebut dan benar isinya dua buah jam tangan merk R***x.
"Apa oleh-oleh ini tidak berlebihan ya Pa." Tanya Bu Silvia pada suaminya.
"Iya Ma, ini terlalu mahal untuk dijadikan oleh-oleh." Jawab Pak Bagas.
"Apa kita kembalikan saja ya Pa?" Tanya Bu Silvia lagi.
"Jangan Ma, nanti Papa Ridwan tersinggung loh." Cegah Sofie.
"Sebenarnya Pak Ridwan kerja apa ya sampai memberikan oleh-oleh semahal ini?" Tanya Pak Bagas.
"Papa Ridwan itu pemilik hotel Xz Pa." Jawab Sofie.
"Apa Hotel Xz?" Ucap Pak Bagas dan Bu Silvia bersamaan. "Hotel itu kan banyak cabangnya di seluruh indonesia ini Sof." Sambung Pak Bagas.
"Iya Pa, Sofie juga baru tau waktu liburan ke Bali. Kebeneran Papa Ridwan juga ada di sana waktu itu, jadi kami di undang makan siang di hotel Xz yang ada di Bali." Jelas Sofie.
__ADS_1
"Wah caon mertuamu tajir melintir nak, Papa jadi minder." Ucap Pak Ridwan.