
Hari ini adalah hari pertama Rangga masuk kuliah. Setelah lulus dari SMA, Rangga memutuskan untuk langsung masuk kuliah. Rangga diterima di universitas kedokteran ternama di kotanya, dia mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru dengan hasil nilai yang sangat memuaskan.
Mulai hari ini Rangga mengikuti masa orientasi mahasiswa baru selama empat hari.
"Nama kamu siapa?" Tanya seorang kakak senior dengan nada ketus.
"Rangga kak." Jawab Rangga santai.
"Oke kamu masuk dalam kelompok saya ya." Ucap kakak senior memberi tau.
Rangga menatap wajah seniornya yang sedang berbicara dengannya.
"Wah nih cewek cantik banget ya, udah kayak bidadari aja. Siapa ya nama kakak senior ini?" Tanya Rangga dalam hati sambil terus menatap senior yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Heh kamu dengar gak." Bentak senior itu.
"Eh em..iya kak saya dengar." Jawab Rangga gelagapan karena bentakan senior itu membuyarkan lamunannya.
"Kamu melamun ya?" Tanya senior.
"Maaf kak saya hanya sedang berfikir." Jawab Rangga jujur.
"Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai mengabaikan ucapan saya?" Tanya senior kesal.
"Saya sedang berfikir bagaimana bisa ada wanita secantik kakak di hadapan saya? Bahkan saya berfikir apa mungkin yang di hadapan saya ini seorang bidadari?" Jawab Rangga jujur.
Blusshh
Wajah sang senior langsung memerah mendengar jawaban dari Rangga.
"Ya sudah ayo kita bergabung dengan kelompok mu." Ajak senior dengan wajahnya yang masih memerah karena masih pagi begini sudah dapat pujian yang begitu manis.
Rangga dan senior itu pun berjalan untuk menghampiri orang-orang yang satu kelompok dengannya.
"Maaf kak, nama kakak siapa?" Tanya Rangga dengan sopan sambil berjalan.
"Kenapa kamu perlu tau nama saya?" Tanya senior masih dengan nada ketus.
"Ya saya harus tau dong, saya kan ada di kelompok kakak." Jawab Rangga beralasan.
"Kamu tunggu aja, nanti juga saya bakalan memperkenalkan diri para pada kalian semua." Ucap Senior.
"Tapi saya ingin tau nama kakak sekarang." Pinta Rangga.
"Kenapa seperti itu?" Tanya Senior heran dan menghentikan langkahnya kemudian menatap Rangga.
"Emangnya gak boleh ya kalo aku ingin tau nama kakak sekarang?" Tanya Rangga.
__ADS_1
"Gak boleh." Jawab Senior.
"Pelit amat cuma kasih tau nama doang." Cibir Rangga.
"Apa, pelit kamu bilang?" Tanya senior kesal.
"Iya pelit, bener kan? Tadi kakak tanya nama saya aja saya langsung jawab. Masa saya tanya balik nama kakak kok gak mau jawab. Itu kan namanya pelit atau egois?" Cecar Rangga.
"Kamu..!!" Senior itu membulatkan matanya menatap Rangga.
"Jangan marah-marah kak, nanti makin cantik." Goda Rangga.
"Huh..ya sudah ayo kita bergabung dengan yang lain." Senior itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Kasih tau dulu nama kakak." Rangga memegang tangan senior untuk menahan langkahnya.
"Lepasin tangan saya." Pinta senior kesal.
"Beri tau dulu nama kakak baru setelah itu saya lepaskan dan tidak bole berbohong, karena kalo berbohong kakak akan dihukum tuhan." Pinta Rangga.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu, apa dikiranya aku ini anak kecil ya? Cowok yang unik." Pikir senior itu dalam hati.
"Halo kak kok malah bengong?" Tanya Rangga sambil memetikkan jarinya tepat di depan wajah senior itu.
"Eh itu ee apa?" Ucapan Senior itu terbata ketika lamunannya buyar.
"Hanna namaku Hanna." Jawab Hanna cepat.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." Ucap Rangga yang membuat pipi Hanna memerah.
Tak mau Rangga melihat wajahnya yang sedang merona, Hanna menarik tangan Rangga untuk berjalan menuju kelompoknya.
"Ayo cepat kita bergabung dengan yang lain." Ucap Hanna dan Rangga menurut.
Kegiatan kuliah hari ini sudah selesai, Rangga berjalan menuju tempat dimana motornya diparkirkan. Saat itu juga dia melihat Hanna yang sedang berjalan bersama beberapa temannya dan Rangga langsung menghampirinya.
"Hanna, kamu mau pulang? Tanya Rangga.
"Hei dia ini seniormu tolong sopan sedikit kalau bicara." Ucap seorang pria yang juga senior Rangga.
"Dimana ketidak sopanan saya dalam berbicara?" Tanya Rangga menatap pria yang menegurnya.
"Ada baiknya kamu memanggil kakak pada Hanna." Ucap Senior pria itu memperingatkan.
"Udah gak apa-apa Bob, lagian ini juga diluar jam kuliah." Ucap Hanna pada Boby.
Boby yang mendengar Hanna membela Rangga hanya bisa menahan dongkol dalam hati.
__ADS_1
"Dengar kan, yang bersangkutan aja gak masalah." Ucap Rangga dengan perasaan penuh kemenangan.
"Iya Rangga, aku mau pulang. Ada apa emangnya?" Tanya Hanna lembut.
"Mau bareng?" Tanya Rangga tanpa ragu.
"Hari ini aku udah janji pulang bareng mereka, mungkin lain kali. Terima kasih tawarannya." Ucap Hanna.
"Ya udah, gak apa-apa. Kamu hati-hati ya. Bye." Ucap Rangga yang kemudian pergi meninggalkan Hanna dan teman-temannya.
Boby yang menahan jengkel pada Rangga karena berani menggoda wanita yang dia sukai.
Rangga melajukan motornya dengan santai menuju ke rumah. Sampai di rumah dia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Sambil menatap langit-langit, Rangga membayangkan wajah cantik Hanna. Ada rasa di hati Rangga yang ingin selalu dekat dengan Hanna.
Rangga yang dulu sangat manja kini berubah menjadi pria yang bersikap dewasa setelah lulus dari SMA. Namun manjanya belum hilang jika dia sedang bersama Mamanya.
"Aku harus bisa lebih dekat dengan Hanna." Gumam Rangga.
Baru kali ini Rangga terpana melihat seorang gadis cantik, padahal sebelumnya dia tidak pernah sama sekali mempedulikan wanita yang mengejar cintanya waktu masih duduk di bangku SMA. Dengan wajah tampan dan tubuh proposional yang dimilikinya, wajar saja banyak kaum hawa yang ingin mendapatkan cintanya. Sikap Rangga yang selalu cool membuat banyak wanita yang semakin penasaran padanya.
Karena terlalu serius membayangkan wajah cantik Hanna, sampai-sampai Rangga tidak dengar kalau Mamanya mengetuk pintu kamarnya sedari tadi.
Ceklek
Mama membuka pintu kamar Rangga karena dari tadi Mama memanggilnya tapi tidak ada jawaban.
"Rangga." Panggil Mama.
"Eh iya Ma, ada apa?" Tanya Rangga yang tiba-tiba tersadar dari lamunannya dan langsung duduk.
"Ya ampun Rangga, dari tadi Mama panggil tapi kamu gak jawab. Emang kamu lagi ngapain sih? Melamun?" Tanya Mama.
"Hehehe maaf Ma, tadi Rangga ketiduran." Jawab Rangga berkilah.
"Hmm hmm..ya udah sekarang kamu makan dulu, kamu belum makan kan?" Tanya Mama.
"Oh iya Ma, Rangga memang belum makan." Jawab Rangga yang kemudian turun dari tempat tidur menghampiri Mamanya.
"Mama masak apa?" Tanya Rangga menggandeng manja tangan Mamanya.
"Masak sayur asem sama sambel teri kacang." Jawab Mama.
"Wah enak tuh." Ucap Rangga senang.
"Ya udah makanya kamu buruan makan." Suruh Mama.
"Iya Mama ku sayang." Ucap Rangga sambil mencium pipi Mamanya.
__ADS_1