Handsome Ghost Charm

Handsome Ghost Charm
Bab 31


__ADS_3

*RARA*


Alarm di handphone ku berbunyi tepat pukul 05.00 wib, aku dan Arga terbangun.


"Pagi sayang, gimana tidurnya tadi malam?" Sapa Arga padaku.


"Nyenyak, nyenyak banget." Jawabku tersenyum.


"Ya udah kamu mandi sana, aku mau buat sarapan." Suruh Arga padaku.


"Arga tunggu." Cegahku ketika melihat Arga hendak turun dari tempat tidur.


"Kenapa sayang?" Tanya Arga.


"Muuacchh…. Morning kiss." Aku mencium bibir Arga dengan cepat.


"Terima kasih sayang." Ucap Arga tersenyum.


Arga pun keluar dari kamar dan aku bersiap untuk mandi.


Selesai mandi dan berpakaian aku keluar dari kamar untuk sarapan bersama Arga.


Selesai sarapan aku berangkat ke kantor.


"Arga aku berangkat ya." Pamitku pada Arga.


"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan ya." Pesan Arga.


aku pun keluar dari apartemen dan berjalan menuju basemen. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan sedang hingga sampai di kantor.


"Raraaa…" Efan memanggilku ketika aku hendak masuk ke kantor.


"Eh elu Fan, baru sampai juga?" Tanyaku mencoba bersikap seperti biasa."


"Iya Ra, yuk masuk." Ajak Efan.


"Iya ayok." Jawabku.


Kami berdua pun masuk ke dalam kantor.


"Sofie belum datang ya." Tanya Efan padaku.


"Kayaknya belum deh." Jawabku sambil melihat ke arah meja kerja Sofie.


"Palingan ntar lagi juga datang tuh anak." Ucap Efan.


"Iya ya… ya udah gue ke meja gue dulu ya Fan." Ucapku berjalan menuju meja kerjaku.


"Oke Ra." Jawab Efan.


Tak lama kemudian Sofie pun datang dan langsung menghampiriku.


"Raraaa…." Sapa Sofie tersenyum lebar.


"Duh yang baru punya pacar wajahnya ceria banget." Ucapku menggoda Sofie.


"Husshh….. " Sofie menutup bibirku dengan jarinya.


"Ih apaan sih?" Tanyaku sambil menyingkirkan jari Sofie dari bibirku.


"Jangan ngomong tentang itu di kantor dong, gue gak mau kalo orang lain sampai tau gue cinlok." Pinta Sofie.


"Ya gak apa-apa dong, emang apa salahnya." Tanyaku.


"Gue masih malu, hehehe." Sofie nyengir.


"Ah ntar lama-lama juga orang di kantor ini bakalan tau." Ucapku.


"Iya itu pasti, gue tau. Tapi jangan untuk saat ini karena gue baru banget jadiannya." Jelas Sofie.


"Iya deh gimana mau lu aja." Ucapku.


Lagi asik ngobrol dengan Sofie, tiba-tiba telepon di meja kerjaku berdering.


"Halo selamat pagi." Sapa ku dari telepon.

__ADS_1


"Pagi Ra, kamu ke ruangan saya sekarang ya." Pinta pak Ardi dari telepon.


"Oh baik Pak, saya segera ke sana." Jawabku.


"Oke saya tunggu." Ucap pak Ardi dan menutup telepon.


"Sof, gue mau ke ruangan pak Ardi dulu ya." Ucapku pada Sofie.


"Oke Ra, gue juga mau ke meja gue. Bye…" ucap Sofie benjalan meninggalkan ku.


Aku berjalan menuju ke ruangan pak Ardi.


"Tok tok tok." Aku mengetuk pintu.


"Masuk." Suruh Pak Ardi.


Aku pun masuk ke ruangan pak Ardi.


"Pagi Pak." Sapaku.


"Pagi Ra, silahkan duduk." Jawab pak Ardi.


Aku pun duduk di kursi yang berada di depan meja Pak Ardi.


"Hari ini kita market visit untuk melihat perkembangan produk baru kita ya Ra." Ajak Pak Ardi padaku.


"Baik Pak, jam berapa kita berangkat?" Tanyaku.


"Jam 09.00 ya Ra." Jawab Pak Ardi.


"Siap Pak." Ucapku mantap.


"Ya sudah kamu boleh kembali ke meja kerjamu untuk bersiap." Suruh Pak Ardi.


"Baik Pak, nanti jam 9 tepat saya ke ruangan Bapak." Ucapku.


"Iya." Ucap Pak Ardi tersenyum.


"Saya permisi ya Pak." Ucapku.


Aku pun berjalan keluar dari ruangan Pak Ardi menuju meja kerjaku.


"Rara." Panggil Sofie yang melihatku berjalan.


"Eh Sof, kenapa?" Tanyaku.


"Ntar kita makan siang di luar yok, bosan makan di kantin terus." Ajak Sofie.


"Hmm…. Hari ini gue mau market visit sama Pak Ardi, besok aja gimana?" Tanyaku.


"Yaahh… ya udah deh gak apa-apa, gue makan siang bareng Efan aja." Ucap Sofie sedikit kecewa.


"Nah iya bareng Efan aja, atau bareng Aldi." Ucapku menggoda Sofie.


"Sstt… elu Ra, ntar ada yang dengar ih." Sofie mencubit pelan perutku.


"Hahaha… iya iya, ya udah ntar lu sama Efan aja ya." Ucapku.


"Iya deh." Jawab Sofie.


"Ya udah gue mau siap-siap dulu, ntar lagi berangkat nih." Ucapku.


"Oke deh bye." Sofie melambaikan tangannya.


Aku pun berjalan menuju meja kerjaku dan bersiap.


Sudah jam 08.55 wib aku pun menuju ruangan Pak Ardi.


"Tok tok tok." Aku mengetuk pintu.


"Masuk." Suruh Pak Ardi.


"Kita berangkat sekarang Pak?" Tanyaku.


"Oh oke, yuk kita berangkat." Jawab Pak Ardi.

__ADS_1


Aku dan Pak Ardi berjalan keluar kantor menuju ke parkiran.


"Kita gak pakai driver lagi Pak?" Tanyaku.


"Gak Ra, kita berdua aja. Gak masalah kan?" Pak Ardi balik bertanya.


"Oh gak masalah Pak." Jawabku.


"Ya udah ayo naik, kita berangkat." Ajak Pak Ardi.


"Iya Pak."


Pak Ardi pun melajukan mobilnya dengan santai menuju beberapa Mall yang ada di kota ini.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12.00 wib.


"Kita makan siang dulu ya Ra." Usul Pak Ardi.


"Iya Pak." Jawabku.


Pak Ardi pun memberhentikan mobilnya di sebuah restauran terdekat.


"Kita makan disini aja ya Ra." Ucap Pak Ardi padaku.


"Baik Pak." Jawabku.


Kami pun masuk ke dalam restauran dan memesan makanan untuk makan siang.


"Ra, setelah makan siang saya mau ajak kamu ketemu dengan putra saya. Kamu mau kan Ra?" Tanya Pak Ardi.


"Haa… ketemu putra Bapak?" Tanyaku memastikan.


"Iya Ra, kan saya sudah pernah janji sama kamu kalo saya bakal mempertemukan kamu dengan putra saya. Masih ingat kan?" Pak Ardi menjelaskan.


"Oh iya Pak saya masih ingat." Ucapku.


"Jadi kamu mau kan bertemu dengan putra saya?" Tanya Pak Ardi lagi.


"Oh iya Pak saya pasti mau." Jawabku tersenyum.


"Duh…bagaimana ini? Apa Pak Ardi benar-benar mau menjodohkan putranya denganku? Tapi aku sudah punya kekasih. Bagaimana ya menolaknya?" Tanyaku dalam hati.


Makanan yang kami pesan pun tiba, kami langsung menyantap makan siang kami.


Selesai makan dan membayar kami pun melanjutkan perjalanan kami.


"Ini kita langsung ke tempat putra saya ya Ra." Ucapk Pak Ardi.


"Oh iya Pak, putra Bapak tinggal dimana?" Tanyaku basa basi.


"Kamu ikut aja ya, ntar juga kamu tau." Jawab Pak Ardi.


Sepanjang perjalanan aku berfikir bagaimana cara menolaknya kalo benar Pak Ardi akan menjodohkan ku dengan putranya.


"Ya sudah lah tidak ada salahnya aku bertemu dengannya, belum tentu juga putra Pak Ardi mau sama aku." Ucapku dalam hati.


Kami pun sampai di tujuan.


"Ayo turun Ra." Ajak Pak Ardi.


"Ini rumah sakit Pak, putra Bapak dokter?" Tanyaku penasaran.


Pak Ardi hanya tersenyum dan tidak menjawab.


Sampai di dalam rumah sakit, Pak Ardi membawaku menuju salah satu ruangan VIP.


"Putra saya bukan dokter di rumah sakit ini, tapi dia seorang pasien disini." Ucap Pak Ardi dengan wajah sedih.


"Oh, maafkan saya Pak." Ucapku.


"Tidak apa-apa, ayo kita masuk." Ajak Pak Ardi sambil membuka pintu.


Pak Ardi masuk duluan dan aku berhenti di dekat pintu.


"Nak…Papa datang dan papa mau memperkenalkan kamu dengan seorang wanita." Ucap Pak Ardi pada putranya dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Rara, kenapa disitu aja? Mari sini." Pak Ardi memanggilku.


__ADS_2