
"Kenapa gak dibangunin sih?" Ucapku sebal.
"Ku lihat kamu nyenyak banget tidurnya, aku jadi gak tega buat bangunin kamu." Jelas Arga.
"Harusnya kamu bangunin aja, gak apa-apa kok" Ucapku.
"Ya udah kamu mandi sana, aku mau buat sarapan." Suruh Arga.
"Hmm... Iya." Jawabku sambil berjalan menuju ke kamar.
Selesai mandi dan berpakaian pun aku keluar dari kamar untuk sarapan.
"Kamu sudah siap, yok kita sarapan." Ajak Arga.
"Kamu masak apa?" Tanyaku.
"Spaghetti." Jawab Arga.
"Enak tuh." Ucapku senang.
"Pasti dong, kamu mau teh apa susu?" Tanya Arga lagi.
"Teh aja deh." Jawabku.
Kami pun menikmati spaghetti yang dimasak Arga.
"Aku berangkat ya" Ucapku.
"Oke hati-hati di jalan ya." Pesan Arga.
Ku jalankan mobilku dengan santai hingga sampai ke kantor. Ku lihat jam di tanganku waktu masih menunjukan pukul 08.30 wib. Aku pun berjalan santai ke dalam kantor.
"Pagi Rara." Sapa seorang pria padaku.
"Eh Pak Ardi, sudah dari tadi sampai Pak?" Tanyaku.
"Dari sepuluh menit yang lalu." Jawab Pak Ardi.
"Oh." Ucapku tersenyum.
"Apa kegiatan kamu hari ini Ra?" Tanya Pak Ardi lagi.
"Rencananya saya akan ke pabrik bersama Sofie Pak." Jawabku.
"Kalau begitu biarkan Sofie sendiri yang ke pabrik, kamu ikut saya." Pinta Pak Ardi.
"Kita mau kemana Pak?" Tanyaku.
"Kita akan market visit satu harian ini, kita berangkat jam 09.00 ya." Jawab Pak Ardi.
"Oh baik Pak." Ucapku.
"Ya sudah kamu boleh ke meja kerjamu." Suruh Pak Ardi.
"Iya, terima kasih Pak." Ucapku.
Aku pun berjalan meninggalkan Pak Ardi dan menuju ke meja Sofie untuk memberitahukan apa yang dikatakan Pak Ardi tadi.
"Sof, ntar lu sendirian ke pabrik ya." Ucapku.
"Lah emang lu mau kemana?" Tanya Sofie.
"Gue diajak Pak Ardi market visit." Jawabku.
__ADS_1
"Oh oke deh, no problem." Ucap Sofie mengerti.
"Udah ya, gue mau ke meja gue dulu." Ucapku sambil meninggalkan Sofie.
"Oke Ra." Ucap Sofie.
Aku pun bersiap-siap untuk market visit bersama Pak Ardi. Waktu sudah menunjukan pukul 08.50 wib. Aku berjalan menuju ruangan Pak Ardi.
"Tok tok tok." Aku mengetuk pintu.
"Silahkan masuk." Jawab Pak Ardi dari dalam ruangan.
"Pak, jadi kita market visit?" Tanyaku.
"Oh jadi dong, kamu sudah siap?" Tanya Pak Ardi.
"Sudah Pak tinggal berangkat saja." Jawabku.
"Oke ayo kita berangkat." Ajak Pak Ardi.
Aku dan Pak Ardi pun berjalan keluar kantor menuju ke parkiran mobil.
"Loh Pak, kita tidak pakai driver?" Tanyaku heran.
"Driver lagi pada sibuk semua, jadi kita naik mobil saya saja." Jawab Pak Ardi.
"Ya sudah Pak sini biar saya yang nyetir." Pintaku.
"Tidak usah, biar saya saja yang nyetir. Masa wanita sih yang nyetir." Ucap Pak Ardi.
"Tapi saya merasa tidak enak kalau Bapak yang nyetir." Ucapku.
"Kan sudah saya bilang, kamu jangan canggung sama saya." Ucap Pak Ardi mengingatkan.
"Oh iya Pak." Jawabku segan.
"Iya Pak." Jawabku sambil masuk ke dalam mobil Pak Ardi.
Pak Ardi pun menjalankan mobilnya dengan santai.
"Bapak low profile banget ya." Ucapku.
"Emang kenapa kalo low profile?" tanya Pak Ardi.
"Ya bagus sih Pak. Kebanyakan tuh kalo seorang CEO kesannya seram loh pak." Jawabku.
"Seram gimana?" Tanya Pak Ardi lagi.
"Ya gitu pak, kejam, kaku..."
"Saya juga kejam loh." Ucap Pak Ardi memotong ucapan ku.
"Tapi yang saya rasakan tidak seperti itu loh pak." Ucapku jujur.
"Kalo gak percaya tanya saja sama Pak Makmun." Suruh Pak Ardi.
"Iya nanti saya tanya Pak." Ucapku.
"Hahaha kamu polos banget sih Ra." Pak Ardi tertawa mendengar jawabanku.
"Hehehe." Aku tertawa malu.
"Berapa usia kamu Ra?" Tanya Pak Ardi.
__ADS_1
"28 tahun Pak." Jawabku.
"Wah sudah dewasa dong, kapan kamu nikah?" Tanya Pak Ardi lagi.
"Hehehe belum kepikiran buat nikah Pak, pacar juga belum punya." Jawabku malu.
"Ah masa wanita secantik kamu belum punya pacar sih?" Jawab Pak Ardi heran.
"Fokus kerja jadi gak sempat pacaran Pak." Jawabku.
"Buruan cari pacar terus nikah, udah 28 tahun loh." Ucap Pak Ardi.
"Kalo nanti saya nikah, emang Bapak mau hadir ke pernikahan saya?" Tanyaku.
"Kalo kamu undang saya pasti akan datang. nanti kalo kamu nikah akan saya kasih kado istimewa buat kamu." Jawab Pak Ardi.
"Ya sudah kalo begitu Bapak saja yang carikan jodoh buat saya." Ucapku bercanda.
"Sama anak saya saja gimana?" Tanya Pak Ardi.
"Emangnya anak Bapak mau dengan saya?" Aku balik bertanya.
"Saya yakin dia pasti mau." Jawab Pak Ardi.
"Bapak punya anak berapa?" Tanyaku penasaran.
"Saya hanya punya seorang putra." Jawab Pak Ardi.
"Dimana sekarang putra Bapak?" Tanyaku lagi.
"Dia ada di kota ini, nanti kalo ada waktu yang tepat kamu akan saya ajak bertemu dengan putra saya. Kamu mau kan?" Tanya Pak Ardi.
"Baik Pak dengan senang hati." Jawabku tersenyum.
Banyak Mall yang kami kunjungi satu harian ini. Hari sudah sore, kami memutuskan untuk kembali ke kantor.
"Terima kasih untuk waktunya hari ini ya Ra." Ucap Pak Ardi.
"Iya Pak sama-sama, ini juga sudah menjadi tugas saya." Jawabku.
Kami pun masuk ke dalam kantor dan bersiap untuk pulang karena sudah waktunya jam pulang kantor. Ku lihat sekeliling kantor, kedua temanku dan karyawan lain sudah tidak ada di tempat. Setelah bersiap aku pun menuju ke parkiran dan pulang ke apartemen. Saat aku masuk ke apartemen, aku tidak melihat Arga. Ku rebahkan tubuhku di sofa, ku letakan tas ku di lantai.
"Lelah banget hari ini." Ucapku dalam hati.
"Kamu sudah pulang Ra?" Tiba-tiba Arga datang dan aku spontan bangkit dari rebahan ku.
"Hei kenapa kamu gak pakai baju?" Tanyaku sedikit berteriak karena melihat Arga hanya memakai handuk.
"Aku baru selesai mandi." Jawab Arga enteng.
"Kenapa kamu gak langsung pakai baju di kamar mandi." Ucapku.
"Aku lupa bawa tadi." Ucap Arga tersenyum.
"Emang kamu gak malu ya gak pakai baju begitu?" Tanyaku sebal.
"Ngapain malu sih, kan cuma gak pakai baju. Apa bedanya kalo kita lagi berenang." Jawab Arga.
"Iya...Tapi kamu pakai handuk gitu vulgar banget." Ucapku kesal.
"Emang kenapa dengan handuk ini, kan cuma.."
"Argaaaa...." Aku berteriak dan menutup mataku dengan tangan ketika Arga hendak melepas handuknya.
__ADS_1
"Apaan sih? Hei hei... ngapain tutup mata? Kamu kira aku telanjang ya? Aku pakai celana kok. Hahaha." Ucap Arga sambil tertawa geli.
Ku coba menurunkan tanganku dari mata untuk melihat, ternyata benar apa yang dikatakan Arga.