Handsome Ghost Charm

Handsome Ghost Charm
Bab 72


__ADS_3

"Maaf waktu anda sudah habis, silahkan anda keluar." Suruh Arga sambil berjalan menuju pintu ruangannya dan membukanya.


"Pak Arga saya mohon." Ucap Pak Satria lirih sambil berlutut di hadapan Arga.


Seketika Arga mundur untuk menghindari Pak Satria yang sedan berlutut di hadapannya.


"Tolong anda berdiri, jangan seperti ini. Kalo anda seperti ini malah akan membuat saya muak." Ucap Arga tegas.


"Apa pun akan saya lakukan supaya Pak Arga mau mencabut tuntutan anak saya." Ucap Pak Satria.


"Maaf Pak, tapi saya benar-benar tidak bisa melakukan hal itu. Yang bisa mencabut tuntutan itu hanya Rara seorang. Kalo Anda mau silahkan minta tolong pada Rara. Saya benar-benar tidak bisa membantu, sekarang lebih baik anda keluar dari ruangan saya karena saat ini saya sedang sibuk.." Jelas Arga.


Dengan terpaksa Pak Satria pun keluar dari ruangan Arga. Dia sangat kecewa dengan perbuatan putrinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini nasi sudah menjadi bubur. Dia hanya bisa merutuki kebodohan anaknya.


Dengan perasaan yang tidak karuan, dia melajukan mobilnya dengan cepat dan kembali ke kantornya.


***


Tok tok tok


Ceklek


Arga melihat siapa yang berani membuka pintu ruangannya sebelum disuruh.


"Papa." Arga senang ternyata Papa nya yang datang.


"Sesenang itu kamu melihat Papa datang?" Tanya Pak Ardi.


"Tentu saja Arga senang Pa." Jawab Arga berdiri dari duduknya dan menghampiri Papanya.


"Kamu sibuk?" Tanya Pak Ardi.


"Gak Pa, kenapa?" Jawab Arga dan balik bertanya.


"Papa ingin ngobrol denganmu." Jawab Papa.


"Hemm... Ngobrol? Sepertinya serius banget Pa." Arga mengajak Papanya untuk duduk di Sofa yang berada di dalam ruangan Arga.


"Papa mau ngobrol tentang apa?" Tanya Arga setelah mereka duduk di sofa.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang, apa kamu nyaman?" Tanya Pak Ardi.


"Hemm sampai saat ini nyaman-nyaman aja Pa, kenapa Papa bertanya seperti itu?" Tanya Arga heran.


"Tidak ada apa-apa, Papa hanya bertanya saja." Jawab Pak Ardi.


"Sepertinya bukan itu inti utama yang mau papa bicarakan sama Arga." Tebak Arga membuat Pak Ardi tersenyum.


"Iya benar, sebenarnya Papa mau tanya tentang hubunganmu sama Rara. Papa rasa sudah waktunya kalian menikah. Usia kalian juga udah matang untuk menikah, bagaimana menurutmu?" Tanya Pak Ardi.


"Pa, sebenarnya Arga sudah melamar Rara waktu kita liburan ke Bali dan Rara setuju untuk menjadi istri Arga." Jawab Arga tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa kamu gak cerita sama Papa. Sekarang juga panggil Rara kesini." Suruh Pak Ardi.


"Baik Pa, sebentar." Arga mengambil ponselnya yang berada di meja kerjanya dan langsung menelepon kekasihnya.


"Arga, ada apa?" Tanya Rara dari telepon.


"Sayang, kamu bisa ke ruangan aku sekarang." Pinta Arga.


"Iya sayang aku segera ke sana." Jawab Rara dan langsung menuju ke kantor Arga.


Ceklek


Rara masuk ke ruangan Arga dan dia melihat Pak Ardi sedang duduk di sofa bersama Arga.


"Eh selamat siang Pak Ardi." Sapa Rara.


"Sini masuk nak, duduk sini sama kita." Suruh Pak Ardi.


"Sini sayang." Pinta Arga untuk duduk di sebelahnya.


"Ini ada apa ya Pak?" Tanya Rara canggung.


"Hmm...masih canggung aja sama Papa ya Ra." Tegur Pak Ardi.


"Hehehe iya maaf Pa, mungkin karena ini di kantor." Ucap Rara.


"Rara, Papa datang kesini mau menanyakan tentang hubungan kalian. Papa mau secepatnya kalian menikah. Kapan Papa dan keluarga bisa datang ke rumah kamu untuk membicarakan pernikahan kalian?" Tanya Pak Satria.


"Ya sudah kalo begitu besok hari minggu pagi Papa dan keluarga datang ke rumah kamu ya." Pak Ardi memutuskan.


"Minggu ini Pa?" Tanya Rara memastikan.


"Iya minggu ini, gak masalah kan?" Tanya Papa.


"Iya Pa, gak masalah kok, Rara cuma memastikan aja." Jawab Rara tersenyum.


"Oh iya, nanti kita makan siang bersama di luar ya." Ajak Papa.


"Tapi Pa, tadi Rara udah janji sama Efan dan Sofie mau makan siang bareng." Rara memberi tau.


"Ya udah kalo gitu ajak sekalian mereka berdua makan siang sama kita, jadi kan kamu gak perlu mengingkari janji." Papa mengusulkan.


"Hmm...ya udah begitu juga boleh, nanti Rara sampaikan sama Efan dan Sofie." Rara setuju.


"Papa mau kalian cepat menikah." Ucap Pak Ardi serius.


"Kenapa begitu Pa?" Tanya Arga.


Karena setelah kalian menikah, Papa akan mundur dari perusahaan dan kamu yang akan menggantikan Papa." Jawab Pak Ardi.


"Kenapa secepat itu Pa?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Karena sekarang giliran kamu yang berkerja, dan Papa sama Mama kamu akan menikmati hari tua dengan santai." Jawab Pak Ardi


"Kalo itu alasannya Arga sangat setuju Pa." Ucap Arga.


"Oh iya, Papa juga sudah mempersiapkan hadiah spesial untuk pernikahan kalian berdua." Ucap Pak Ardi membuat Anak dan calon menantunya penasaran.


"Apa tuh Pa?" Tanya Arga.


"Rahasia dong, tunggu sampai kalian menikah nanti." Jawab Pak Ardi.


"Ini janji Papa sama Rara waktu itu, kamu masih ingat kan Ra?" Tanya Pak Ardi.


"Masih dong Pa." Jawab Rara tersenyum bahagia.


"Janji apa sayang, kok kamu gak pernah cerita?" Tanya Arga penasaran


"Jadi dulu itu waktu kamu masih koma, Papa pernah nanya kapan aku nikah terus Papa bilang akan ngasih hadiah spesial kalo aku nikah." Jelas Rara.


"Dan ternyata kamu nikahnya sama Arga." Sambung Pak Ardi


"Iya ya Pa, padahal dulu Papa juga mau menjodohkan Rara sama Arga ya." Sambung Rara.


"Iya bener itu." Jawab Pak Ardi.


"Kalo gitu setelah Arga sama Rara nikah, nanti Arga juga bakal ngasih kejutan sama Papa." Ucap Arga gak mau kalah.


"Kejutan apa tuh?" Tanya Pak Ardi.


"Yah Papa, namanya kejutan gak boleh dikasih tau sekarang dong." Jawab Arga.


"Oh iya ya, ntar jadinya bukan kejutan lagi ya." Sambung Pak Ardi.


"Eh udah jam makan siang nih, katanya mau makan siang bareng." Arga mengingatkan.


"Oh iya, ya udah ayo kita berangkat. Rara ajak Sofie dan Efan gih." Suruh Pak Ardi.


"Oke Pa." Jawab Rara.


Rara pun keluar dari ruangan Arga menuju meja kerja Sofie.


"Sof, Fan, yok makan siang." Ajak Rara.


"Oh iya Yok." Jawab Sofie sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Tapi kita makan siangnya sama Pak Ardi juga ya, beliau yang ngajak tadi." Rara memberi tau.


"Yang bener Ra?" Tanya Efan memastikan.


"Iya beneran, ya udah yok jalan." Ajak Rara.


Mereka berlima pun menuju restauran yang sudah di pesan oleh Pak Ardi sebelumnya untuk makan bersama.

__ADS_1


__ADS_2