
Aku berjalan menghampiri Pak Ardi.
"Inilah putra saya yang ingin saya perkenalkan denganmu Ra." Ucap Pak Ardi.
Aku melihat putra Pak Ardi yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Haah… Arga!!!" Aku sangat terkejut setelah melihat wajah seorang pria yang sedang terbaring lemah.
"Kamu kenal dengan Arga Ra?" Tanya Pak Ardi heran.
"Apa benar dia Arga Pak?" Tanyaku memastikan.
"Iya Ra, dia Arga putraku." Jawab Pak Ardi.
Kakiku menjadi sangat lemas melihat ini semua, sehingga aku jatuh terduduk di lantai.
Air mataku tak mampu aku bendung lagi sehingga jatuh membasahi pipiku.
"Rara kamu kenapa?" Tanya Pak Ardi heran.
"Arga kenapa Pak? Kenapa dia terbaring seperti itu?" Tanyaku sesegukan karena menangis.
"Kamu kenal dengan Arga Ra?" Tanya Pak Ardi lagi.
"Kenal pak, sangat kenal." Jawabku.
"Ya sudah kamu tenang dulu ya, saya akan cerita setelah kamu tenang." Ucap Pak Ardi.
Air mataku tidak bisa berhenti keluar, dadaku terasa sangat sakit melihat semua ini.
Aku mencoba berdiri namun kakiku masih terasa sangat lemas, sehingga Pak Ardi membantuku untuk berdiri.
Dengan perlahan dan rasa tidak percaya aku mendekati Arga yang sedang terbaring, ku pegang tangannya sehingga membuat air mataku mengalir lebih deras.
"Arga, kenapa kamu bisa jadi seperti ini? Padahal…"
"Sudah Rara, jangan menangis lagi." Pak Ardi memotong ucapanku.
"Bagaimana ini bisa terjadi Pak?" Tanyaku.
"Mari kita duduk dulu, saya akan ceritakan padamu bagaimana dia bisa jadi seperti ini." Ajak Pak Ardi.
Kami berdua pun duduk di sofa kecil yang ada di kamar ini.
"Arga kenapa Pak?" Tanyaku tidak sabar mendengar yang sebenarnya terjadi.
"Arga koma." Jawab Pak Ardi.
"Hah?" Aku terkejut dan sangat sedih mendengar jawaban pak Ardi.
"Arga koma akibat kecelakaan yang terjadi sekitar dua tahun lalu." Pak Ardi menjelaskan.
"Apa?" Aku sangat terkejut mendengar penjelasan Pak Ardi.
"Tapi.." Aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku.
Jantungku berdegup kencang, air mataku kembali mengalir deras.
"Rara, kenapa kamu sesedih ini?" Tanya Pak Ardi.
"Maaf Pak, apa bisa kita pulang sekarang?" Tanyaku yang masih sesegukan.
"Baik Ra, mari kita pulang." Ajak Pak Ardi.
__ADS_1
"Nanti sesampainya di kantor saya mohon izin pulang ya pak." Pintaku pada Pak Ardi.
"Kenapa seperti itu Ra?" Tanya Pak Ardi heran.
"Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang Pak, tapi saya mohon izinkan saya pulang Pak." Pintaku dengan derai air mata.
"Baiklah Ra, saya izinkan." Ucap Pak Ardi.
"Terima kasih banyak Pak." Ucapku.
Kami pun berjalan meninggalkan Arga yang sedang terbaring menuju ke parkiran.
Pak Ardi melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke kantor, sementara air mataku masih saja terus mengalir deras.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirku ketika kami dalam perjalanan ke kantor.
Akhirnya kami sampai di kantor.
"Maaf Pak, saya izin langsung pulang ya." Pintaku yang masih sesegukan.
"Iya Ra silahkan, nanti saya yang bilang pada Pak Makmun." Pak Ardi mengizinkan.
"Terima kasih Pak, terima kasih banyak." Ucapku.
Aku langsung berlari meninggalkan Pak Ardi dan menuju ke mobilku.
dengan cepat ku jalankan mobilku meninggalkan area parkiran kantor.
Jantungku berdetak kencang, otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Yang ku inginkan saat ini adalah cepat sampai di apartemen dan bertemu dengan Arga.
Aku harap ini semua tidak benar.
sampai di basemen apartemen aku langsung keluar dari mobil dan berlari menuju apartemenku dan masuk ke dalamnya.
Arga muncul di hadapanku, tanpa basa basi lagi aku langsung berlari memeluknya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Arga khawatir karena melihatku nangis.
"Itu semua tidak mungkin, kamu ada disini bersamaku. Bagaimana mungkin kamu berada disana? Ini semua hanya kebetulan mirip." Ucapku gak jelas.
"Sayang, apa yang terjadi? Ayo kita duduk dulu dan jelaskan semuanya padaku." Ajak Arga membawaku duduk di sofa dan memelukku untuk menenangkan ku.
"Arga… aku gak tau harus mulai dari mana bicaranya." Ucapku sedikit tenang.
"Pelan-pelan aja sayang." Ucap Arga sambil membelai lembut rambutku.
"Arga, aku boleh tau siapa nama Papa kamu?" Tanyaku.
"Boleh sayang, nama Papaku Ardi. Ardi Nugraha." Jawab Arga.
"Deg" Jantungku hampir berhenti mendengarnya.
"Ardi Nugraha CEO The One?" Tanyaku lagi memastikan.
"Iya." Jawab Arga.
Aku melepaskan pelukan Arga dan berdiri berjalan mundur menjauh dari Arga.
Tiba-tiba kakiku lemas sehingga lagi lagi aku jatuh terduduk di lantai.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Arga khawatir.
"Jangan mendekat." Teriakku.
__ADS_1
Langkah Arga terhenti karena teriakanku.
"Sayang kamu kenapa, coba jelaskan padaku." Tanya Arga penuh kekhawatiran.
"Arga, siapa kamu sebenarnya?" Tanyaku sambil menangis.
"Apa maksudnya?" Tanya Arga.
"Kenapa kamu bisa berada disini padahal kamu dalam kondisi koma di rumah sakit?"
Deg
"Sayang, aku bisa menjelaskannya."
"Jangan mendekat." Teriakku ketika melihat Arga mau mendekatiku.
"Maafkan aku Ra, emang benar saat ini aku sedang koma di rumah sakit. Aku juga gak tau kenapa aku bisa berada disini, dan aku gak bisa keluar dari apartemen ini."
*ARGA*
Tiba-tiba Rara pingsan, aku menggendongnya ke kamar dan membaringkannya di kasur.
"Maafkan aku Ra, aku gak bermaksud berbohong padamu apalagi membuatmu takut. Ku mohon sadarlah sayang." Ucapku membelai lembut rambut Rara.
Aku duduk di tepi ranjang sambil terus berusaha mencoba menyadarkan Rara dari pingsannya.
Tak lama kemudian Rara pun sadar.
"Sayang kamu sudah sadar?" Tanyaku.
"Pergi kamu, jangan dekati aku." Teriak Rara sampai menangis.
"Sayang tolong jangan menghindariku." Pintaku.
"Kamu bukan manusia, pergiiii." Teriak Rara lagi.
Ku peluk tubuh Rara untuk menenangkannya tapi dia berontak dan mencoba melepaskan pelukanku, namun dengan sekuat tenaga aku mempertahankan pelukanku.
"Aku mohon kamu tenang, aku gak akan menyakitimu." Pintaku.
Setelah cukup lama Rara berusaha melepaskan pelukanku akhirnya dia pasrah dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Kamu takut padaku?" Tanyaku setelah Rara tenang.
"Hu ugh." Rara hanya mengangguk.
"Ku mohon jangan takut padaku, apa pernah aku menyakitimu selama ini?" Tanyaku.
"Hem.." Rara menggelengkan kepalanya.
"Jadi ku mohon jangan menghindariku." Pintaku.
"Kenapa kamu bisa melakukan semua hal layaknya manusia biasa?" Tanya Rara yang sudah tenang.
"Semua itu bisa ku lakukan hanya jika aku berada di dalam apartemen ini. Dari semua orang yang pernah menyewa apartemen ini, cuma kamu yang bisa melihatku dan aku gak tau kenapa bisa seperti itu." Jelasku.
"Makanya kamu gak pernah keluar dari sini?" Tanya Rara.
"Iya." Jawabku singkat.
"Aku ingin tau bagaimana kamu bisa sampai seperti ini." Ucap Rara sesegukan.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi aku mohon kamu jangan takut padaku. Jangan pernah menganggapku sebagai hantu, setan, arwah atau apa pun itu." Pintaku.
__ADS_1
"Hu ugh." Rara mengangguk.