
Sejak kejadian percobaan pembunuhan kini Sandra harus mendekam di penjara. Obsesinya untuk mendapatkan Arga dan menyingkirkan Rara membuat Sandra menghalalkan segala cara. Entah itu yang dinamakan cinta atau hanya sekedar obsesi aja hanya Sandra yang tau.
Salah Sandra karena sudah menyia-nyiakan kedekatannya dengan Arga tiga tahun silam. Jika saja Sandra tidak memakai cara yang rendahan untuk menjerat Arga mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Kini Sandra hanya bisa menyesali perbuatannya sendiri di balik terali besi.
"Tahanan 231 ada tamu yang datang berkunjung, silahkan keluar dan ikut saya." Ucap seorang polisi pada Sandra.
Dengan langkah gontai Sandra mengikuti Polisi itu menuju ruang kunjungan dengan tangan diborgol.
"Sandra." Panggil Pak Satria pada putrinya.
"Papa, tolong keluarkan aku dari sini." Pinta Sandra dengan linangan air mata.
"Maafkan Papa nak, Papa sudah berusaha membebaskan kamu dari penjara tapi tetap tidak berhasil." Ucap Pak Satria sedih melihat anaknya harus mendekam di penjara karena kebodohannya.
"Sandra gak mau tinggal di penjara Pa, sandra mau bebas." Ucap Sandra lirih.
"Kamu bisa bebas hanya jika Rara mencabut tuntutannya nak." Ucap Pak Satria.
"Sialan perempuan itu, dia yang buat aku seperti ini Pa. Dia udah merebut Arga dariku, aku gak akan pernah memaafkan dia." Ucap Sandra penuh emosi.
"Sudah lah sayang jangan menaruh dendam sama orang, ini akibatnya jika kamu tidak bisa melawan emosimu." Pak Satria menasehati.
"Kenapa Papa jadi membela perempuan sialan itu sih." Geram Sandra.
"Papa bukan membela perempuan itu Sandra, tapi akan lebih baik kamu meminta maaf pada Rara atas perbuatan mu." Ucap Papa.
"Cih, minta maaf? Sampai kapan pun itu gak akan terjadi Pa." Ucap Sandra.
"Ingat Sandra, hanya Rara yang bisa mencabut tuntutannya dan membebaskan kami dari penjara, jadi tidak ada salahnya kamu meminta maaf padanya." Pak Satria menasehati.
"Tapi aku benci sama perempuan sialan itu Pa." Rengek Sandra.
"Buanglah dulu rasa benci mu untuk bisa bebas dari penjara ini. Apa kamu mau lama-lama tinggal di sel tahanan?" Tanya Pak Satria.
"Gak mau Pa, tapi bagaimana caranya aku meminta maaf pada perempuan itu?" Tanya Sandra.
"Begini saja, Papa punya rencana. Papa akan menemui Arga untuk minta tolong padanya agar membujuk Rara mencabut tuntutannya. Gimana?" Pak Satria mengusulkan.
"Iya Pa, aku mau. Tolong Papa bicara sama Arga ya pa. Bila perlu Papa sampai memohon sama Arga agar dia mau membujuk perempuan itu untuk mencabut tuntutannya. Sandra sudah gak tahan berada disini Pa." Rengek Sandra.
__ADS_1
"Iya nak, apa pun akan Papa lakukan agar kamu bisa bebas dari sini." Ucap Pak Satria.
"Pa, aku suka sama Arga dan aku mau dia jadi suami ku." Ucap Sandra.
"Tapi nak, Arga sudah memiliki kekasih. Bagaimana bisa kamu mau nikah sama Arga?" Tanya Pak Satria.
"Kan masih kekasih Pa, belum jadi istri jadi bel ada ikatan apa-apa." Jelas Sandra.
"Sudahlah Sandra jangan pikirkan hal itu, lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya ku cepat terbebas dari tuntutan ini." Ucap Pak Satria.
"Iya Pa, makanya Papa segera temui Arga." Pinta Sandra.
"Maaf Pak, waktu berkunjung sudah selesai." Ucap petugas.
"Baik Pak, terima kasih." Jawab Pak Satria.
Sandra pun dibawa oleh petugas untuk kembali masuk ke dalam sel tahanan sementara Pak Satria keluar dari lapas.
Pak Satria melajukan mobilnya dengan lambat sambil berfikir bagaimana bicara dengan Arga agar dia mau membujuk Rara untuk mencabut semua tuntutannya pada Sandra.
"Baiklah akan aku coba, meskipun harus berlutut di kakinya dan merendahkan harga diriku. Yang penting sandra bisa bebas dari penjara." Ucap Pak Satria sambil mempercepat laju mobilnya.
Hari ini juga Pak Satria langsung menuju ke kantor The One untuk menemui Arga. Sampai di kantor The One, dengan cepat Pak Satria melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
"Oh saya ingin bertemu dengan Pak Arga." Jawab Pak Satria.
"Apa sudah ada janji sebelumnya?" Tanya security lagi.
"Belum." Jawab Pak Satria singkat.
"Mohon anda tunggu sebentar ya." Pinta security.
Security itu berjalan menuju resepsionis untuk mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu dengan Pak Arga.
Tak lama kemudian security itu kembali menghampiri Pak Satria.
"Maaf Pak, saat ini Pak Arga sedang tidak ada di tempat." Security memberi tau Pak Satria.
"Kalau boleh tau kemana perginya Pak Arga?" Tanya Pak Satria.
"Maaf Pak kalo itu saya tidak tau." Jawab Security.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih." Ucap Pak Satria.
Dengan perasaan kecewa Pak Satria keluar dari kantor The One dan kembali ke kantornya ST.Co.
"Aku tidak boleh putus asa, besok pagi-pagi sekali aku akan datang lagi ke kantor The One untuk menemui Arga. Bagaimana pun caranya aku harus berusaha membujuk Arga untuk membebaskan Sandra dari penjara." Ucap Pak Satria yang kini sudah berada di kantornya sendiri.
Keesokan harinya sesuai rencana, pagi-pagi Pak Satria langsung menuju ke kantor The One tanpa singgah dulu ke kantornya. Dengan penuh semangat Pak Satria langsung masuk ke dalam kantor The One. Seperti biasa seorang Security menanyakan keperluannya. Setelah dapat izin dari Arga, security itu pun mengantarkan Pak Satria ke ruangan Arga.
Tok tok tok
Security mengetuk pintu ruangan Arga.
"Masuk." Ucap Arga dari dalam Ruangan.
"Maaf Pak, saya mengantarkan tamu yang ingin ketemu dengan Pak Arga." Ucap security.
"Baik terima kasih." Ucap Arga.
"Baik Pak kalo gitu saya permisi." Ucap security dan Arga menganggukkan kepalanya.
"Selamat pagi Pak Arga, maaf mengganggu waktunya." Ucap Pak Satria yang sudah berada di ruangan Arga.
"Silahkan duduk." Arga mempersilahkan.
"Terima kasih Pak Arga." Ucap Pak Satria kemudian duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Arga.
"Ada keperluan apa Bapak mencari saya? Saya dengar kemarin Bapak juga datang kesini. Apa ada hal yang penting?" Tanya Arga.
"Maaf sebelumnya Pak Arga, saya mencari Pak Arga untuk membicarakan soal anak saya Sandra." Jawab Pak Satria dengan penuh keraguan.
"Sandra? Jadi Bapak datang kesini pagi-pagi begini hanya untuk membicarakan tentang anak bapak? Maaf Pak saya tidak tertarik." Ucap Arga dengan nada tinggi.
"Maafkan saya Pak Arga, tapi tolong dengarkan dulu yang akan saya bicarakan." Pak Satria memohon.
"Baiklah saya beri waktu sepuluh menit untuk anda bicara dimulai dari sekarang." Ucap Arga tegas.
"Saya mohon maaf atas kebodohan anak saya yang mencelakai Rara, saya juga tidak tau kalau anak saya sampai berbuat senekat ini. Dia seperti ini karena Sandra menaruh hati sama Pak Arga."
"Gak usah bertele-tele, langsung pada pokoknya aja." Ucap Arga.
"Saya mohon pada Pak Arga untuk mencabut tuntutannya supaya Sandra bisa bebas dari penjara." Pinta Pak Satria.
__ADS_1
"Apa saya gak salah dengar? Anda tau Sandra ingin membunuh Rara? Dan sekarang dengan entengnya anda meminta saya untuk mencabut tuntutannya?" Arga geram.
"Tapi Pak Arga..."