
"Kamu mau tanya apa sayang?" Tanya Arga penasaran.
"Apa kamu kenal dengan wanita yang bernama Sandra?" Tanyaku.
"Sandra? Wanita yang aku kenal sekitar dua tahun lalu namanya juga Sandra. Kenapa sayang?" Arga balik bertanya.
"Bagaimana ciri-ciri Sandra yang kamu kenal?" Tanyaku memastikan.
"Tinggi, kulit kuning langsat, rambut lurus tidak terlalu panjang, dan satu lagi dia selalu berpakaian sexy."
"Aku yakin kita membicarakan orang yang sama." Ucapku.
"Emang kenapa dengan dia?" Tanya Arga.
“Flashback on”
Karena sudah waktunya makan siang, Pak Ardi mengusulkan berhenti untuk makan siang dahulu lalu kemudian melanjutkan perjalanan ke pabrik.
Selesai makan Aku izin ke toilet karena perutku sedang tidak bersahabat.
Ku dengar langkah kaki masuk ke toilet dan mereka sedang berbincang. Ada dua orang yang baru masuk ke toilet. Suara itu sepertinya familiar banget, Aku pun mendengarkan percakapan mereka sambil menstabilkan perutku yang sedang tidak bersahabat ini.
"Eh lu tadi ke The One buat meeting kan?" Tanya salah satu wanita yang baru masuk tadi.
Mendengar mereka menyebut The One membuat aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
Jiwa kepo ku muncul, ku dengarkan pembicaraan mereka sambil menahan perutku yang sedang mules.
"Iya, lama juga tadi meeting di sana. Huh membosankan." Jawab wanita yang satu lagi.
Baru ku ingat itu adalah suara sandra designer ST.Co yang tadi meeting dengan kami.
Ku dengarkan lagi pembicaraan mereka, aku penasaran karena menyangkut tentang The One.
"Membosankan gimana?"
"Lu bayangin aja, berjam-jam meeting sama mereka ternyata mereka menolak diajak kerjasama. Nyebelin banget kan?" Ucap Sandra.
"Sombong banget sih The One itu, gak pernah mau diajak kerjasama."
"Iya emang sombong banget." Ucap Sandra.
"Eh teringatnya lu dulu pernah mau mendekati anak CEO The One yang baru pulang dari luar negeri itu kan? Lu gak berhasil ya?"
"Oh itu…. Udah lama banget itu, kayaknya udah dua tahunan deh. Sebenarnya hampir berhasil sih." Jawab Sandra.
"Hampir berhasil gimana?"
"Eh, kita bicara disini ntar ada yang dengar gak?" Tanya Sandra.
"Ah mana ada, disini kan jauh dari kantor The One, amanlah."
"Iya dulu gue sempat mendekati tuh cowok, dikit lagi berhasil. Hanya tinggal selangkah lagi padahal." Ucap Sandra.
"Selangkah lagi gimana? Yang jelas dong ceritanya."
"Tuh cowok kan sok suci banget, masa dia gak pernah tergoda dengan gue yang selalu sexy begini. Jadi otak jahat gue muncul deh." Ucap Sandra.
"Serius? Masa dia gak tergoda sih, jangan-jangan tuh cowok gak normal lagi."
"Gak tau deh." Jawab Sandra.
__ADS_1
"Jadi rencana apa yang lu buat?"
"Gue ajak dia buat makan malam bareng terus gue mau jebak dia biar tuh cowok tidur sama gue. Kalo itu terjadi kan bukan hanya kerjasama yang gue dapat, The One pun bisa jadi milik gue. Secara tuh cowok kan anak tunggal." Jelas Sandra.
"Brilian otak lu, terus gimana?"
"Jadi pas gue berhasil ngajak tuh cowok buat makan malam tanpa sepengetahuan dia, gue masukin sesuatu di minuman dia supaya dia ngefly gitu lah." Jawab sandra.
"Terus dia minum?"
"Pastinya dong, gue udah berhasil membuat dia meminum minuman yang udah gue sabotase itu. Tapi tiba-tiba bokapnya nelepon katanya nyokap dia masuk rumah sakit. Trus dia izin pulang ke gue, gagal deh rencana gue buat ngejebak tuh cowok." Sandra menjelaskan panjang lebar.
"Terus terus?"
"Ya karena dia udah minum minuman yang udah gue kasih sesuatu, mungkin efeknya muncul waktu dia nyetir dan akhirnya dia kecelakaan. Duh kesel banget gue tuh." Ucap sandra.
"Apa? Kecelakaan? Gila lu San, kasian banget tuh cowok."
"Kok lu jadi kasihan sama tuh cowok sih." Ucap Sandra kesal.
"Ya kasihan ajalah sampai kecelakaan gitu."
"Ya gue juga kan gak sengaja, niat gue kan bukan buat dia kecelakaan. Suruh siapa bokapnya nelepon dia." Ucap sandra.
"Kejam juga lu San, trus gimana tuh cowok sekarang?"
"Setau gue dulu dia koma dan di rawat di rumah sakit. Gak tau sekarang dia gimana." Jawab Sandra.
"Lu gak pernah jenguk dia?"
"Gak lah, buat apa coba?"
"Wah lu emang kejam San."
"Ya udah keluar yuk, gue udah selesai benerin make up nih."
"Yuk."
“Flashback off”
Ku lihat Arga mengepalkan tangannya menahan emosi.
Aku langsung memeluk Arga berharap dapat meredakan emosinya.
"Arga, apa pria yang dibicarakan Sandra itu kamu?" Tanyaku sambil tetap memeluknya.
"Iya." Jawab Arga melepaskan pelukanku.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanyaku.
"Entahlah, aku gak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi seperti ini." Jawab Arga.
"Kamu jangan emosi seperti ini, aku takut." Ucapku melihat Arga masih mengepalkan tangannya.
"Iya sayang, aku gak akan emosi. Maafkan aku, kamu jangan takut padaku ya." Ucap Arga yang tidak lagi mengepalkan tangannya.
"Hu ugh." Aku mengangguk.
"Ini sudah malam banget, kamu tidur ya." Suruh Arga.
"Aku gak mau meninggalkan kamu sendirian." Ucapku kembali memeluk Arga."
__ADS_1
"Tapi kamu harus tidur sayang." Ucap Arga.
"Hemm…" Aku menggelengkan kepalaku.
"Ya udah aku akan tidur di sebelahmu." Ucap Arga.
"Hu ugh." Aku mengangguk setuju.
"Aku gendong sampai kamar ya." Pinta Arga tersenyum.
"Hu ugh." Aku mengangguk tersenyum dan mengangkat kedua tanganku seperti anak kecil minta digendong.
Arga menggendongku ala bridal sampai ke kamar dan meletakanku di kasur dengan lembut.
"Sekarang kamu tidur ya." Suruh Arga sambil memakaikan selimut padaku dan mengecup keningku.
Arga berbaring di sebelahku dan aku langsung memeluknya.
"Kamu jangan pergi." Pintaku.
"Iya sayang, aku gak bakalan kemana-mana kok. Aku akan disini bersamamu." Ucap Arga membalas pelukanku.
"Arga."
"Ya sayang." Jawab Arga menatap wajahku.
"Heemmm….ituu…." Ucapku ragu.
Arga langsung mencium bibirku dengan lembut.
"Udah, mau dicium kan." Ucap Arga.
Aku hanya tersenyum dengan perbuatan Arga.
"Arga."
"Kenapa sayang? Mau lagi?" Tanya Arga.
"Bukan itu mak…."
Ucapanku berhenti karena Arga mencium bibirku lagi, aku membalas ciuman lembutnya dan ku kalungkan tanganku di leher Arga.
Ciuman Arga selalu bisa membuatku mau lagi lagi dan lagi.
Arga duduk dan mengangkat tubuhku ke pangkuannya kemudian kembali menciumku.
Ciuman Arga mampu membuatku melupakan yang telah terjadi hari ini.
Arga memeluk erat tubuhku membuatku merasakan dingin tubuhnya.
Setelah cukup lama berciuman, Arga pun menyudahi ciumannya.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Aku takut ingin yang lebih jika terlalu lama mencium mu." Jawab Arga sambil mengecup keningku.
"Hu ugh." Aku mengangguk dan tersenyum.
"Kita tidur ya." Ucap Arga."
"Iya." Jawabku.
__ADS_1
Kami pun kembali berbaring dan aku tidur di pelukan Arga.