
Seperti biasa alarm di handphone ku berbunyi pukul 05.00 wib.
Aku bangun dari tidurku, ku lihat Arga sudah tidak ada di sampingku.
"Mungkin dia sedang masak untuk sarapan." Pikirku.
Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku pun keluar dari kamar.
Aku tidak melihat Arga di dapur, ku cari dia ke semua ruangan namun aku tetap tidak menemukan Arga.
"Arga Arga…" Aku memanggil namanya namun tidak ada jawaban darinya.
"Kemana dia pergi?" Ucapku.
Dadaku terasa sesak karena tidak menemukan Arga.
Lelah mengelilingi ruangan akhirnya aku terduduk di sofa, ku lihat handphone Arga tergeletak di atas meja.
"Bahkan dia tidak membawa handphone nya, kamu pergi kemana Arga?" Ucapku.
Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi pipiku.
"Tadi malam kamu janji gak akan meninggalkan aku, tapi kenapa sekarang kamu pergi?" Ucapku sesegukan.
"Arga… ku mohon kembalilah." Tangisku pecah.
Cukup lama aku menangis, tiba-tiba aku tersadar dan menghentikan tangisanku.
"Aku tidak boleh nangis, aku harus kuat, aku yakin Arga pasti kembali." Pikiran itu memberiku sedikit tenaga.
Ku lihat jam di tanganku sudah menunjukan pukul 07.00 wib, dengan berat hati aku berjalan keluar dari apartemen menuju ke basemen.
Ku jalankan mobilku dengan santai dan dengan perasaan sedih hingga sampai ke kantor.
"Rara.." Panggil Sofie yang juga baru sampai.
"Hai Sof." Jawabku dengan senyum terpaksa.
"Ra, kok mata lu bengkak? Lu habis nangis ya?" Tanya Sofie heran.
"Masa sih?" Tanyaku pura-pura tidak tau.
"Iya loh Ra, lu kenapa?" Jawab Sofie dan kembali bertanya.
"Gak tau kenapa bisa begini, biarin aja lah ntar juga kempes sendiri." Jawabku sambil mencoba tersenyum lebar.
"Lu yakin gak Apa-apa Ra?" Tanya Sofie memastikan.
"Iya gak apa-apa, emang gue kenapa?" Tanyaku pada Sofie.
"Ya kali aja lu lagi ada masalah." Jawab Sofie yang seolah-olah tau isi hatiku.
"Gak lah ah." Ucapku.
"Terus kemaren lu kemana, kok gak balik ke kantor?" Tanya Sofie.
"Iya mendadak gue ada urusan makanya gue izin pulang lebih awal." Jawabku meyakinkan Sofie.
"Ya udah deh yuk kita masuk." Ajak Sofie.
__ADS_1
"Iya yuk." Jawabku setuju.
Sesampainya di meja kerjaku, aku bingung apa yang akan ku lakukan. Aku jadi tidak fokus untuk berkerja, di kepalaku hanya kepikiran Arga.
Akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk datang ke ruangan Pak Ardi.
"Tok tok tok." Aku mengetuk pintu.
Beberapa kali aku mengetuk pintu ruangan Pak Ardi namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Ra, kamu ngapain?" Tiba-tiba Pak Makmun muncul dari belakangku.
"Eh pak, apa Pak Ardi tidak ada di ruangan? Berkali-kali saya ketuk pintunya kok gak ada jawaban?" Tanyaku.
"Oh… iya Ra, Pak Ardi tidak datang hari ini, kata beliau ada urusan mendadak." Jawab Pak Makmun.
"Oh begitu ya Pak, baik Pak terima kasih ya Pak." Ucapku.
"Iya Ra." Jawab Pak Makmun.
Aku kembali ke meja kerjaku dan mencoba mengerjakan sedikit pekerjaanku dengan terpaksa.
Waktu makan siang tiba, Sofie mengajakku makan siang di kantin.
"Ra, yuk ke kantin." Ajak Sofie padaku.
"Iya ayok." Jawabku lemas.
Kami berdua pun berjalan keluar dari kantor menuju ke kantin.
"Halo teman-temanku yang cantik." Tiba-tiba Efan datang dari belakang kami.
"Iya gue baru dari ruangan Pak Makmun." Ucap Efan.
"Oh." Jawab Sofie singkat.
"Eh, kita makan di luar aja yok, bosen makan di kantin terus." Ajak Efan.
"Eh boleh juga tuh, ayok ayok gue mau." Ucap Sofie setuju.
"Lu juga ikut ya Ra." Pinta Efan.
"Hemm…" Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah kita naik mobil gue aja, kebeneran gue bawa kunci mobil nih." Efan mengusulkan.
"Oke." Jawab Sofie.
Kami bertiga pun pergi menuju kafe terdekat dengan mobil Efan. Sampai di kafe, kami masuk dan memesan makanan dan minuman.
"Ra, lu kok gak bersemangat gitu?" Tanya Efan.
"Ah masa sih, gue biasa aja kok." Jawabku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Iya Ra, lu kenapa? Tadi pagi juga mata lu bengkak seperti habis nangis." Tanya Sofie.
"Gak ada apa-apa loh, beneran." Jawabku masih menutupi.
"Kalo lu ada masalah lu bisa kok bilang ke kita Ra." Ucap Efan.
__ADS_1
"Iya iya, tapi beneran gue gak apa-apa kok." Jawabku tetap menyangkal.
Pesanan kami sudah datang, Efan dan Sofie langsung menyantap makan siang mereka. Tapi tidak denganku, aku lagi gak selera makan.
Selesai makan kami pun kembali ke kantor.
Tidak terasa jam pulang kantor tiba, aku langsung buru-buru keluar dari kantor menuju parkiran.
Ku lajukan mobilku dengan cepat menuju ke rumah sakit tempat dimana Arga di rawat.
Sampai di rumah sakit aku langsung menuju ke ruangan Arga. Tanpa menunggu lagi, aku pun langsung masuk ke ruangan itu.
"Hah… kemana Arga? Kenapa dia tidak ada disini?" Tanyaku dalam hati.
Aku keluar dari ruangan itu dan langsung bertanya pada perawat yang kebetulan lewat.
"Maaf Mbak, pasien yang ada di ruangan ini kemana ya, kok gak ada?" Tanyaku pada perawat.
"Oh saya kurang tau mbak, coba langsung tanya ke bagian administrasi." Jawab perawat.
"Baik mbak terima kasih ya." Ucapku.
"Iya sama-sama." Ucap perawat.
Aku pun langsung ke bagian administrasi untuk bertanya.
"Sore mbak, saya mau tanya. Pasien atas nama Arga Aditya Nugraha ada di ruangan mana ya?" Tanyaku pada pegawai rumah sakit.
"Oh tunggu sebentar ya mbak." Ucap pegawai.
"Baik mbak, terima kasih." Ucapku.
"Mbak." Panggil pegawai.
"Iya." Jawabku.
"Pasien atas nama Arga Aditya Nugraha sudah tidak di rawat di rumah sakit ini lagi, disini keterangannya pasien dipindahkan ke rumah sakit lain atas kemauan pihak keluarga." Pegawai rumah sakit itu menjelaskan.
"Kalo boleh tau dipindahkan kemana ya mbak?" Tanyaku.
"Maaf mbak kalo itu saya tidak tau." Jawab pegawai.
"Baik mbak terima kasih ya." Ucapku.
Aku pun kembali ke mobil dan menjalankan mobilku dengan sangat lambat.
"Arga kamu dimana?" Ucapku sedih.
"Aku tidak akan putus asa, akan ku cari ke semua rumah sakit yang ada di kota ini." Tekadku dalam hati.
Aku mempercepat laju mobilku menuju ke rumah sakit lain. Sudah ku datangai beberapa rumah sakit, namun gak ada hasil.
Aku belum berhasil menemukan Arga. Karena malam sudah larut, ku putuskan untuk kembali ke apartemen.
Sepanjang perjalanan air mataku terus mengalir karena aku belum menemukan dimana Arga dipindahkan.
Sampai di basemen aku langsung keluar dari mobilku dan berjalan dengan lemas menuju apartemenku.
Ku buka pintu apartemenku dan aku langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Tiba-tiba tangisku pecah.