
"Pada waktu malam itu kita tidur bersama, tiba-tiba aku terbangun dan menyadari bahwa diriku sudah berada di rumah sakit."
"Dokter yang mengetahui aku bangun dari koma langsung menelepon Papa dan Papa pun langsung datang ke rumah sakit."
"Saat itu tubuhku masih sangat lemah akibat koma yang cukup lama. Dokter menyarankan untuk tetap di rumah sakit dan menjalankan proses pemulihan. Namun Papa merencanakan hal lain."
"Papa membawaku ke rumah sakit di Singapura untuk pemulihan ku. Malam itu juga aku di bawa ke Singapura."
"Dua bulan berada di sana sebenarnya aku ingin kembali ke Indonesia, tapi Papa melarang ku dengan alasan aku belum begitu pulih. Akhirnya Papa berkata satu bulan lagi aku boleh kembali ke Indonesia dengan syarat aku harus menjadi pimpinan The One."
"Aku setuju dengan syarat dari Papa hingga akhirnya aku berada disini bersama mu sayang." Arga menjelaskan panjang lebar.
"Aku bahagia kamu telah kembali Arga." Ucapku memeluk Arga.
"Aku juga sayang, aku sangat merindukan mu." Arga membalas pelukanku.
"Tubuhmu sudah gak dingin lagi seperti waktu itu." Ucapku masih dalam pelukan Arga.
"Kamu suka tubuhku yang dingin atau hangat seperti sekarang?" Tanya Arga.
"Aku suka keduanya." Jawabku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Oh kamu tunggu sebentar, ada yang ingin aku berikan padamu." Ucapku sambil berjalan menuju ke kamar.
Kemudian aku keluar dari kamar dan kembali duduk di sofa.
"Ini handphone kamu." Aku memberikan handphone milik Arga.
"Oh, kamu masih menyimpannya?" Tanya Arga sambil mengambil handphone yang ku berikan.
"Ya pasti aku simpan lah, masa ku buang sih. Lagian harganya mahal, sayang dong kalo dibuang." Jawabku.
"Hahaha...iya juga ya." Arga tertawa.
"Handphone kamu mana? Berikan padaku." Pinta Arga.
"Untuk apa?" Tanyaku heran.
"Aku pinjam sebentar." Jawab Arga.
Aku mengambil handphone ku dan memberikannya pada Arga.
"Ini nomor handphone ku sudah aku masukan." Arga mengembalikan handphone ku.
"Terus nomor yang satunya?" Tanyaku.
"Itu nomor handphone khusus buat kamu dan hanya kamu yang tau, kalau yang satunya lagi kan untuk kerja, tapi kamu juga harus tau." Ucapan Arga membuatku tersenyum.
"Aku rindu senyuman itu sayang"
Cup...Arga mencium bibirku dengan sangat lembut.
"Dan aku merindukan ciuman kamu Arga." Aku melepaskan ciuman Arga dan kembali menciumnya.
Arga terus mencium bibirku hingga membuatku seperti melayang.
Ting tong , bel berbunyi.
"Siapa yang datang sayang?" Tanya Arga.
"Wah itu pasti Sofie, tadi dia meneleponku katanya mau datang. Bagaimana ini?" Tanyaku panik.
"Hei sayang, kenapa kamu panik begitu?" Tanya Arga.
"Nanti Sofie..."
"Udah gak apa-apa, buka saja pintunya dan biarkan dia masuk." Suruh Arga memotong ucapan ku.
"Tapi..."
__ADS_1
"Udah kamu santai aja, nanti biar aku yang menjelaskan." Ucap Arga.
"Hu ugh" Aku mengangguk.
Aku berjalan untuk membukakan pintu buat Sofie.
"Hai Ra." Sapa Sofie.
"Oh sudah sampai, ayo masuk." Ucapku berusaha untuk bersikap biasa aja.
Tiba-tiba langkah Sofie berhenti.
"Eh siapa yang duduk di sofa itu Ra?" Tanya Sofie.
"Ayo ikut gue, nanti gue kenalkan." Jawabku menggandeng tangan Sofie.
Kami masuk dan langsung menuju ke sofa.
"Eh ini kan...." Ucap Sofie canggung.
"Halo Sofie." Sapa Arga.
"Pak Arga." Ucap Sofie shock.
"Jangan panggil Pak, Arga saja sudah cukup. Ini kan diluar jam kerja." Pinta Arga.
"Tapi kenapa bisa ada disini Pak, eh Arga?" Tanya Sofie heran.
"Udah lu duduk dulu." Pintaku pada Sofie.
"Jadi gimana kok bisa..." Ucap sofie gak jelas karena masih shock.
"Hei Sof." Aku menepuk bahu Sofie.
"Eh iya." Jawab Sofie terkejut.
"Gue pernah cerita sama lu tentang tetangga gue kan? yang lu bilang gebetan gue." Ucapku mengingatkan.
"Ha iya." Jawab Sofie.
"Iya gue ingat, namanya Ar... Jadi ini?" Ucapan Sofie terhenti.
"Iya...inilah Arga yang pernah gue ceritakan." Ucapku.
"Hah, sumpeh lu?" Tanya Sofie memastikan.
"Hu ugh." aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kok bisa?" Tanya Sofie.
"Ceritanya panjang." Ucapku.
"Cerita dong, gue kan pengen tau." Rengek Sofie.
"Lain kali ya." Ucapku.
"Jadi sekarang lu udah jadian apa belom sama Pak Arga?" Tanya Sofie.
"Jangan panggil Pak." Ucap Arga memperingatkan.
"Eh maaf Pak, eh Arga." Ucap Sofie.
"Iya kami sudah jadian, sudah cukup lama kami jadian." Ucap Arga.
"Oh ya?" Tanya Sofie.
"Iya, tapi tiga bulan belakangan ini kami terpisah dan sekarang sudah bersatu lagi." Ucap Arga.
"Ooohhh berarti ini cowok yang buat Rara nangis pas mabok kemaren?" Tanya Sofie sambil bangkit dari duduknya.
"Apa mabok?" Tanya Arga membulatkan matanya.
__ADS_1
"Eh g_gak." Ucapku terbata
"Iya, dia mabok terus nangis sambil meluk selimut dan bilang aku merindukannya." Ucap Sofie dengan mulut embernya.
"Sofie." Aku membungkam mulut Sofie.
"Kamu mabok sayang?" Tanya Arga.
"Enggak itu kemaren anu." Jawabku bingung.
"Jujur." Pinta Arga.
"Iya, kemaren Sofie putus cinta terus Efan dapat oleh-oleh wine dari temannya yg baru pulang dari luar negeri, terus kita minum bersama disini." Aku menjelaskan.
"Akan aku hukum kamu nanti." Ucap Arga serius.
"Hukum sekarang aja Pak, eh Arga." Ucap Sofie cekikikan.
"Awas lu ya Sof." Ucapku mendelik ke Sofie.
"Terus apa hukuman yang meninggalkan aku selama tiga bulan?" Tanyaku tidak mau kalah.
"Terserah kamu mau menghukum aku gimana, tapi untuk mabok mu aku akan tetap memberikan hukuman." Ucap Arga.
"Ya udah hukum sekarang aja, gue juga mau lihat." Pinta Sofie masih cekikikan.
"Kemari kamu Ra." Pinta Arga.
Dengan lemas aku mendekati Arga dan Arga pun bangkit dari duduknya.
Sofie masih setia menanti hukuman apa yang akan Arga berikan kepadaku.
Arga mengangkat satu tangannya, dengan cepat menarik belakang leherku dan langsung mencium bibirku sedikit kasar.
"Oh my god, mataku ternodai." Teriak Sofie sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Aku mendorong tubuh Arga untuk melepaskan ciumannya.
"Argaa.." Teriakku kesal.
"Itu hukuman untukmu karena sudah berani mabok." Ucap Arga.
"Lah sudah selesai? cepat amat?" Tanya sofie yang sudah membuka matanya.
"Sofie." Teriakku.
"Rara, sini duduk di sebelahku." Suruh Arga.
"Hei Sof, biasa aja dong ngelihatin cowok gue." Ucapku yang melihat Sofie memandang Arga sampai gak berkedip.
"Jadi ini cowok yang lu bilang 9,5 dari 10 ya Ra?" Tanya Sofie.
"Apa maksudnya 9,5 dari 10?" Tanya Arga.
"Nilai ketampanan Pak Arga." Jawab Sofie.
"Bener gitu sayang?" Tanya Arga padaku.
"Ih udah ah gak usah dibahas." Ucapku sebal.
"Kalo begitu kamu mengakui ketampanan ku dong." Ucap Arga narsis.
"Gak." Jawabku ketus.
"Ya udah deh, kalo gitu gue pulang aja ya. Gue gak mau jadi obat nyamuk." Ucap Sofie bangkit dari duduknya.
"Yah kok pulang sih?" Tanyaku.
"Gue masih ada urusan, bye." Jawab Sofie dan langsung berjalan keluar.
"Terus kita ngapain?" Tanyaku bingung.
__ADS_1
"Kamu maunya diapain?" Arga memeluk tubuhku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Kok aku merinding ya." Ucapku.