
*Masih dengan Efan*
"Apaan tuh Fan?" Tanya Rara.
"Kalian mau minum ini?" Aku mengeluarkan sebotol wine dari paper bag.
"Wah kayaknya memang itu yang gue butuhkan saat ini Fan." Ucap Sofie.
"Gue juga mau Fan." Ucap Rara.
"Ya udah kalo gitu mari kita minum bersama." Ucapku sambil mengangkat sebotol wine.
"Aku ambil gelas dulu ya." Ucap Rara berjalan menuju dapur.
Tak berapa lama kemudian Rara kembali dengan membawa gelas. Aku membuka penutup wine dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Mari kita bersulang." Ucapku sambil mengangkat segelas wine.
Lumayan banyak wine yang kami minum, ku lihat Rara udah teler tapi Sofie masih kelihatan segar.
"Kuat juga lu minum ya Sof." Ucapku.
"Ah gak kuat-kuat banget lah." Jawab Sofie.
"Lu lihat tuh Rara udah teler." Ucapku sambil menunjuk Rara.
"Biarin aja lah, eh kemaren malam dia mimpi sampai nangis-nangis tau." Sofie memberi tau ku.
"Ah masa sih? emangnya dia mimpi apa?" Tanyaku penasaran.
"Gak tau, gue tanya ke dia tapi dia gak mau jawab." Ucap Sofie.
"Huuuaaaaa....huuuaaa...."
Tiba-tiba aku dan Sofie dikejutkan dengan suara tangisan Rara.
"Eh Ra lu kenapa kok nangis?" Tanyaku.
"Yah Ra, gue yang putus cinta kenapa jadi lu yang nangis?" Ucap Sofie sambil menepuk-nepuk bahu Rara.
Rara tidak menjawab dan langsung bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar kemudian kembali lagi ke sofa dengan membawa selimut.
"Lu kenapa Ra?" Tanyaku lagi.
"Aku merindukannya, hiks." Ucap Rara sesegukan.
"Lu rindu sama siapa Ra? Tanya Sofie.
"Aku merindukannya, huaaa...." Ucap Rara sambil menangis dan memeluk selimut.
"Lu rindu sama selimut? Ya udah nih pakai selimutnya." Ucap Sofie.
"Sableng lu Sof, masa dia rindu sama selimut sih." Ucapku.
"Lah jadi?" Tanya Sofie.
"Kayaknya ada yang gak beres nih." Ucapku membuat sofie bingung.
"Maksudnya?" Tanya Sofie kurang paham.
"Ayok kita korek informasi mumpung Rara lagi mabok." Aku mengusulkan.
"Oke oke." Sofie setuju.
"Ra, lu rindu sama siapa?" Tanyaku lagi.
"Aku merindukannya, hiks." Hanya kalimat itu yang bisa terucap dari bibir Rara.
"Lu rindu sama pemilik selimut ini?" Tanyaku
"Hu ugh." Rara hanya mengangguk.
"Siapa nama pemilik selimut ini?" Tanyaku mengintrogasi.
"Huuaaa..." Rara kembali menangis dan langsung memelukku.
__ADS_1
"Wah menang banyak lu Fan." Ucap Sofie tertawa.
"Sstt....berisik ih." Ucapku.
Tak lama kemudian Rara pun tertidur di pelukanku dan aku membaringkannya di sofa.
"Lah udah bobo, lu pindahin aja ke kamarnya Fan." Ucap Sofie.
"Gak ah, biarin aja dia disini." Aku menolak.
"Ya udah kalo gitu kita tidur di lantai aja ya nemenin dia." Sofie mengusulkan.
"Oke." Aku setuju.
"Ntar gue ambil selimut dulu di kamar Rara ya." Ucap Sofie sambil berjalan menuju ke kamar dan kembali dengan membawa selimut.
"Selimut ini kita jadikan alas buat tidur aja ya." ucap Sofie.
Aku dan Sofie pun berbaring di lantai.
"****** lu Fan, ngapain lu meluk gue?" Ucap Sofie mendorong tubuhku.
"Eh maaf Sof, gue gak sengaja. Kebiasaan gue kalo tidur harus ada yang gue peluk." Ucapku.
"Mesum lu Fan, jadi selama ini lu tidur meluk siapa?" Tanya Sofie.
"Meluk guling lah, enak aja lu bilang gue mesum." Jawabku sebal.
"Ya udah lu tidurnya jauhan dikit lah, tuh lu peluk aja bantal sofa." Pinta Sofie.
"Gak ah, gue mau lanjut minum aja." Ucapku.
"Gue mau juga dong." Pinta Sofie.
"Ya Ayok." Ajakku.
Kami pun melanjutkan acara minum kami, cukup banyak yang kami minum dan ku lihat Sofie udah teler sambil ngoceh gak jelas.
"Yah nih anak udah mabok." Ucapku
"Nih cewek-cewek kalo lagi mabok kenapa hobinya meluk gue sih." Ucapku.
Sofie merenggangkan pelukannya sambil melihat wajahku.
"Ape?" Tanyaku.
"Hehe." Sofie tertawa.
"Yah dia malah keta...."
Ucapanku terhenti karena tiba-tiba Sofie mencium bibirku dengan buas.
Aku berusaha melepaskan ciumannya tapi Sofie malah mendorong tubuhku hingga aku terlentang dan tubuh Sofie berada di atas ku dan terus menciumiku.
"Tolong aku diperkosa." Ucapku dalam hati.
Mau tidak mau aku membiarkan Sofie terus menciumiku hingga tubuhnya ambruk menimpaku.
Ku angkat tubuh Sofie dan ku baringkan di atas selimut.
"Cewek kalo mabok aneh-aneh ih, yang satu nangis gak jelas dan yang satu lagi mesum. Hadeehh..." Ucapku menggelengkan kepala.
Aku pun berbaring menjauh dari mereka.
*RARA*
Aku terbangun dari tidurku, ku lihat Sofie masih tertidur pulas di lantai.
"Sofie, Sof bangun." Aku menggoyang-goyang tubuh Sofie.
"Hhmmm...." Sofie bangun dan berusaha membuka matanya.
"Wah udah bangun kalian." Efan tiba-tiba muncul dari belakang kami.
"Loh Fan, lu tidur disini?" Tanyaku.
__ADS_1
"Yaah...bukannya bilang makasih udah dijagain semalaman juga. Gak ingat yang kalian lakukan padaku tadi malam?" Tanya Efan.
"Emang apa yang kita lakuin sama lu Fan?" Tanya Sofie.
"Udah deh gak usah dibahas, gue pulang ya. bye." Ucap Efan dan langsung keluar dari apartemen.
"Ya udah kalo gitu gue juga pulang ya Ra." Ucap Sofie.
"Oke Sof, hati-hati ya." Ucapku.
Sofie pun keluar dari apartemen.
Aku langsung membereskan kekacauan yang ada akibat ulah kami tadi malam.
Hari ini aku hanya di apartemen aja hingga malam hari dan aku pun tidur.
Hari sudah pagi, seperti biasa aku berangkat ke kantor dengan mobilku.
Sampai di kantor, aku mengerjakan pekerjaanku dengan santai.
Hingga waktu makan siang, Sofie dan Efan mengajakku untuk makan di luar.
"Kita makan di kafe dekat sini aja ya." Usul Efan.
"Oke." Aku dan Sofie serentak menjawab.
Sampai di kafe, kami pun makan hingga selesai dan kembali ke kantor.
Ketika aku berjalan hendak masuk ke dalam kantor, aku melihat seseorang yang sangat aku kenal berjalan dari dalam kantor menuju keluar.
"Arga..."Aku membulatkan mataku.
Kami jalan berpapasan tapi Arga bersikap seolah-olah tidak mengenalku, padahal aku yakin dia melihatku.
Aku berbalik badan untuk mengejarnya tapi Arga sudah masuk ke dalam mobil.
Aku langsung berlari menuju ke toilet sambil membendung air mataku yang sudah penuh.
"Arga kenapa kamu mengabaikan ku" Air mataku tumpah membasahi pipiku.
"Aku yakin kamu melihatku, tapi kenapa kamu begitu? Apa kamu sudah melupakanku?" ucapku sesenggukan.
Air mataku terus mengalir dan tidak mau berhenti, hatiku sangat sakit dengan kejadian ini.
Entah berapa lama aku berada di toilet.
Handphone ku berdering, ku lihat Sofie meneleponku.
"Halo Sof, ada apa?"
"Lu dimana Ra?" Tanya Sofie.
"Gue di toilet." Jawabku.
"Kita disuruh ke ruangan Pak Makmun." Ucap Sofie.
"Oke gue segera kesana."
Ku hapus air mata di pipiku dan keluar dari toilet berjalan menuju ruangan pak Makmun.
Ku lihat Sofie, Efan dan beberapa karyawan lain sudah di ruangan.
"Saya mengumpulkan kalian disini hanya ingin memberi tau kalau besok kita ada meeting dadakan, jadi saya harap kalian mempersiapkan semuanya." Ucap Pak Makmun.
"Baik Pak." Jawab kami serentak.
"Jam berapa besok kita meeting Pak?" Tanyaku.
"Kita mulai meeting jam 09.00 wib dan jangan ada yang telat." Pak Makmun memperingatkan.
"Iya Pak." Jawabku.
"Ya sudah kalian boleh kembali ke meja masing-masing." Ucap Pak Makmun.
Jam pulang kantor tiba, aku pun kembali ke apartemen.
__ADS_1