
Sampai di apartemen aku mandi untuk membersihkan tubuhku.
Aku berendam di dalam bathtub, aku mengingat kejadian tadi siang.
Hatiku sangat sakit mengingatnya, kenapa Arga berubah?
ku selesaikan ritual mandi ku dan keluar dari kamar setelah selesai berpakaian.
Hari sudah malam dan aku tidur.
Keesokan harinya aku bangun dengan mata membengkak akibat menangis semalaman.
"Ah, kenapa mataku seperti ini, padahal hari ini akan ada meeting." Ucapku kesal.
Aku melajukan mobilku hingga sampai ke kantor dan langsung bersiap untuk meeting pagi ini.
Waktu sudah hampir jam 09.00 wib dan kami para karyawan sudah berkumpul di ruangan meeting.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Pak Makmun yang baru masuk ke ruangan meeting.
"Pagi Pak." Jawab kami serentak.
"Selamat pagi semua." Sapa seorang pria yang sepertinya baru tiba di ruang meeting.
deg
"Suara itu." Ucapku.
Ku lihat siapa yang datang.
"Arga, dia beneran Arga." Air mataku hampir tumpah.
Ku tarik nafas dalam untuk membendung air mataku.
Para karyawan berbisik saling menanyakan siapa pria itu.
"Mungkin belum ada yang tau siapa saya, baiklah saya akan memperkenalkan diri." Ucap Arga.
"Tapi aku mengenalmu Arga, apa kamu melupakanku?" Ucapku dalam hati.
"Perkenalkan nama saya Arga, saya adalah putra dari Pak Ardi. Mulai saat ini saya akan membantu beliau karena Pak Ardi sedang fokus mengurus perusahaan yang berada di luar negeri. Jadi saya mohon kerjasama teman-teman semua. terima kasih." Arga memperkenalkan dirinya.
"Ooh.." Ucap beberapa karyawan.
"Sekarang mari kita mulai meeting hari ini." Pinta Arga.
Meeting berlangsung cukup lama dan selesai pada saat jam makan siang.
"Baiklah, meeting hari ini cukup sampai disini. terima kasih semuanya." Ucap Arga mengakhiri meeting.
Aku dan semua karyawan pun berjalan meninggalkan ruangan meeting.
"Rara." Panggil Pak Makmun.
"I iya pak." Jawabku terbata.
"Kesini sebentar." Pinta Pak Makmun.
Aku pun menghampiri Pak Makmun yang sedang bersama Arga.
"I iya Pak ada apa?" Tanyaku.
"Pak Arga, ini Rara designer kita." Pak Makmun memperkenalkanku.
"Oh..iya, terima kasih atas kerja keras kamu selama ini ya." Ucap Arga.
"I iya Pak, sama-sama." Ucapku tersenyum terpaksa.
"Wajah kamu familiar sekali, apa kita pernah bertemu?" Tanya Arga padaku.
__ADS_1
"Oh mungkin wajah saya emang pasaran Pak." Jawabku seadanya.
"Hahaha....kamu bisa aja." Arga tertawa.
"Tawa itu....aku sangat merindukannya." Ucapku dalam Hati.
"Baik Ra, kamu boleh kembali ke meja kerjamu." Suruh Pak Makmun.
"Iya Pak terima kasih." Ucapku.
Aku berjalan keluar ruang meeting meninggalkan Arga dan Pak Makmun.
Aku langsung berlari menuju ke toilet, lagi-lagi Air mataku jatuh membasahi pipiku.
Ada rasa bahagia di hatiku namun juga terasa sakit.
Setelah cukup lama menangis di toilet, aku pun keluar menuju meja kerjaku.
Sofie dan Efan menghampiriku.
"Ra, lu dari mana aja?" Tanya Efan.
"Gue dari toilet." Jawabku.
"Oh..." Ucap Sofie.
"Yok kita makan siang" Ajak Efan.
"Ayok." Ucapku berusaha ceria.
Seperti biasa kami makan di kantin.
"Eh, anaknya Pak Ardi ganteng banget ya." Ucap Sofie.
"Papa nya aja ganteng apalagi anaknya." Sambung Efan.
"Tapi namanya familiar banget di telinga gue, kayak pernah dengar tapi dimana ya?" Ucap Sofie berfikir.
"Udah ah yok makan, jam makan siang udah mau habis nih." Aku mengalihkan pembicaraan Sofie.
Kami pun makan, dan selesai makan kami kembali ke kantor.
Aku mengerjakan sedikit pekerjaanku hingga jam pulang kantor tiba, aku pun kembali ke apartemen.
Aku masak untuk makan malam, selesai masak aku mandi membersihkan tubuhku.
Handphone ku berdering, ku lihat Sofie meneleponku.
"Halo Sof, ada apa?" Tanyaku.
"Ra, gue ke apartemen lu ya." Pinta Sofie.
"Ya udah datang aja." Jawabku setuju.
"Oke." Sofie mengakhiri panggilan telepon.
Tak berapa lama bel berbunyi, aku pun membuka pintu.
"Cepat juga lu sampai Sof." Ucapku sambil membuka pintu.
Seorang pria langsung memelukku dengan erat.
"Arga." Ucapku yang diiringi dengan air mata.
"Iya sayang aku disini." Ucap Arga.
"Huuaaaa Huuaaa." Tangisanku tiba-tiba pecah.
Arga menggendongku seperti anak monyet dan membawaku ke sofa.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku." Ucap Arga sambil duduk di sofa dan memangku ku seperti anak kecil.
Aku masih menangis sambil memeluk Arga dengan erat.
"Jangan menangis lagi sayang, aku jadi merasa sangat bersalah." Ucap Arga lagi.
"Arga, ini bukan mimpi seperti waktu itu kan?" Tanyaku yang masih belum percaya dengan kehadiran Arga.
"Ini bukan mimpi Sayang, ini nyata." Jawab Arga.
"Hmm...aku gak percaya, pasti ini semua mimpi." ucapku menggelengkan kepala.
Cup
"Terasa nyata kan?" tanya Arga sambil mencium bibirku cepat.
"Huuaaa....Argaaa..." Tangisanku kembali pecah.
Aku turun dari pangkuan Arga dan mundur menjauh darinya.
"Sayang, kenapa?" Tanya Arga heran.
"Kalo benar ini nyata, kenapa dua hari ini kamu mengabaikan ku?" Tanyaku sedikit marah.
"Maaf sayang, aku gak mengabaikan mu." Jawab Arga.
"Jadi apa namanya kalo gak mengabaikan?" Aku balik bertanya.
"Kita bertemunya di kantor, jadi gak mungkin kan aku memelukmu. Aku juga gak mau orang-orang di kantor beranggapan kamu menggodaku karena aku anak dari CEO. Aku hanya menjaga nama baikmu sayang." Jelas Arga.
"Terus kenapa kemaren kamu gak datang kesini?" Tanyaku.
"Aku masih sibuk sayang, aku baru tiba di Indonesia kemaren dan langsung ke kantor. Makanya baru hari ini aku datang." Jawab Arga.
"Beneran?" Tanyaku sambil mengusap air mataku yang masih jatuh.
"Iya sayang, banyak yang harus ku persiapkan sebelum aku tiba di Indonesia." Ucap Arga.
"Apa yang kamu persiapkan?" Tanyaku sesenggukan.
"Tempat tinggal." Jawab Arga.
"Kenapa? bukannya disini ada rumah orang tua kamu ya?" Tanyaku.
"Iya sayang, tapi itu terlalu jauh dari sini." Jawab Arga.
"Emang kenapa?" Tanyaku lagi.
"Aku ingin selalu dekat denganmu, makanya aku membeli apartemen yang berada tepat di depan sini. Aku gak mau lagi jauh dari kamu sayang, aku sangat merindukanmu." Jawab Arga.
"Aku juga merindukanmu, hiks." Ucapku.
Arga menghampiriku dan memelukku dengan Erat, aku pun membalas pelukannya.
"Maafkan aku ya sayang." Ucap Arga.
"Hu ugh." Aku mengangguk.
Arga mengajakku untuk duduk di sofa.
"Jadi selama ini kamu dimana? Kenapa kamu gak kasih kabar ke aku?" Tanyaku pada Arga.
"Selama ini aku berada di Singapura. Bagaimana aku mau memberi kabar padamu, aku aja gak ingat nomor handphone mu." Jawab Arga.
"Makanya diingat dong nomor handphone ku." Ucapku sebal.
"Iya sayang aku akan mengingatnya." Ucap Arga sambil mencium lembut keningku.
"Jadi bagaimana kamu bisa berada di Singapura, terus kenapa waktu itu kamu tiba-tiba pergi meninggalkanku?" Tanyaku sedih.
__ADS_1