
"Pakai baju sana." Suruh ku sebal.
"Ntar lagi ah, gerah nih." Ucap Arga sambil duduk di sebelahku.
"Ngapain malah duduk disini, bukannya pakai baju." Ucapku masih sebal.
Pipiku memerah dan hangat karena malu melihat Arga tanpa baju. Terlihat dengan jelas perut six pack nya. Sungguh pemandangan yang paling diminati kaum hawa.
"Hei kenapa wajahmu memerah, kamu malu?" Ucap Arga yang mengetahui reaksiku.
"Mana ada!" Jawabku sambil bangkit dari sofa dan hendak meninggalkan Arga.
Namun pergerakan ku terhenti ketika Arga menarik tanganku sedikit kencang sehingga aku jatuh di pangkuannya. Aku mencoba kembali berdiri namun Arga malah melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku.
"Kamu gak perlu malu sayang, kamu boleh melihat sepuasnya kalo kamu suka, menyentuhnya juga boleh." Arga memegang tanganku dan meletakkannya di dadanya.
"Arga please jangan mesum begini, kita sudah sama-sama dewasa. Aku takut kita khilaf dan melakukan hal-hal yang diluar batas." Ucapku berusaha untuk tenang.
"Itu gak akan terjadi sayang, aku gak akan merusak wanita yang ku sayangi. Itu semua akan terjadi jika aku sudah menikahi mu." Ucapan Arga membuat diriku sedikit tenang.
"Tapi aku...." Seketika ucapan ku terhenti.
Arga mendaratkan ciumannya di bibirku, begitu dingin dan lembut sehingga aku tak mampu untuk menolaknya. Arga meraih kedua tanganku dan meletakkannya di bahunya. Arga menarik pinggangku sehingga menempel dengan tubuhnya.
Sedikit demi sedikit ciuman Arga semakin cepat sehingga aku hampir kewalahan.
Ku dorong pelan tubuh Arga untuk melepaskan ciumannya.
"Cup..." Arga mencium keningku dan tersenyum manis padaku.
Aku hanya bisa diam dan tertunduk malu.
"Kenapa?" Arga mengangkat daguku.
"Gak apa-apa." Aku menggelengkan kepalaku.
Arga menarik badanku dan memelukku dengan erat.
"Kamu bilang padaku kalo aku wanita pertama yang kamu cium, tapi kenapa kamu sangat profesional saat mencium ku?" Tanyaku yang akhirnya mampu mengeluarkan suara.
"Kalo itu otodidak, hahaha." Tawa Arga pecah.
"Aku gak percaya." Aku merenggangkan pelukan Arga.
"Beneran sayang aku gak bohong." Arga mengelus rambutku.
"Udah ah aku mau mandi." Ucapku sambil bangkit dari pangkuan Arga.
"Ya sudah mandi sana, aku akan masak buat kita makan malam." Suruh Arga.
Aku pun berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian aku keluar dari kamar. Ku lihat Arga masih sibuk memasak untuk makan malam, aku pun menghampirinya.
__ADS_1
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku pada Arga.
"Kamu mau bantu? Itu pakai celemek nya dulu. Kamu tolong potongin bawang bombai, tomat, paprika dan daun bawang ya. Itu untuk masak telur gulung." suruh Arga.
"Oke." Aku pun memakai celemek dan mengerjakan apa yang Arga suruh.
"Kalo sudah selesai sekalian pecahkan telurnya ya." Suruh Arga lagi.
"Oh iya. Kamu kok bisa masak sih, pernah sekolah tata boga ya?" Tanyaku penasaran.
"Dulu waktu di luar negeri aku tinggal sendirian jadi mau tidak mau semuanya aku kerjakan sendiri. Dari merapikan apartemen, mencuci, menyetrika sampai memasak semuanya aku lakukan sendiri. Jadi aku pandai memasak ini ya juga otodidak, sama seperti berciuman." Jelas Arga panjang lebar.
"Ih ngapain disamakan dengan ciuman sih." Ucapku sebal dan malu.
"Hahaha kan emang bener." Arga tertawa kencang.
"Nih telurnya sudah selesai." Ucapku sambil memberikan mangkuk yang berisi telur.
"Oke, kamu tolong bawa masakan yang sudah selesai ini ke meja makan ya." Pinta Arga.
"Iya." Jawabku singkat dan mengerjakan apa yang Arga minta.
Semua makanan sudah matang dan sudah tersusun di meja makan. Kami pun memulai makan malam bersama. Selesai makan aku langsung mencuci piring kotor dan Arga membersihkan kompor dan meja makan.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Arga.
"Sudah." Jawabku.
"Hu ugh." Aku mengangguk.
"Rara, kamu kelihatan pucat, kamu sakit?" Tanya Arga.
"Oh mungkin cuma capek aja." Jawabku.
"Tapi badan kamu panas." Arga memegang keningku.
"Aku gak apa-apa, beneran." Jawabku meyakinkan Arga.
"Bagaimana gak apa-apa kalo badan kamu sepanas ini?" Ucap Arga khawatir.
"Beneran gak apa-apa, ayo kita nonton tv." Aku menyangkal.
*ARGA*
Ku pegang keningnya, aku yakin Rara demam. Tapi dia tidak mau mengakui kalau dia sedang sakit. Sungguh wanita yang tangguh dan mandiri, tidak pernah mau mengeluh dengan keadaan. Itu pula yang membuat aku semakin tertarik dengannya.
Rara tertidur di sofa saat kami sedang nonton tv. Kurasakan panasnya semakin tinggi. Ku gendong dia masuk ke dalam kamar dan ku baringkan dia di tempat tidur.
Tidak ada obat yang tersedia disini, akhirnya aku putuskan untuk mengompresnya saja. Cukup lama aku mengompresnya akhirnya panasnya turun.
*RARA*
__ADS_1
"Aku terbangun dari tidurku, ku lihat Arga berada di sisi ranjangku sedang tertidur sambil memegang tanganku. Bahkan saat tidur pun Arga masih terlihat tampan.
"Kenapa kamu begitu tampan dan sangat baik terhadapku Arga? Aku takut aku akan jatuh cinta padamu." Ucapku dengan suara yang sangat pelan sambil membelai rambut Arga.
"Jangan takut untuk jatuh cinta padaku Ra." Tiba-tiba Arga menggapai tanganku saat aku membelai rambutnya.
"Ka...kamu mendengar ucapan ku?" Tanyaku terbata karena kaget.
"Kamu sudah sembuh Ra? Sudah enakan badannya?" Tanya Arga.
"Iya aku sudah sembuh, terima kasih sudah merawat ku." Jawabku.
"Ini aku buatkan teh jahe untuk menghangatkan badan." Arga membantuku duduk dan memberikan teh jahe padaku.
"Iya terima kasih." Aku meminum teh jahe buatan Arga.
"Maaf karena aku sudah masuk ke kamar tanpa izin terlebih dahulu." Ucap Arga.
"Iya gak apa-apa, kamu punya alasan untuk ini." Jawabku.
"Kalo begitu aku keluar sekarang." Ucap Arga sambil berdiri dari duduknya dan hendak melangkah keluar kamar.
Spontan aku menarik tangan Arga sehingga langkahnya terhenti. Arga kembali duduk di tepi ranjang dan dengan cepat aku memeluknya. Entah dapat keberanian dari mana sehingga aku bisa memeluk Arga atas kemauanku sendiri.
"Terima kasih sudah berada di sisiku selama ini." Ucapku pada Arga.
"Aku akan selalu berusaha menjagamu dalam kondisi apapun." Arga membalas pelukanku.
"Terima kasih." Ucapku.
"Boleh aku mencintaimu?" Tanya Arga.
"Hu ugh." Aku mengangguk.
"Maka kamu jangan takut untuk mencintaiku." Arga mengecup keningku.
"Hu ugh." Aku mengangguk lagi.
"Sekarang kamu tidur lagi ya." Suruh Arga.
"Sudah gak ngantuk." Jawabku manja.
"Tapi besok kamu harus berkerja dan ini masih pukul 03.30 wib." Ucap Arga.
"Tapi aku sama sekali gak ngantuk." Ucapku.
"Ya sudah kalo gitu kamu berbaring aja ya." Pinta Arga.
"Kamu mau kemana?" Tanyaku yang melihat Arga beranjak dari duduknya.
"Aku mau keluar, mau duduk di sofa." Jawab Arga.
__ADS_1
"Oh ya sudah." Ucapku.