Handsome Ghost Charm

Handsome Ghost Charm
Bab 22


__ADS_3

Kami pun berjalan menuju ruangan Pak Makmun.


"Terima kasih ya untuk hari ini, saya puas dengan kerja kalian semua dan mohon dipertahankan ya." Ucap Pak Ardi.


"Iya Pak sama-sama." Jawab Sofie dan Aku hanya mengangguk.


"Oh ya, ingat besok kita makan siang bersama ya." Pak Ardi mengingatkan.


"Iya pak Saya pasti ingat." Jawabku tersenyum.


"Pak Makmun sudah dapat tempatnya?" Tanya Pak Ardi.


"Sudah Pak, besok kita makan siang di Xo dan saya sudah reservasi tempatnya Pak." Jawab Pak Makmun.


"Oke, terima kasih ya Pak Makmun." Ucap Pak Ardi.


"Iya Pak sama-sama." Jawab Pak Makmun.


"Untuk Rara, kedepannya kita bakalan sering bersama karena saya pasti akan sering minta bantuan kamu." Ucap Pak Ardi padaku.


"Oh baik Pak, dengan senang hati." Jawabku.


"Ya sudah, ini sudah waktunya pulang kantor. Kalian boleh pulang ke rumah masing-masing. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Ucap Pak Ardi.


"Baik, terima kasih Pak." Jawab kami serentak.


Aku dan Sofie pun keluar dari ruangan pak makmun dan bersiap untuk pulang. Kami berjalan menuju parkiran mobil.


"Rara, Sofie." Teriak Efan memanggil Aku dan Sofie.


"Lah, belum pulang lu Fan?" Tanya Sofie.


"belom, gue sengaja nunggu kalian berdua." Jawab Efan.


"Ngapain lu nungguin kita?" Tanyaku.


"Ngopi yok." Ajak Efan.


"Wah boleh-boleh, yok Ra." Ajak Sofie juga.


"hmm mau ngopi dimana?" Tanyaku.


"Ngopi dekat-dekat sini aja supaya pulangnya gak kejauhan." Efan mengusulkan.


"Gimana kalo Republik Coffee, kan dekat tuh dari sini." Usul Sofie.


"Hmm...cocok, kita ngopi di sana aja." Aku setuju.


"Oke." Efan juga setuju.


Kami mengendarai mobil masing-masing menuju tempat yang sudah kami sepakati bersama. Sampai di lokasi kami pun memesan tempat duduk dan kopi.


"Eh, CEO kita ganteng ya." Sofie membuka pembicaraan.


"Iya bener, walaupun sudah berumur gitu tapi auranya tetap terpancar." Jawabku.


"Udah ganteng baik lagi." Sambung Efan.


"Iya bener tuh." Sofie setuju dengan ucapan Efan.


"Papa nya aja setampan itu, anaknya gimana ya?" Tanyaku.


"Wah...gue rela jadi menantunya, sumpah gue gak bohong." Ucap Sofie membuat tawa kami lepas.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.00 wib.


"Udah malam nih, balik yuk." Ucapku mengusulkan.


"Eh iya udah jam sembilan tau." Sambung Sofie.

__ADS_1


"Oke yok lah pulang." Efan setuju.


Kami pun mengendarai mobil masing-masing dan pulang. Sampai di Apartemen aku disambut oleh Arga.


"Kok malam banget pulangnya, lembur ya?" Tanya Arga.


"Gak ah, tadi aku kumpul sama temen-temen. Biasalah, ngopi." Jawabku.


"Oh, kamu sudah makan?" Tanya Arga lagi.


"Belum, tadi di sana cuma ngopi doang." Jawabku.


"Aku udah masak, mau langsung makan atau mandi dulu?" Tanya Arga lagi.


"Mandi dulu lah biar segar." Jawabku.


"Ya sudah buruan mandi sana." Suruh Arga.


"Hmm..." Jawabku singkat.


Aku pun berjalan ke kamar untuk mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar dari kamar untuk makan.


"Arga, ayok makan." Ajak ku.


"Oh oke." Jawab Arga.


Kami berdua pun menyantap makan malam yang dimasak oleh Arga. Selesai makan seperti biasa kami berdua duduk di sofa sambil nonton tv.


"Kamu kelihatannya capek banget Ra." Ucap Arga memperhatikan ku.


"Iya emang lagi capek banget, tadi banyak pekerjaan di kantor." Jawabku.


"Udah tau capek bukannya langsung pulang, ini malah ngopi dulu sampai malem banget." Ucap Arga.


"Udah deh jangan ceramah, udah tau orang lagi capek malah diceramahi." Ucapku ngambek.


"Semuanya." Jawabku seadanya.


"Lah masa semuanya sih." Ucap Arga.


"Ya emang semuanya capek tau." Jawabku manja.


"Kakinya capek gak?" Tanya Arga lagi.


"Capek banget, bayangin aja satu harian jalan pakai sepatu high hills." Jawabku.


"Ya udah sini." Arga mengangkat kakiku ke pangkuannya.


"Eh mau ngapain?" Tanyaku terkejut dengan perbuatan Arga.


"Mau aku pijat kakinya." Jawab Arga.


"Jangan jangan." Aku menolak.


"Kenapa? katanya capek." Tanya Arga lagi.


"Masa iya kamu pegang kaki aku." Ucapku sungkan.


"Gak apa-apa sayang, udah kamu rileks aja. Aku pinter memijat loh." Ucap Arga meyakinkan.


"Beneran gak masalah kamu pegang kaki aku?" Tanyaku memastikan.


"Iya sayang, udah deh nurut aja kata suami." Ucap Arga.


"Apa apa? Suami? ih ngaco kamu." Aku memukul pelan bahu Arga.


"hahaha... Emang kamu gak mau ya kalau aku jadi suami kamu?" Tawa Arga pecah.


"Gak mau lah." Jawabku.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Arga.


"Ya kamu aja gak jelas asalnya dari mana." Jawabku jujur.


"Kok gak jelas sih? aku jelas kok." Ucap Arga.


"Kalo jelas, keluarga kamu dimana?" Tanyaku penasaran.


"Ada sayang, nanti ada waktunya kamu akan tau semuanya. tapi kamu harus bantu aku untuk mengungkap semuanya." Jawab Arga dengan wajah serius.


"Mengungkap apa?" Tanyaku penasaran.


"Hahaha udah deh sini kaki kamu." Arga menarik kakiku ke pangkuannya dan memijatnya.


"Pinter juga kamu memijat." Ucapku yang merasa nyaman dipijat Arga.


"Enak kan, ya udah kamu rileks aja. Sini kaki yang satunya naikin juga." Suruh Arga.


"Berapa nih bayarannya per jam?" Tanyaku bercanda.


"Aku gak mau dibayar pakai uang." Jawab Arga.


"Kenapa?" tanyaku.


"Uangku udah banyak, ntar bingung mau simpan dimana." Jawab Arga sombong.


"Terus mau dibayar pakai apa? Aku masak buat kamu ya." Aku mengusulkan.


"Gak mau ah, kayaknya aku lebih pintar masak dari pada kamu." Jawab Arga masih sombong.


"Ya udah ntar gantian kaki kamu yang aku pijat." Ucapku.


"Aku gak capek." Jawab Arga.


"Terus kamu maunya apa?" Tanyaku putus asa.


"Janji kamu kasih ya." Ucap Arga.


"Asal jangan yang aneh-aneh mintanya ya." Ucapku.


"Iya." Jawab Arga singkat.


"Apa?" Tanyaku.


"Aku minta kamu menemaniku seumur hidup dan jangan pernah berpaling ke pria lain." Pinta Arga.


"Wah berat banget permintaannya." Ucapku.


"Masa berat sih, coba sini aku rasakan." Arga bangkit dan langsung menggendongku.


"Arga....turunin." Teriakku.


"Bukan aku yang berat tapi permintaanmu." Ucapku kesal.


"Hahaha iya aku tau." Arga tertawa lebar.


"Udah nih lanjutin pijatnya." Pintaku.


"Iya cantik, sini kakinya naikin." Suruh Arga.


Pijatan Arga terasa sangat nyaman hingga tanpa sadar aku tertidur di sofa. Samar-samar aku merasa seperti ada yang menyelimuti tubuhku tapi mataku berat untuk terbuka. Hingga akhirnya aku mendengar suara yang memanggil namaku.


"Rara.... Rara.... ini sudah pukul 05.30, bangun Ra." Ku dengar suara Arga yang mencoba membangunkan ku.


Ku buka mataku dan ku lihat jam di dinding.


"Loh kok aku tidur disini?" Tanyaku terkejut.


"Iya tadi malam kamu ketiduran saat aku memijat kakimu." Jawab Arga.

__ADS_1


__ADS_2