
"Tahanan 231 ada tamu, mari ikut saya." Ucap seorang petugas yang kemudian memborgol tangan Sandra dan berjalan menuju ruang kunjungan.
"Sandra, apa kabarmu nak?" Tanya Pak Satria pada Sandra yang kini duduk dihadapannya namun terhalang kaca pembatas.
"Yang pasti tidak baik-baik saja Pa." Jawab Sandra dingin pada Papanya.
"Kamu masih marah sama Papa karena tidak berhasil membujuk Arga untuk mencabut tuntutannya?" Tanya Pak Satria memandang sedih putrinya. "Maafkan Papa ya nak." Ucap Pak Satria lirih.
"Papa tau kan, sekarang mereka sudah nikah. Papa tau betapa sakitnya hatiku mendengar kabar mereka nikah? Apa Papa gak sayang sama anak Papa satu-satunya? Kenapa Papa nggak ngambil tindakan supaya mereka batal nikah? Atau Papa memang nggak peduli lagi samaku?" Tanya Sandra dengan mata memerah menahan amarah.
"Mana mungkin Papa tidak peduli padamu Sandra, cuma Papa bingung harus melakukan apa." Jawab Pak Satria sambil menahan air mata yang akan jatuh ke pipinya.
"Pa, aku ingin keluar dari sini. Aku udah nggak tahan berada disini Pa, tolong keluarkan aku dari penjara jahanam ini Pa." Pinta Sandra dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Tidak bisa sayang, hanya Rara yang bisa mencabut tuntutannya." Jelas Pak Satria.
"Kalo gitu Papa mohonlah pada perempuan itu." Tegas Sandra.
"Itu tidak semudah yang kamu ucapkan nak, sangat sulit untuk bertemu dengan Rara karena dia selalu bersama suaminya. Ketika suaminya melihat Papa ingin mendekati Rara, pasti Suaminya sesegera mungkin menghindar." Jelas Pak Satria.
"Kalau tidak bisa pakai cara lembut, gunakan cara kasar Pa." Suruh Sandra.
"Kita ingin minta tolong pada Rara, jadi harus dengan cara lembut. Lagian mana ada orang minta tolong dengan cara kasar." Ucap Pak Satria meyakinkan anaknya.
"Aku tidak peduli Pa, yang penting aku bisa keluar dari sini." Ucap Sandra.
Pak Satria yang mendengar ucapan Sandra hanya bisa geleng-geleng. "Jadi apa yang harus Papa lakukan?" Tanya Pak Satria pada anaknya.
"Papa harus bayar orang untuk menculik perempuan itu, dan paksa dia agar mau mencabut tuntutannya." Ucap Sandra dengan suara pelan.
"Itu tidak mudah Sandra, ada banyak orang yang selalu berada di dekatnya." Ucap Pak Satria.
"Ya lakukan ketika perempuan itu sedang sendiri dong Pa, masa gitu aja harus diajari sih." Ucap Sandra sambil menggebrak pelan meja kecil yang berada di depannya dengan kedua tangannya yang sedang di borgol.
Pak Satria yang melihat anaknya seperti itu hanya bisa menggelengkan kepala berkali-kali. "Ya sudah lah, waktu berkunjung hampir habis, Papa pulang dulu ya." Pamit Pak Satria pada anaknya.
"Ingat perkataan Sandra tadi ya Pa." Ucap Sandra dan Pak Satria hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan anaknya. Petugas memasukan kembali Sandra ke dalam penjara.
Sepanjang perjalanan dari lapas menuju ke kantor ST.Co Pak Satria terus berfikir tentang perkataan Sandra tadi. "Apa harus aku membayar orang untuk menculik Rara? Ah tapi itu sangat berbahaya, apalagi kalau sampai ketahuan, bisa-bisa aku juga akan masuk penjara. Lebih baik aku memohon pada Rara agar dia mau mencabut tuntutannya. Yah itu lebih baik." Gumamnya kemudian terus melajukan mobilnya dengan cepat, namun Pak Satria tidak ke ST.Co melainkan ke kantor The One.
Sampai di kantor The One dia langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke kantor The One.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang security yang sedang berjaga di pintu masuk kantor The One.
__ADS_1
"Oh saya ingin bertemu dengan Rara designer disini." Jawab Pak Satria tanpa ragu.
"Maaf Pak, Bu Rara belum masuk kerja Pak, beliau masih cuti nikah." Jawab Security tersebut. "Apa ada pesan Pak?" Tanya security.
"Hmm baiklah saya akan datang kembali setelah dia selesai cuti." Ucap Pak Satria dengan perasaan sedikit kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan Rara, kemudian keluar dari The One dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat hingga sampai di kantornya.
***
Seorang pria paruh baya baru saja turun dari pesawat, dia mengambil ponsel dari tas kecil yang dibawanya kemudian menelepon seseorang.
"ππ’ππ° ππΆπ’π― π." jawab seseorang yang di teleponnya.
"Halo Efan, apa kabar? Papa baru saja turun dari pesawat dan sekarang masih di Bandara." Tuan R memberi tau Putranya dari panggilan telepon.
"Benarkah? Ya udah biar Efan jemput Papa di bandara ya." Ucap Efan semangat.
"Gak usah Fan, kamu kan lagi kerja. Papa sudah telepon manager hotel untuk menjemput Papa dan kemungkinan Papa akan nginap di hotel." Jelas Tuan R.
"Kenapa gak nginap di apartemen Efan aja sih Pa?" Tanya Efan.
"Sementara Papa akan nginap di hotel dulu sekalian ada sedikit pekerjaan yang harus Papa selesaikan, setelah itu Papa janji akan nginap di apartemen kamu." Jelas Tuan R lagi.
"Janji ya Pa." Pinta Efan.
"Nanti setelah Papa udah nggak sibuk barulah kita ke rumah Sofie." Jawab Efan.
"Baik lah, Papa akan menyelesaikan pekerjaan Papa secepat mungkin." Ucap Tuan R.
"Oke Pa, makasih ya." Ucap Efan.
"Apa pun untuk anak Papa." Jawab Tuan R. "Ya udah teleponnya Papa tutup dulu ya, jemputan nya udah datang." Ucap Tuan R lagi.
"Baik Pa, hati-hati di jalan ya. Miss u Pa." Pesan Efan kemudian memutuskan sambungan telepon.
Efan yang saat ini sedang berada di loby kantor pun langsung menuju meja kerja Sofie.
"Sayang." Panggil Efan yan kini sudah berada di dekat Sofie.
"Ya." Jawab Sofie.
"Papa ku datang, dan kemungkinan beberapa hari lagi kami akan ke rumah kamu." Jelas Efan.
"Serius?" Tanya Sofie dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Serius dong." Jawab Efan.
"Kapan?" Tanya Sofie lagi.
"Hmm saat ini Papa masih menyelesaikan sedikit pekerjaan di hotel, nanti kalo sudah selesai barulah kami datang. Palingan 3 hari lagi." Jawab Efan.
"Ya udah nanti aku bilang juga ke Mama deh." Jawab Sofie.
"Oh ya, nanti pulang kerja kita belanja buat seserahan lamaran ya." Ajak Efan.
"Hmm iya sayang." Jawab Sofie tersenyum bahagia.
"Oke sayang, aku mau ke ruangan Pak Makmun dulu ya." Pamit Efan.
"Hu ugh." Sofie mengangguk sambil tersenyum.
Jam pulang kerja tiba, sesuai rencana Efan dan Sofie akan berbelanja. Efan melajukan mobilnya menuju ke salah satu Mall terbesar di kotanya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam Mall. "Sayang, kita beli apa aja ya untuk seserahan nanti?" Tanya Efan pada Sofie.
"Hmm...yang pertama kita cari cincin couple, kemudian pakaian buat aku, terus apa lagi ya? Aku juga bingung." Jawab Sofie.
"Ya udah kalo gitu kita beli semua kebutuhan kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki." Ucap Efan.
"Oke, begitu pun boleh." Sofie setuju.
Kemudian mereka berdua pun membeli semuanya. Baju, tas, sepatu, underwear, perhiasan, sepatu, parfume, make up dan lainnya. Tak lupa juga mereka membeli cincin couple. Selesai berbelanja, Sofie dan Efan pulang ke apartemen Efan untuk menyusun seserahan mereka kedalam box kaca yang juga mereka beli tadi.
"Kenapa kita gak pakai jasa tukang hias hantaran aja sih sayang?" Tanya Efan.
"Gak perlu sayang, aku bisa kok mengerjakannya sendiri." Jawab Sofie.
"Hmm...ya udah deh terserah kamu aja." Ucap Efan sambil membelai sayang rambut Sofie.
Sofie pun menyusun sendiri barang hantarannya hingga selesai. Setelah selesai Efan mengantarkan Sofie pulang ke rumahnya.
"Om, ini saya mengantarkan Sofie pulang." Ucap Efan pada Papanya Sofie.
"Oh iya, terima kasih ya." Jawab Papanya Sofie.
"Iya om sama sama, kalau begitu Efan permisi ya Om." Ucap Efan lagi.
"Ya sudah, hati-hati ya." Pesan Papanya Sofie.
__ADS_1
"Iya Om." Ucap Efan kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya hingga sampai ke apartemen miliknya.