
"Curiga gimana?" tanya Pak Makmun.
"Disini mereka juga akan memberikan bantuan produksi, berarti secara tidak langsung sebelum design kita launching mereka akan tau apa yang akan kita buat. Mengapa mereka tidak mengajukan kerja sama dalam design malah lebih memilih bekerjasama di bagian produksi? yah walaupun yang kita tau selama ini design mereka tidak begitu menarik di mata konsumen." Jelas ku.
"Ucapan kalian semua ada benarnya dan saya juga berfikiran sama seperti kalian. Ini sudah ke sekian kali ST.Co mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaan kita tapi pihak kita selalu menolak." Jelas Pak Makmun.
"Kenapa perusahaan kita selalu menolak pak?" Tanya Efan.
"CEO tidak suka dengan cara kerja ST.Co yang terlihat sedikit licik." Jawab Pak Makmun.
"Kami belum tau loh pak siapa CEO kita, kami taunya hanya Pak Makmun saja." Ucap Sofie membuat Pak Makmun tertawa.
"Iya memang beliau tidak pernah langsung turun ke kantor kita. Saya komunikasi dengan beliau hanya melalui telepon atau Skype." Jelas Pak Makmun.
"Siapa nama beliau Pak?" Tanya ku.
"Nama beliau Ardi Nugraha." Jawab Pak Makmun.
"Ooo...." Ucap kami bertiga serentak.
"Iya... hari senin ini beliau akan hadir ke kantor kita dan kemungkinan kita akan meeting dengan beliau. Jadi kalian tolong persiapkan bahan meeting masing-masing." Pinta Pak Makmun.
"Baik Pak." Jawab kami serentak.
"Tentang kerja sama ini pasti akan dibahas oleh beliau, jadi siapkan jawaban kalian ya." Pinta Pak Makmun lagi.
"Iya Pak." Jawab Sofie.
"Hari senin juga kita meeting dengan pihak ST.Co." Ucap Pak Makmun memberi tau kami lagi.
"Wah bakalan seru nih meeting nya." Ucap Efan.
"Iya...di meeting nanti Pak Ardi sendiri lah yang akan memutuskan akan kerja sama dengan ST.Co atau tidak. Makanya jawaban kalian juga akan mempengaruhi semuanya." Jelas Pak Makmun.
"Hu ugh." kami bertiga serentak mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kalian bertiga boleh kembali untuk melanjutkan pekerjaan kalian." Pak Makmun mengakhiri briefing pagi ini.
"Baik Pak terima kasih." Jawabku.
__ADS_1
Kami bertiga pun keluar dari ruangan Pak Makmun dan kembali ke meja masing-masing. Rasa penasaran muncul dalam diriku.
Kenapa ST.Co selalu mengajukan kerja sama dengan perusahaan ini padahal sudah berkali-kali di tolak. Akhirnya ku ambil handphone ku dan aku mulai browsing tentang ST.Co
Tidak terasa waktu makan siang tiba, seperti biasa aku dan kedua temanku makan siang di kantin.
"Eh, ntar kita jadi kan ke rumah lu Ra?" Tanya Efan.
"Jadi dong." Jawab ku mantap.
"Sesuai rencana ya, ntar kita bertiga pulang dulu terus Efan jemput gue dan Rara." Ucap Sofie semangat.
"Siap!" Jawab Efan juga semangat.
"Eh gue penasaran deh sama ST.Co, kok mereka ngotot banget mau kerjasama dengan perusahaan kita?" Ucapku.
"Ya jelas lah, perusahaan kita kan sedang jaya-jaya nya. Siapa sih yang gak kenal THE ONE apalagi designer nya pinter." Jawab Efan.
"Tapi gue kerja disini kan baru dua tahun." Ucapku.
"Iya gue juga, kita kan masuknya bareng." Ucap Sofie.
"Oh ya, lu kan lebih dahulu kerja disini Fan, lu tau sesuatu gak tentan ST.Co?" Tanya Sofie.
"Gue tau cuma gak banyak sih. Yang gue tau kalo gak salah nama pemilik ST.Co itu Pak Satria, mereka bolak balik ganti designer karena mungkin mereka gak nemuin designer yang kompeten. Nah terakhir designer mereka itu anak dari Pak Satria, kalo gak salah namanya Sandra. Itu aja sih setau gue." Jelas Efan.
"Kalo THE ONE gimana?" Tanya ku.
"Ya..yang kita ketahui bersama selama ini THE ONE di pimpin oleh Pak Makmun yang jadi orang kepercayaan Pak Ardi. Gue udah pernah dengar nama Pak Ardi Nugraha tapi belum pernah ketemu juga sih. Ntar hari senin lah pertama kali gue ketemu CEO." Jelas Efan lagi.
"Gue sih penasaran sama ST.Co tapi pas gue browsing tadi gak nemuin apa-apa, hanya tentang company profil aja." Ucapku masih penasaran.
"Oh ya setau gue CEO kita punya seorang putra loh, dan kalo gak salah sekitar dua atau tiga tahun yang lalu putranya pulang dari Paris ke Indonesia." Ucap Efan.
"Siapa namanya Fan?" Tanya Sofie penasaran.
"Nah itu dia yang gue gak tau." Jawab Efan.
"Yaahh..." Sofie kecewa.
__ADS_1
"Eh masuk yok, waktu makan siang udah selesai nih." Ajak ku.
"Oh iya, yok lah." Ucap Sofie.
"Ayok ayok." Ucap Efan.
Kami bertiga pun kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan kami.
Hari sudah sore, waktu sudah menunjukan pukul 17.00 wib dan waktunya pulang kerja. Aku, Efan dan Sofie bergegas pulang karena kami mau pergi ke rumah Mama. Efan membeli cake buah untuk Mama, Sofie membeli buah untuk Papa dan aku membeli pizza untuk Rangga. Aku juga membeli minuman dan cemilan untuk kami bertiga.
Sampai di apartemen aku bergegas mandi dan bersiap. Ku lihat Arga sedang berada di dapur.
Selesai mandi dan bersiap, aku keluar dari kamar. Ku lihat Arga masih berada di dapur dan aku pun menghampiri nya.
"Kamu masak? aku kan mau pergi." Tanyaku.
"Iya tau...ini aku buatkan nasi ayam teriyaki untuk bekal kamu dan teman-teman kamu di jalan nanti." Jawab Arga.
"Eah kelihatannya enak banget, terima kasih ya." Cup...aku mencium pipi Arga.
Namun seketika aku tersadar dan menutup mulutku dengan tangan ketika ku lihat Arga memegang pipi nya.
"Ma...maaf Arga, A..Aku terbiasa mencium pipi Mama ku setiap dia membuatkan bekal untuk ku. Maaf ya, kamu jangan marah, please..." ucapku terbata karena kebingungan.
"Gak apa-apa kok cantik." Arga tersenyum.
"Kamu jangan menganggap aku cewek mesum ya. Sumpah aku gak sengaja, aku spontan tadi mencium kamu." Jelas ku.
"Disengaja juga gak apa-apa kok, aku gak akan marah." Jawab Arga tersenyum sehingga membuat pipiku merah seperti tomat.
"Beneran aku gak sengaja." Ucapku sebal.
Aku berbalik badan ingin meninggalkan Arga karena aku gak mau Arga melihat pipiku memerah. Namun langkahku terhenti karena Arga menarik tanganku sehingga badanku berbalik menghadapnya.
"Kenapa pipi kamu merah?" Tanya Arga sambil tersenyum.
"Gak apa-apa." Aku menundukkan wajahku karena malu.
Arga meraih pinggangku sehingga tubuhku menempel ke tubuhnya. Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku namun tenaganya sangat kuat. Ku rasakan tubuh Arga yang dingin dan tercium oleh ku wangi tubuhnya yang membuat aku hanyut di dalamnya.
__ADS_1