
Pandangan Papa dan Mama Rara tertuju pada Arga, begitu juga dengan pandangan Rangga yang menatap tajam Arga.
"Ma, pa perkenalkan ini Arga pacar Rara." Ucap Rara.
Arga pun menyalami kedua orang tua Dara dan Rangga menyalami Arga.
"Benar kamu pacar anak saya?" Tanya Papa Rara.
"Iya Om." Jawab Arga.
"Sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Mama Rara pada Arga.
"Sejak Rara pindah ke apartemen Ma." Rara menjawab pertanyaan Mamanya.
"Sudah lama juga ya Ra, kenapa kamu gak pernah cerita sama Mama?" Tanya Mama Rara.
"Maaf Ma, Rara belum sempat. Hehehe." Jawab Rara.
Saat percakapan sedang serius tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Siapa itu yang datang?" Tanya Mama Rara.
"Gak tau Ma, apa mungkin Dokter?" Ucap Rara.
"Saya permisi buka pintu dulu ya." Ucap Arga berjalan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Papa." Arga terkejut karena yang datang ternyata Papanya.
"Kenapa terkejut seperti itu?" Tanya Papa Arga.
"Ya terkejut lah Pa, tiba-tiba Papa datang tanpa kasih tau terlebih dahulu. Ya udah ayo masuk Pa." Ajak Arga.
"Loh Rame sekali, sedang ada yang berkunjung ya?" Tanya Papa Arga yang melihat ruangan inap Rara banyak orang.
"Iya Pa, itu keluarga Rara yang datang." Jawab Arga.
"Oh ya?" Tanya Papa Arga memastikan.
"Iya Pa." Jawab Arga.
"Wah kebetulan sekali dong Papa datang." Ucap Papa Arga.
Rara pun terkejut melihat siapa yang datang barusan.
"Eh Pak Ardi, terima kasih sudah datang Pak." Ucap Rara.
"Iya iya, bagaimana kondisi kamu Ra?" Tanya Papa Arga.
"Udah mendingan kok Pak, tapi belum boleh pulang sama dokter." Jawab Rara.
"Iya lah, ngapain buru-buru pulang? Tunggu sampai benar-benar pulih baru boleh pulang." Ucap Papa Arga.
"Oh iya Pak, perkenalkan ini Mama dan Papa saya. Terus yang itu adik saya Pak." Ucap Rara memperkenalkan keluarganya pada Papa Arga.
"Ma, Pa ini Pak Ardi CEO di perusahaan tempat Rara berkerja." Ucap Rara.
__ADS_1
"Terima kasih Pak sudah mau datang menjenguk anak saya." Ucap Mama Rara.
Papa Arga tersenyum sambil memikirkan sesuatu.
"Perkenalkan nama saya Ardi." Ucap Papa Arga sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya Vira Pak, Mama Rara." Ucap Mama Rara menerima salaman Papa Arga.
"Perkenalkan saya Indra Papanya Rara." Ucap Papa Rara.
Papa Arga menatap dengan seksama wajah Pak Indra.
"Dulu anda lulusan SMPN 49 bukan?" Tanya Pak Ardi.
Karena udah kenalan jadi manggilnya dengan sebutan Pak Ya.
"Iya benar Pak." Jawab Pak Indra.
"Anda gak ingat saya? Saya Ardi Nugraha teman sebangku Anda di SMP." Ucap Pak Ardi.
Sejenak Pak Indra berfikir dan mengingat masa dia SMP.
"Oh iya saya baru ingat, Anda ANU kan." Ucap Pak Indra.
"Iya, hahaha." Pak Ardi tertawa lepas.
"Kok Anu Pa?" Tanya Bu Vira pada suaminya.
"Iya ANU itu singkatan dari Ardi Nugraha." Jawab Pak Indra.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa.
"IDE alias Indra Dermawan." Jawab Pak Ardi.
"Hahaha iya benar, masih ingat juga rupanya ya." Pak Indra terkekeh.
"Jadi Rara ini..."
"Iya Rara anak saya Pak." Pak Indra memotong ucapan Pak Ardi.
"Udah ah, bicaranya jangan sok formal begini sama teman seperjuangan juga." Pinta Pak Ardi.
"Iya iya bener juga tuh." Jawab Pak Indra.
"Udah lama banget kita gak jumpa ya, terakhir itu pas perpisahan SMPN 49. Setelah itu gua melanjutkan sekolah ke luar negeri." Pak Ardi mengingat kenangan dulu.
"Iya iya bener banget tuh." Ucap Pak Indra.
Pak Indra dan Pak Ardi sedang asik ngobrol mengenang masa-masa SMP, sementara Rara, Arga, Rangga dan Bu Vira hanya jadi pendengar budiman.
"Senang sekali rasanya bisa jumpa teman lama." Ucap Pak Ardi.
"Tapi yang bikin gak seru jumpa nya di rumah sakit ya kan." Ucap Pak Indra.
"Tapi kalo dipikir-pikir emang bener ya dunia ini tak selebar daun kelor." Ucap Pak Ardi.
__ADS_1
"Kenapa begitu Di?" Tanya Pak Indra.
"Lah iya, anak gua jauh-jauh sekolah sampai ke luar negeri, dapat kekasih anak temen gua." Ucap Pak Ardi.
"Siapa?" Tanya Pak Indra.
"Lah itu yang di samping lo kan anak gua." Jawab Pak Ardi.
"Haah...yang bener? Jadi dia ini anak lo Di?" Tanya Pak Indra memastikan.
"Iyaa...lihat aja wajahnya kan mirip gua." Jawab Pak Ardi.
Pak Indra menoleh ke arah Arga dan memperhatikan Arga dari ujung Rambut sampai ujung kaki.
"Tapi gua seneng kalo Arga pacaran sama Rara, karena gua sempat takut kalo Arga kepincut sama cewek bule." Ucap Pak Ardi.
"Arga juga gak selera kali Pa sama cewek bule." Sambung Arga.
"Kalo gitu gua juga setuju Rara pacaran sama anak lo Di." Ucap Pak Indra.
Arga dan Rara hanya bisa senyum-senyum mendengarkan pembicaraan Papa mereka.
"Sebenarnya waktu itu gua juga berniat menjodohkan Rara dengan Arga tapi ternyata mereka sudah saling kenal." Ucap Pak Ardi yang membuat Arga membulatkan matanya karena terkejut.
"Oh ya?" Tanya Pak Indra.
"Hu ugh." Pak Ardi mengangguk.
"Oh ya, istri lo mana Di? Tanya Pak Indra.
"Istri gua gak ikut, padahal kalo tadi dia ikut pasti lebih seru lagi. Lo gak tau kan siapa istri gua." Ucap Pak Ardi.
"Iya gua gak tau, emang lo nikah sama siapa?" Tanya Pak Indra.
"Lo kenal kok, malahan dulu kita pernah sama-sama suka sama dia." Ucap Pak Ardi mengingatkan.
"Ya ampun, jadi lo nikah sama Hasna? Kok bisa?" Tanya Pak Indra.
"Eheemm..." Bu Vira mendehem.
"Hayo..Mama cemburu." Ucap Rara.
"Ih Mama, itu kan cerita masa lalu. Masih cinta monyet." Ucap Pak Indra meyakinkan istrinya.
"Iya Bu Vira, itu semua masa lalu. Lagian Indra juga cintanya ditolak sama Hasna kok. Hahaha." Ucap Pak Ardi tertawa.
"Kayak dulu lo gak ditolak aja Di." Ucap Pak Indra mengingatkan.
"Iya, sebenarnya dulu kami berdua ditolak sama Hasna Bu Vira. Tapi Indra mundur dan saya maju terus walau ditolak berkali-kali dan akhirnya diterima. Langsung deh saya nikahi." Pak Ardi menjelaskan pada Bu Vira.
"Jadi hubungan Arga dan Rara udah dapat restu nih Pa, Om dan Tante? Tanya Arga.
"Kalo Papa pasti merestui dong." Jawab Pak Ardi.
"Mama sama Papa gimana?" Kali ini Rara yang bertanya.
__ADS_1
"Iya sayang Papa restui." Ucap Pak Indra dan Bu Vira tersenyum tanda setuju.
"Terima kasih Ma, Pa dan Pak Ardi." Ucap Rara.