
"Chaca. Balikin kunci motor gue". Pagi hari tak akan pernah menjadi pagi yang tenang dikeluarga Harun al-Rasyid.
"Sini loe kalau bisa kejar Chaca". Terdengar suara derap kaki berkejaran dari tangga. Seorang wanita yang tak lagi muda namun masih tampak begitu cantiknya hanya bisa menghela nafasnya saja melihat kelakuan kedua makhluk tuhan yang indah.
"Balikin. Gue udah mau telat Cacha marica". Mereka masih saling mengejar mengelilingi meja makan.
"Gak mau. Ini tuh motor Chaca. Kita udah tukaran ya bang. Gak boleh curang Juki". Mereka terus saja berlarian. Bahkan tak menghiraukan suara dari sang mama.
"Abang, adek berhenti dong. Pusing mama lihatnya". Karena lelah memperingatkan kedua anaknya, wanita paruh baya itu memilih duduk dan memperhatikan.
"Abang tuh mah ngejar terus". Chaca berusaha mencari pembenaran. Dan Dzaky sang Abang juga tak mau kalah.
"Enak aja. Loe dek yang duluan. Ayo balikin kuncinya. Loe sekolah pake mobil aja". Mereka akhirnya berhenti setelah mendengar suara bariton yang baru saja ikut bergabung dengan mereka.
"Abang, adek. Berhenti. Kalau masih berebut, semua papa ambil. Kalian naik angkot saja ke kampus dan sekolah". Keduanya berhenti dan sama-sama mencebik.
"Ayo sarapan dulu. Nanti kesiangan". Titah sang pemimpin mampu membuat keduanya patuh dan berjalan menuju meja makan.
Melihat kedua anak kesayangan mereka dengan wajah cemberut, membuat kedua orangtuanya terkikik. Mereka semua sudah siap untuk menyantap hidangan pagi ini.
"Kalian itu kalau pagi gak bikin gaduh gak bisa apa. Pusing kepala mama lihat tingkah kalian". Dua orang yang mendapat teguran hanya bisa menunduk dan menyuap makanan mereka.
"Abang, udah mau lulus kuliah, masih saja suka berantem sama adek". Sang adek yang merasa dibela menjulurkan lidahnya menghadap abangnya.
"Adek pun sama. Jangan suka gangguin abangnya. Kamu itu cewek loh dek. Udah dibeliin mobil sama papa, sukanya naik motor". Abangnya pun membalas menjulurkan lidah kearah adeknya.
Mendengar sang istri tercinta mengomel, dia tersenyum bahagia. Itu bagaikan baterai yang mendapat daya full dan siap digunakan selama satu hari. Tak ada bosannya dia mendengar ocehan sang istri.
"Mah. Adek berangkat dulu". Chaca yang sudah menyelesaikan sarapannya, segera berpamitan kepada kedua orangtuanya. Dzaky pun tak mau kalah. Dia masih ingin menggunakan motor sport yang saat ini sudah menjadi milik adiknya itu.
"Abang juga mah. Ada jam pagi". Mereka kembali berebut untuk berjabat tangan dan mencium kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Abang, jangan lupa nanti ada meeting". Pesan sang papa kepada Dzaky. Dzaky memang masih kuliah. Tetapi dia sudah belajar mengelola perusahan milik papa ya sejak kelas tiga dibangku sekolah menengah atas.
"Ayayaya kapten". Jawaban Dzaky membuat sang papa tertawa. Dihalaman depan masih juga terjadi perdebatan. Yang akhirnya dimenangkan oleh Chaca. Chaca segera melajukan si biru motor kesayangannya.
Dzaky pun juga segera menuju kampusnya. Tinggal satu tahun lagi Dzaky akan menyelesaikan kuliahnya. Dzaky memiliki sifat berlawanan dengan Marisa alias Chaca. Dzaky terkenal dingin dan cuek kepada siapa saja. Sedangkan Chaca. Gadis tomboy dan humble.
Perbedaan usia keduanya memang sangat jauh. Chaca masih baru menjadi murid putih abu. Dia baru saja menyelesaikan masa orientasinya sebagai siswa baru. Disekolah yang sama ada sahabat Chaca yang sangat setia. Mereka berteman sejak sekolah dasar. Sahabat Chaca bernama Julian. Chaca memanggil nama sahabatnya dengan sebutan Panjul.
Karena mereka sangat lengket, tak jarang banyak yang mengira mereka itu pasangan. Sosok Julian sendiri selain tampan dan cerdas, dia juga cuek. Mereka selalu kemanapun bersama. Bahkan beruntung bisa satu kelas.
Pesona Chaca sendiri juga menjadi sorotan. Dan tentunya karena Chaca kesekolah menggunakan motor bukan mobil seperti siswa lainnya. Hari pertama sekolah masih dengan perkenalan guru dan lingkungan. Nama belakang Chaca cukup mencuri perhatian. Karena Chaca memilih sekolah biasa dan bukan sekolah elit.
Istirahat pertama kali mereka dikantin sekolah. Teman Chaca dan Panjul sudah bertambah. Mereka adalah Fina, Dito dan Dita. Dito dan Dita bukanlah kembar hanya nama mereka saja yang mirip. Mereka berlima sedang berdiri didepan semua penjual makanan dikantin. Mereka masih memilih makanan apa yang akan mereka makan.
"Cha. Loe mau makan apaan". Julian merangkul pundak Cacha sambil memperhatikan daftar menu.
"Enaknya apa ya Jul. Kok menurut gue semua enak". Julian mencebik mendengar perkataan Cacha. Ketiga kawan baru mereka sudah mendapatkan makanan yang mereka mau.
Setelah mendapat makanan, mereka segera menyusul ketiga teman mereka yang sudah mencari tempat untuk duduk. Mereka segera bergabung dan menyantap makanan mereka.
"Mbak Cacha makan apa". Dita berasal dari Jawa. Dan memang usia Cacha lebih tua dua bulan dari Cacha.
"Maunya makan semua dit. Tapi gak boleh sama Panjul. Eh iya jangan panggil mbak dong. Kita kan cuma beda dua bulan". Dita tersenyum mendengar protes yang keluar dari mulut Cacha.
"Gak bisa mbak. Kalau kata ibu saya. Gak elok. Walaupun cuma dua bulan, tetap saja mbak Cacha lebih tua dari Dita". Suara medog Dita membuat Panjul tertawa. Dito pun ikut tertawa. Sedangkan Fina hanya diam dan tetap menyantap makanan dengan tenang.
"Iya mbak Cacha. Gak elok. Loe tuh udah tua. Nyadar napa Cha". Panjul memiliki kesempatan untuk mengolok sahabat kesayangannya itu. Cacha memasukan potongan kerupuk kedalam mulut Kajul yang tertawa lebar.
"Makan tuh kerupuk. Gak usah banyak bacot". Fani melirik sambil tersenyum tipis melihat Kajul terdiam dan melahap kerupuk itu.
Dari awal berkenalan dengan Fani, Cacha sudah paham jika dia berbeda. Dia sedikit introvert. Dia juga dingin. Wajah Fani juga cantik. Tapi tatapan matanya mematikan.
__ADS_1
Ting..Ting
Ponsel Cacha berdenging. Cacha melihat layar ponselnya tertera nama Abang tercintanya. Dengan malas Cacha membukanya. Jika tidak Dzaky akan terus menerornya.
Juki
Woy kampret. Loe bawa dompet gue
Buka hape loe dodol
Buang aja kalau punya hape gak guna
Buruan jawab koneng
Sebelum membalas pesan dari Abangnya, Cacha kembali ke kelas dan diikuti oleh keempat temannya. Terdengar suara ******* malas dari bibir Cacha.
"Kenapa Cha". Dito melihat wajah Cacha yang malas membuatnya penasaran. Sedangkan Panjul sudah paham dan hanya tersenyum saja.
"Biasa si Juki ngeganggu hidup gue". Ponsel Cacha kembali berdenging. Bahkan berkali-kali suara tanda panggilan masuk terdengar namun diabaikan oleh Cacha.
Karena hanya Panjul yang paham dengan maksud Cacha, ketiga teman Cacha menoleh kearah Panjul. Panjul paham maksud mereka dan menjawab singkat.
"Abangnya". Ketiga temannya hanya ber'o' ria menjawab Panjul.
Sesampainya dikelas, Cacha mengecek isi tasnya. Dan benar saja dompet Dzaky ada di dalam tas Cacha. Karena dua hari yang lalu saat satu keluarga mereka berjalan-jalan, Dzaky menitipkan dompetnya didalam tas Cacha.
Send picture
Makanya jangan pikun
Cacha mengirim foto dompet Dzaky dan membalas pesannya. Tak lama Dzaky mengirim pesan agar Cacha mengantarkan dompetnya ke kantor karena Dzaky ada meeting diluar kantor dan berlawanan arah dengan sekolah Cacha.
__ADS_1
"Manusia teribet seantero mars". Gerutu Cacha setelah mendapat pesan balasan dari Dzaky.