Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 64


__ADS_3

"Sayang. Kalian masih muda. Mama dan papa juga tidak berharap segera memiliki cucu secepatnya. Nikmati dulu. Pernikahan kalian juga belum lama sayang". Mama Adina ikut menangis. Chaca tidak mengatakan apapun mengenai perceraiannya dengan Kalandra. Mama Adina mengetahui alasan perpisahan mereka setelah tanpa sengaja papa Gerald menemukan salinan surat dari pengadilan.


"Mah, pah. Bukan hanya Chaca yang salah disini. Alan juga salah mah. Alan yang tidak bisa membuat nyaman Chaca". Mama Adina menatap tajam putranya.


"Jelas. Kamu yang tidak becus sebagai suami. Kenapa kamu memberikan beban yang berat untuk Chaca. Bagi kami, yang penting adalah kenyamanan dan kebahagiaan kalian. Masalah keturunan itu urusan sang pencipta. Cukup kalian dengan ikhlas semua akan ada waktunya". Tak hanya Chaca dan mama Adina yang menangis. Kalandra pun ikut menangis mendengar perkataan mama Adina.


"Seandainya mama tau apa alasan sesungguhnya. Apakah mama masih bisa menyayangi Chaca seperti ini. Maafkan kami mah. Karena kembali membuat luka". Monolog Chaca dalam hatinya.


"Maafkan Alan mah. Lagi dan lagi membuat mama menangis. Lagi dan lagi membohongi mama". Kalandra pun melakukan hal yang sama seperti Chaca.


Apartemen Chaca dipenuhi isak tangis. Setelah beberapa kali Chaca membatalkan janji bertemu dengan mantan mertuanya, pagi ini akhirnya mereka dipertemukan. Mama Adina sengaja datang tanpa memberitahu Chaca sebelumnya. Karena masih pagi, Chaca masih berada di apartemen. Chaca tak bisa lagi menghindar.


"Sekarang semua sudah terjadi mah. Kita hanya bisa mendoakan kebahagian mereka masing-masing. Walaupun papa juga kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Ini jalan yang mereka ambil mah. Papa berharap disaat kalian kembali menemukan jodoh. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi". Papa Gerald tidak memihak siapapun. Karena memang tidak akan ada habisnya jika saling menyalahkan.


"Cha, jangan pernah memutuskan hubungan kita. Mama tetap mama kamu sayang. Kamu adalah putri mama dan papa". Chaca hanya bisa mengangguk saja. Dadanya sangat sesak. Dia tak bisa menghentikan air matanya.


Setelah adegan memilukan, kedua orangtua Kalandra mengajak Chaca untuk pergi berlibur bersama. Mama Adina terus memaksa Chaca. Dan pada akhirnya Chaca pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan mama Adina. Karena Chaca sangat menyayanginya.


Mereka pergi berlibur bersama. Bak keluarga harmonis, Chaca dan Kalandra tak hentinya bersenda gurau. Begitu juga kedua orangtuanya. Mereka menghabiskan waktu ditepi pantai. Bermain air dan pasir. Saling mengejar satu sama lain.


"Terimakasih Cha. Kamu selalu bisa membuat mama bahagia". Kalandra dan Chaca sedang duduk dibawah pohon melihat kedua orangtuanya sedang asyik bermain.


"Mereka juga orangtua Chaca om. Jadi om gak perlu berterimakasih. Dan ijinkan Chaca untuk tetap menganggap mereka orangtua Chaca sekalipun nantinya om sudah menikah kembali dengan oranglain". Kalandra memiringkan wajahnya. Hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan terakhir Chaca.

__ADS_1


"Saya tidak akan melarang Cha. Karena mama sangat sayang sama kamu. Dan karena kamulah mama sembuh Cha". Chaca menoleh mereka saling melemparkan senyuman.


"Oya om. Untuk sementara jangan sampai Dzaky dan keluarga Chaca tau tentang perpisahan kita. Papa Chaca masih dalam proses penyembuhan. Chaca gak mau membuat kondisi papa drop. Dan mama semakin bertambah beban pikirannya". Chaca menatap lurus kedepan. Melihat kedua mertuanya sedang bermain air laut dengan riang.


"Iya Cha. Saya akan diam saja. Saya juga tidak mau papa Rasyid semakin sakit". Mereka duduk hingga senja datang menghampiri. Menatap indahnya sunset ditepi pantai. Begitu indah dan romantis.


Selepas bermain air laut, mereka pergi untuk makan malam. Malam ini resto seafood menjadi pilihan mereka. Setelah mendapatkan temoat duduk, sambil menunggu pesanan jadi, mereka saling bercerita.


"Mama kangen banget masakan Chaca. Kapan ya bisa merasakan masakan putri mama lagi". Mama Adina menggenggam tangan Chaca yang duduk didepannya.


"Mama disini lama tidak". Mama Adina tersenyum dan sedikit menggeleng mendengar pertanyaan Chaca.


"Dua hari lagi mama dan papa harus kembali sayang. Terlalu lama meninggalkan pekerjaan, bisa-bisa mama tidur cuma sama guling Cha". Kalandra dan papa Gerald tertawa mendengar jawaban mama Adina.


"Kencan sama istri keduanya sampai bobok bareng. Tuh laptop kesayangannya". Lagi-lagi suara tawa menambah kehangatan dan keceriaan keluarga itu.


"Ya sudah. Besok sebelum mama sama papa pulang Chaca masakin. Mama mau apa". Wajah mama Adina tampak sangat berbinar.


"Apapun itu pasti enak kalau Chaca yang masak". Chaca mengangguk dan tersenyum malu.


Pesanan mereka datang. Mereka segera melahap makanan itu. Karena perut mereka sudah bernyanyi sejak tadi. Efek terlalu bahagia melupakan nyanyian para cacing di perut.


Tak jauh dari meja Chaca, ada sepasang mata menatapnya. Chaca tidak mengetahui hal itu. Karena dia duduk membelakangi orang tersebut.

__ADS_1


"Loe lihat apa sih Jo sampai gak kedip gitu". Joan, orang itu yang terus menatap Chaca sejak datang.


"Gapapa kok. Kalian masih mau makan lagi gak". Joan sedang hang out bersama teman-teman lainnya.


"Udah kenyang kita Jo. Clubbing yuk. Mumpung masih sore". Ajak salah satu teman Joan. Mereka teman Joan diluar kampus.


"Boleh. Kita cabut sekarang". Ajak salah satu teman Joan lainnya. Joan masih diam tak merespon. Matanya terus menatap Chaca yang bahkan kini sedang disuapi oleh Kalandra.


"Jo. Joan. Loe ngelamun ya". Salah satu teman wanita Joan menggoyang-goyangkan lengan Joan.


"Eh gak kok. Kalian mau nambah lagi". Mereka semua menatap Joan aneh.


"Siapa yang mau nambah Jo. Kita mau clubbing. Loe jadi ikut kan". Joan menatap mereka bingung. Karena memang sedari tadi konsentrasinya tertuju pada Chaca.


"Hmmm. Gimana ya". Joan ragu ingin ikut atau tidak pergi bersenang-senang bersama teman-temannya itu.


"Ayolah Jo. Udah lama juga kita gak clubbing bareng. Loe selalu sibuk ngurusin cewek loe yang belum tentu juga dia mau sama loe". Joa kembali menoleh kearah Chaca. Ada rasa sakit saat melihat Chaca begitu mesra kepada Kalandra.


"Oke. Malam ini kita party". Joan berdiri dan segera pergi meninggalkan resto tersebut. Teman-teman Joan mengikuti langkah Joan. Joan keluar melalui pintu yang lain agar tidak terlihat oleh Chaca.


Pikiran Joan sangat kacau. Dia berfikir jika Chaca sedang menipunya. Hatinya sangat sakit. Walaupun sebenarnya Chaca tidak pernah memberikan harapan apapun kepada Joan. Joan menghabiskan malam dengan minuman memabukkan. Berjoget sepanjang malam. Dan selalu meneriaki nama Chaca.


Berbeda dengan Joan. Chaca sudah kembali ke apartemen. Hari ini dia sangat merasa bahagia. Dia berfikir, mungkin karena akhir-akhir ini dia tidak pernah pergi berlibur, membuat dirinya jenuh. Dan sekarang seperti baterai yang telah diisi penuh, Chaca bertambah semangat. Dan penuh senyuman di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2