
"Bagaimana kabar papa kamu. Apakah sudah sembuh". Chaca terkejut dengan pertanyaan dari Pak Lee.
"Maaf apa tuan mengenal papa saya". Chaca baru pertama kali bertemu dengan pak Lee. Pak Lee tersenyum mendengar pertanyaan Chaca. Pak Lee sadar jika ini pertemuan pertama mereka.
"Ah saya lupa. Saya sahabat papa kamu. Dulu kita pernah bertemu saat kamu masih kecil. Dan kebetulan anak saya yang merawat papa kamu nak. Dan jangan panggil saya tuan. Panggil paman saja seperti saat kamu masih kecil dulu". Chaca yang sudah duduk semakin ingin tahu mengenai papanya.
"Baiklah paman. Apa yang sebenarnya papa alami paman. Mengapa paman mengatakan jika anak paman merawat papa Chaca". Pak Lee mengerutkan dahinya mendengar Chaca berkata demikian.
"Jadi kamu belum tau nak, jika papa kamu sedang sakit dan masih menjalani perawatan". Wajah Chaca menegang. Kalandra yang menyadari itu segera menggenggam tangannya agar tenang.
"Katakan ada apa paman. Chaca ingin tau paman". Chaca kembali bertanya mengenai kondisi papanya, karena masih belum mendapatkan jawaban.
"Rasyid sedang terkena radang usus. Dan masih proses penyembuhan nak. Kebetulan putra paman adalah dokter yang menangani papamu. Apa selama ini papamu tidak pernah bercerita mengenai sakitnya nak. Dan setau paman sudah satu Minggu ini Rasyid dirawat". Chaca menggeleng dan tak terasa matanya mulai sembab.
"Paman, bisakah paman memberitahu Chaca dimana papa dirawat”. Pak Lee memberikan informasi dimana papa Chaca dirawat. Bahkan memberikan nomor ponsel putranya agar Chaca mudah mengetahui perkembangan kesehatan papanya.
Pak Lee berpamitan setelah memberikan informasi kepada Chaca. Pak Lee masih ada pekerjaan lainnya. Chaca masih duduk termenung memegang secarik kertas bertuliskan nomor ponsel dan nama rumah sakit dimana papa Chaca dirawat.
"Cha. Are you oke". Kalandra tau Chaca sedang tidak baik-baik saja. Kalandra ingin memberikan sedikit semangat agar Chaca bisa kuat mengahadapi cobaan ini.
__ADS_1
"Om, kita selesaikan urusan kita ini. Dan Chaca ingin menemui papa segera". Kalandra menggenggam tangan Chaca. Walaupun dalam hati Kalandra masih belum ada rasa untuk Chaca, tapi Kalandra tetap ingin memberikan rasa nyaman dan aman kepada Chaca sebagai adik sahabatnya.
"Cha, kita sekarang berangkat menemui papa Rasyid. Urusan kita bisa kita tunda dulu. Sekarang kita kembali ke hotel dan kita meminta ijin kepada mama dulu". Kalandra menggandeng tangan Chaca dan mereka segera kembali ke hotel. Sebelumnya Chaca menghubungi butik dimana dia akan memesan dan mencoba gaun pengantin. Chaca mengirimkan sejumlah uang muka untuk beberapa gaun yang ingin Chaca coba agar tidak dijual kepada orang lain.
Sepanjang jalan Chaca hanya bisa menangis. Dia merasa bersalah karena tidak pernah mengetahui kondisi papanya. Cinta pertamanya itu tidak pernah menampakkan rasa sakitnya didepan anak-anaknya. Chaca tidak pernah curiga jika kedua orangtuanya selalu tinggal lebih lama diluar negeri. Karena Chaca berfikir mereka sedang bekerja.
Setibanya dihotel, Kalandra segera mengatakan kepada mama Adina mengenai kondisi papa Rasyid. Mama Adina cukup terkejut dan ingin ikut bersama Chaca dan Kalandra. Kalandra melarang mama Adina ikut mengingat kondisi kesehatan mama Adina yang belum stabil. Kalandra takut nanti mama Adina akan kelelahan.
"Mama akan Alan antar ke tempat papa dulu, baru nanti Alan akan menyusul Chaca". Karena tujuan mama Adina dan Chaca berbeda, Kalandra memutuskan untuk mengantar mama Adina terlebih dahulu dan akan menyusul Chaca setelah mengantarkan mama Adina.
"Alan, kamu temani Chaca. Mama akan menyusul papa sendiri. Kamu jangan khawatir. Mama bisa menjaga diri mama. Jarak kota ini ketempat papa, tidaklah jauh. Jadi jangan takut". Mama Adina mencoba menenangkan Kalandra. Mama Adina sangat tau bagaimana khawatirnya Kalandra melepaskan mama Adina pergi seorang diri.
"Alan, tolong dengarkan mama. Coba kamu lihat Chaca saat ini. Apa kamu tega melihat Chaca pergi seorang diri dengan kondisi seperti itu". Kalandra menoleh kearah Chaca yang hanya diam melamun. Bahkan wajah cerianya tak lagi tampak.
"Mama masih bisa pergi sendiri nak. Tapi Chaca tidak. Dia butuh kamu. Dua perlu didampingi. Pergilah bersama Chaca". Mama Adina mengelus pundak Kalandra yang masih menatap Chaca.
"Baik mah. Tapi mama harus janji untuk baik-baik saja". Mama Adina mengangguk. Mereka pun bersiap. Sebelumnya Kalandra sudah memesan tiket pesawat untuk mereka.
Mama Adina pergi terlebih dahulu, karena memang mendapatkan jadwal tiket pesawat lebih cepat satu jam daripada Kalandra dan Chaca. Mereka memilih menunggu dibandara bersama-sama. Chaca masih sama. Tatapannya kosong. Bahkan saat mama Adina berpamitan Chaca hanya melihat sekilas saja tanpa ekspresi apapun.
__ADS_1
Usai mama Adina pergi, Kalandra terus menjaga Chaca. Sesekali mengajak Chaca berbicara walaupun tidak ada respon. Kalandra sudah mengabari Dzaky tentang kepergiannya bersama Chaca. Dzaky memberitahu Kalandra jika dia sudah lama mengetahui kondisi kesehatan papanya. Namun atas beberapa pertimbangan, mereka memilih merahasiakan dari Chaca.
"Cha, ayo. Pesawat kita segera take off". Mendengar panggilan dari pesawat mereka, Kalandra segera menuntun Chaca menuju pesawat.
Setelah menempuh perjalan udara selama enam jam, Chaca dan Kalandra tiba dinegara tempat papa Rasyid dirawat. Kalandra segera mencari taksi. Dan sebelumnya dia sudah meminta alamat rumah sakit yang dipegang oleh Chaca.
"Om. Kenapa papa dan mama merahasiakan dari Chaca. Apa Chaca tidak berhak tau mengenai kondisi papa". Setelah beberapa jam akhirnya Chaca mau berbicara dengan Kalandra.
"Cha, mereka melakukan itu karena takut Chaca akan sedih. Mereka sangat menyayangi Chaca. Karena itu mereka merahasiakan dari Chaca. Apalagi Chaca masih sekolah. Mereka mau Chaca fokus dalam belajar". Kalandra mencoba menasehati Chaca agar dia tidak berfikir negatif akan keputusan keluarganya.
Chaca kembali terdiam. Setidaknya Chaca sudah lebih baik dari sebelumnya. Mereka sudah sampai dirumah sakit yang tertera dialamat tadi. Berkali-kali Kalandra melihat Chaca menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah masuk kedalam rumah sakit. Kalandra mendekati Chaca untuk menenangkan.
"Ayo. Yakinlah papa Rasyid baik-baik saja". Chaca menerima uluran tangan Kalandra. Genggaman tangan Kalandra sedikit memberikan ketenangan untuk Chaca.
Mereka melangkah dan menanyakan ruangan dimana papa Rasyid dirawat. Seorang perawat mengarahkan Kalandra menuju ruangan papa Rasyid. Kalandra terkejut karena tiba-tiba Chaca meremas kuat telapak tangan Kalandra.
"Cha jangan takut. Semua akan baik-baik saja". Chaca diam tak merespon. Kalandra mengusap telapak tangan Chaca menggunakan tangannya yang lain.
Kalandra kembali menggandeng Chaca menuju kamar rawat papa Rasyid. Mereka sudah berada dilorong ruang rawat papa Rasyid. Chaca dan Kalandra melihat mama Manda sedang duduk termenung didepan ruang rawat papa Rasyid seorang diri. Chaca berdiri dihadapan mama Manda dan membuat terkejut.
__ADS_1
"Chaca...