Hi Om I'M Yours

Hi Om I'M Yours
Bab 70


__ADS_3

"Jadi selama ini Chaca masih gadis dok". Mama Adina terkejut mendengar penjelasan dari dokter yang sedang memeriksa Chaca.


"Benar Bu. Dan itu penyebab utama nona Marrisa tidak hamil sampai saat ini". Kembali dokter menjelaskan kepada Mama Adina.


"Lalu kenapa dalam surat kesehatan putri saya tertulis jika putri saya tidak dapat memiliki anak karena adanya kelainan dok". Mama Adina menunjukkan surat kesehatan yang dia temukan bersama berkas perceraian Chaca dan Kalandra.


"Ada dua kemungkinan nyonya. Yang pertama dokter tersebut salah dalan mendiagnosis dan kemungkinan kedua faktor kesengajaan. Pasien sengaja meminta dokter untuk memalsukan datanya". Mama Adina cukup terkejut dengan penjelasan dokter. Mama Adina berfikir. Kesalahan seperti apa yang membuat Chaca harus membohongi semuanya.


"Baik dok. Terimakasih atas waktu dan penjelasannya". Dokter tersebut segera pamit kepada Mama Adina.


Mama Adina menemukan Chaca tergelatak diruang tamu saat Mama Adina berkunjung ke apartemen Chaca. Mama Adina memanggil taksi untuk membawa Chaca kerumah sakit. Karena merasa penasaran, Mama Adina juga menanyakan mengenai hasil pemeriksaan Chaca sebagai bukti perceraian. Bahkan Mama Adina juga meminta dokter memeriksa Chaca secara mendalam juga mengundang dokter kandungan. Maksud Mama Adina, awalnya hanya ingin mengetahui apa penyakit Chaca dan bagaimana solusi menyembuhkannya. Bukan solusi yang mama Adina dapat, melainkan fakta lain yang cukup mengejutkan.


"Sayang kenapa kalian melakukan ini". Chaca masih belum tersadar. Mama Adina sudah menghubungi Kalandra.


"Sepertinya mama punya rencana". Mama Adina tersenyum tipis. Tak berselang lama Kalandra datang. Kalandra juga membawakan makanan untuk mamanya.


"Gimana kondisi Chaca mah". Kalandra melihat kondisi Chaca yang masih belum sadar.


"Chaca kelelahan. Mama akan menginap disini menjaga Chaca". Kalandra mengangguk. Chaca perlahan tersadar.


Chaca melihat kearah Mama Adina yang tersenyum. Chaca yang masih lemas membalas senyuman Mama Adina. Kalandra berada diruang tamu sedang mengerjakan pekerjaannya. Dia membawa pulang semua pekerjaannya setelah mendapatkan kabar Chaca sakit.


"Mama. Mama disini". Mama Adina menggenggam tangan Chaca.


"Mama sengaja datang tadi. Dan melihat anak cantik mama ini pingsan. Jangan memaksakan tubuh kamu sayang". Mama mengusap lembut surai panjang Chaca.


"Tidak mah. Jangan khawatir". Mama akan berdecak kesal dengan jawaban Chaca.


"Tidak apa-apa bagaimana. Dokter bilang kamu terlalu memforsir tubuh kamu. Apa yang kamu kejar sayang". Chaca memang sudah bekerja di perusahaan milik papanya yang kebetulan membuka cabang baru dikota tersebut.

__ADS_1


"Hehe. Chaca masih banyak belajar dan menyesuaikan mah. Apalagi ini kali pertama Chaca memegang tanggungjawab besar". Chaca berusaha menjelaskan kepada Mama Adina agar tidak khawatir.


"Masih ada Alan yang siap membantu kamu sayang. Jangan difikirkan sendiri. Papa kamu juga mengatakan seperti itu kan. Minta bantuan Kalandra jika kamu kesulitan". Chaca mengangguk dan tersenyum. Chaca memang selalu berusaha sendiri dan sekalipun dia belum pernah meminta bantuan Kalandra.


"Iya mah". Mereka saling melemparkan senyuman. Setelah menengok Chaca, Kalandra segera meninggalkan rumah sakit karena ada urusan mendadak. Menurut dokter kondisi Chaca sudah membaik dan bisa pulang malam itu juga. Mama Adina ikut menginap dia apartemen Chaca.


Mama Adina merawat Chaca dengan sepenuh hati. Chaca sudah melarang Mama Adina, namun semua sia-sia. Chaca juga sengaja tidak memberitahukan keluarganya saat dia sedang sakit seperti ini.


"Mah. Sudah malam. Mama istirahat saja". Mama Adina masih sibuk membuat beberapa camilan.


"Sebentar lagi selesai sayang. Kamu istirahat dulu ya sayang". Chaca duduk didepan meja makan menunggu Mama Adina yang masih memanggang beberapa cookies.


"Mama buat banyak banget itu. Siapa yang akan menghabiskan". Chaca terheran melihat beberapa toples sudah terisi penuh dengan cookies dan camilan lainnya.


"Ya kami dong sayang. Kamu bisa bawa ke kantor. Jangan sampai kamu terlalu fokus dengan pekerjaan terus lupa makan. Setidaknya sudah ada camilan untuk mengganjal. Dan kalau sudah habis, Mama akan buatkan lagi". Mama Adina penuh semangat menjawab dan senyuman.


"Baiklah mama sayang". Mereka tertawa bersama. Karena sudah larut, mereka segera beristirahat.


"Mel". Kalandra terkejut melihat Mela duduk di sofa menyilangkan kaki.


"Hay baby. Long time no see". Mela berdiri hendak memeluk Kalandra. Kalandra segera menyingkir.


"Ada apa Mel". Tanya Kalandra tanpa basa-basi. Kalandra duduk dibelakang meja kerjanya.


"Ck. Kamu tidak merindukan aku baby". Kalandra tidak menanggapi apapun.


"Jika tidak ada hal penting, anda bisa keluar". Sejak kejadian terakhir, Kalandra sudah benar-benar berniat menjauhi Mela.


"Alan. Ada apa sama kamu. Kalau memang aku salah, aku minta maaf. Tolong jangan seperti ini". Mela masih berusaha membujuk Kalandra.

__ADS_1


"Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja saja Mel. Dan itu sudah usai". Kalandra langsung menjelaskan seperti apa mereka saat ini.


"Apa kamu masih tidak mau melupakan mantan istri kamu itu". Mela mulai kesal dengan sikap Kalandra.


"Itu bukan urusan kamu. Silahkan keluar". Mela tidak keluar, melainkan berjalan mendekati Kalandra.


"Harus seperti apa aku agar kamu mau melihatku". Kalandra juga mulai kesal. Kalandra menatap tajam Mela.


"Saya masih menghormati anda sebagai rekan kerja. Jadi, silahkan tinggalkan ruangan saya sebelum saya melakukan hal yang lebih kepada anda. Dan satu lagi. Jangan pernah anda berani mengusik kehidupan mantan istri saya. Jika itu terjadi, saya sendiri yang akan mendatangi anda". Kalandra sangat paham seperti apa Mela. Yang akan berbuat nekad untuk mendapatkan inginnya.


"Kamu menyebalkan Alan". Mela segera keluar dari ruangan Kalandra dengan sangat marah. Kalandra menghela nafasnya untuk menormalkan emosi dalam dirinya. Dia kembali fokus bekerja.


Usai dengan segala urusan pekerjaan, Kalandra bergegas meninggalkan kantor. Dia juga memberikan pesan kepada asistennya untuk tidak menerima tamu. Selama beberapa hari ini Kalandra juga tidak akan meeting diluar kantor. Kalandra masih belum bisa tenang selama Chaca sakit.


Kalandra menyusul sang mama ke apartemen Chaca. Membawakan semua makanan kesukaan Chaca dan mama Adina. Setibanya di apartemen, Kalandra melihat Chaca yang duduk menonton drama. Dengan wajah yang masih pucat, Kalandra mendekati Chaca.


"Hai. Gimana hari ini". Kalandra duduk disamping Chaca.


"Sudah lebih baik. Om gak ngantor". Chaca melihat kearah Kalandra sesaat dan kembali fokus melihat kearah layar televisi.


"Sudah. Dan sudah pulang juga. Kamu sudah makan belum Cha". Tanya Kalandra lembut. Mama Adina sengaja menjauh untuk melihat interaksi mereka.


"Sudah tadi. Emang om bawa apa". Chaca melihat bungkusan yang dibawa Kalandra untuk dirinya.


"Buka saja". Kalandra mendekatkan bungkusan itu kepada Chaca. Chaca tampak berbinar melihat semua makanan favoritnya.


"Wah. Makasih om. Om emang paling tau maunya Chaca". Tanpa sadar Chaca memeluk Kalandra dan membuat mama Adina bahagia.


"Ya sudah ayo dimakan mumpung masih hangat". Chaca mengangguk. Kalandra beranjak ke dapur hendak menyiapkan makanan Chaca, namun dicegah oleh mama Adina.

__ADS_1


"Biar mama saja. Kamu temani saja Chaca". Kalandra tersenyum dan kembali menemani Chaca.


"Awal yang baik. Tunggu kejutan mama untuk kalian sayang"


__ADS_2