
Hari ini teman-teman Dzaky datang kerumah untuk berkumpul. Setelah sekian lama mereka terpisah karena pekerjaan, kini mereka bisa berkumpul bersama melepas kerinduan. Kediaman orangtua Dzaky adalah tempat terbaik mereka untuk nongkrong. Semua personil sudah lengkap. Bahkan yang sudah memiliki pasangan, membawa pasangannya agar semakin akrab.
"Zak. Rumah loe sepi amat kayak gak ada penghuninya". Sultan mengedarkan pandangannya ketika masuk kerumah Dzaky yang tampak sepi.
"Lah gue apaan nyet. Loe kira gue jin". Kesal Dzaky yang membuat Sultan tertawa.
"Maksud gue. Keluarga loe kemana kok sepi". Sultan menjelaskan maksud perkataannya. Mereka berjalan menuju ruang tengah tempat semua sedang berkumpul.
"Orangtua gue balik ke Singapura. Adek gue biasa. Lagi hibernasi dikamar". Sultan mengangguk paham. Sultan menyapa teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai.
"Lama amat loe Tan. Ngapain aja". Sultan berdecak kesal setiap Damar memanggil nama belakangnya saja.
"Tan, Tan. Loe kira gue setan apa". Teman-temannya hanya tertawa mendengar keluhan Sultan.
"Lah kan emang nama loe. Gimana sih". Sultan hanya melengos saja menanggapi perkataan Damar.
Mereka asyik bercanda sambil bercerita apa saja selama mereka terpisah lama. Apalagi Kalandra yang sejak lulus jarang ada kabarnya. Sedangkan si putri tidur baru terbangun dari mimpinya. Chaca segera mencuci muka dan mengganti piamanya. Dia mendengar suara riuh dari lantai bawah, dan teringat pesan Dzaky jika teman-temannya akan datang. Dzaky berpesan agar Chaca memakai pakaian tertutup.
"Ramai banget. Dah kayak kumpulan bapak-bapak PKK aja". Gumam Chaca sambil menyisir rambut sebelum turun karena dia merasa lapar. Dan pastinya tidak ada makanan. Karena Dzaky tidak akan mungkin memasak.
Suara langkah Chaca membuat semua pandangan teralih. Damar dan Sultan dengan ramah menyapa Chaca yang berjalan santai menuju dapur.
"Pagi Chaca cantik. Seger banget baru bangun tidur". Sapa Damar yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Dzaky.
"Gak usah godain adek gue loe". Chaca hanya tersenyum tipis dan terus berjalan. Kalandra pun ikut menatap Chaca diam-diam.
Didapur, Chaca mulai membuka almari pendingin untuk melihat bahan makanan. Dan ternyata sang mama sudah mengisi lengkap isi lemari pendingin tersebut.
"Masak apa ya". Chaca diam termenung didepan almari pendingin sambil memikirkan apa yang akan dimasaknya.
"Ah lupa. Gue tanya Marjuki aja. Mau makan apa dia". Chaca berjalan santai menuju ruang tengah menghampiri sang Abang dan kawan-kawannya.
__ADS_1
"Marjuki, gue lapar. Loe mau makan apa. Sekalian gue masak". Teman-teman Dzaky menahan tawanya mendengar Chaca memanggil nama Dzaky.
"Ck dasar Merica. Serah deh. Yang penting enak". Tanpa menjawab Chaca berbalik kembali ke dapur. Hingga suara seseorang membuatnya kembali berbalik.
"Chaca cantik. Abang boleh request gak. Mau telur balado dong". Damar memasang wajah imutnya. Membuat teman-temannya jijik.
"Berani gaji berapa nyuruh Chaca masak. Gak sayang tuh telur cuma dua biji dibalado". Sontak Dzaky dan teman-temannya terbahak mendengar jawaban Chaca. Sedangkan Damar mendekap erat dua telur berharganya.
"Gila adek loe frontal banget Dzak. Gak sepolos yang gue kira". Damar masih terkejut dengan sikap Chaca.
"Makanya jangan asal bercanda sama dia. Dia itu susah untuk welcome sama orang baru. Tapi kalau udah kenal, dia orangnya baik kok. Penyayang juga". Dzaky berbicara sambil melihat Chaca yang berjalan menuju dapur.
Didalam perkumpulan yang menurut Chaca perkumpulan bapak-bapak PKK, memang ada dua orang wanita. Dia kekasih Leo dan Sultan. Leo membawa kekasih yang sebenarnya bukan wanita yang akan dijadikan istri.
"Dzak. Boleh gak gue bantu adik loe masak. Masa kita disini perempuan gak ada bantuin Chaca masak sendiri". Intan kekasih Leo ingin mencoba dekat dengan Chaca.
"Mendingan jangan deh. Daripada kita semua kelaparan. Kalau mau kenal tuh beruang kutub, pelan-pelan. Dia susah anaknya. Maklum nurun sifat bokap". Intan dan Sara kekasih Sultan mengangguk paham. Akhirnya mereka melanjutkan obrolan.
Kalandra ijin untuk ke toilet. Karena toilet itu didekat dapur, maka Kalandra bisa melihat kepiawaian Chaca dalam memasak. Bahkan sudah ada beberapa jenis masakan terhidang di piring dan belum Chaca tata di meja makan.
Usai dari toilet, Kalandra mencoba mendekati Chaca. Karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu dan berbincang, Kalandra yakin jika Chaca tidak akan merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Ehem. Butuh bantuan". Chaca menoleh kearah suara sesaat. Dan kembali kepada masakannya.
"Bawain ke meja makan. Kalau om gak keberatan". Jawab Chaca tanpa menatap. Kalandra.
"Siap". Kalandra dengan cekatan membantu membawa makanan yang telah siap ke meja makan. Karena meja makan dan ruang tengah tidak ada sekat, pemandangan Kalandra menata makanan menjadi pusat perhatian teman-temannya.
"Sepertinya ada sesuatu yang gak kita ketahui deh. Lihat noh". Leo menunjuk Kalandra dengan dagunya.
Dzaky pun terkejut melihat sahabatnya bisa membantu sang adik. Karena sepengatahuan Dzaky, Kalandra baru bertemu dengan Chaca.
__ADS_1
"Sejak kapan mereka dekat". Gumam Dzaky pelan. Mereka semua diam terpaku melihat Kalandra membantu Chaca dengan cekatan.
Kalandra kembali ke dapur saat semua makanan sudah dia tata rapi. Chaca masih menyiapkan beberapa hidangan kecil. Bahkan kue yang dipanggangnya baru saja matang.
"Wah semua masakan kamu begitu harum. Jadi lapar saya. Bolehkan saya cicipi". Bunyi perut Kalandra membuat Chaca tertawa hingga terdengar sang Abang di ruang tengah.
"Hahaha. Om lapar. Tuh cacing udah demo om". Kalandra tersenyum malu.
"Itu tandanya masakan kamu bisa membuat cacing saya bangun". Ingat Chaca bukan gadis polos.
"Cacing yang mana om". Chaca sibuk menyiapkan cemilan untuk tamu abangnya. Dan entah ada angin apa. Kalandra membantu Chaca membersihkan peralatan masak yang kotor.
"Maunya yang mana. Kamu masih kecil otaknya udah konslet melulu". Kalandra tertawa pelan. Kedua insan itu tidak tahu jika sedang menjadi pusat perhatian. Karena sejak suara tawa Chaca terdengar, mereka sangat penasaran dan mendekat kearah dapur.
"Kenapa kita seperti lihat sepasang suami istri lagi masak bareng ya". Gumam Damar yang langsung mendapatkan pukulan dilengan oleh Dzaky.
Dzaky sengaja jalan perlahan memasuki dapur. Sebelumnya dia meminta teman-teman lainnya kembali keruang tengah. Karena Dzaky tak mau membuat mood Chaca berantakan.
"Ehem. Ada yang kalian sembunyikan dari gue". Chaca yang sempat terkejut mendengar suara Dzaky, tak begitu peduli dan kembali menata makanan.
"Apasih. Gak ada apa-apa kali Dzak". Kilah Kalandra yang masih sibuk mencuci peralatan dapur yang kotor.
"Kalandra Aditya. Sejak kapan anda peduli dengan orang lain yang baru anda kenal. Bahkan mau mencuci perlengkapan dapur seperti sekarang". Kalandra terdiam sesaat dari aktivitasnya.
"Apa salahnya membantu. Chaca juga sudah capek masak begitu banyak hidangan. Setidaknya gue bisa makan enak tanpa harus gratisan". Senyuman disudut bibir Dzaky meremehkan jawaban Kalandra.
"Apapun itu, jangan sampai sakitin hati adik gue". Chaca yang sedari tadi diam, akhirnya menjawab.
"Jangan berekspektasi berlebihan. Jika realitanya hanya omong kosong. Lagian siapa juga yang mau sama om-om". Chaca berjalan membawa nampan berisi makanan untuk dirinya sendiri yang sudah dia sisihkan.
"Bawa tuh kue buat teman-teman loe. Jangan menjadi tuan rumah yang jahat". Chaca pergi meninggalkan dapur sambil membawa makanannya. Dengan santainya dia melewati teman-teman abangnya tanpa bersuara.
__ADS_1
"Dahlah, ayo kita makan saja. Adek gue udah nyiapin banyak". Dzaky mengajak Kalandra kembali ke meja makan. Tak lupa Dzaky memanggil teman-teman lainnya untuk makan bersama. Semua memuji masakan Chaca yang memang sangat enak. Bahkan tak ada satupun makanan tersisa diatas meja. Dzaky dan teman-temannya berkumpul hingga larut malam.
"Enak banget masakan adik loe. Idaman banget ini". Pujian dar tema-tema Dzaky hanya ditanggapi senyuman tipis dari Dzaky.